Pesantren Wujudkan Generasi Santri Pejuang

oleh
Pesantren Wujudkan Generasi Santri Pejuang
Adab Kyai dan Santri

Di Indonesia, salah satu buku penting dalam dunia Pendidikan yang menjelaskan masalah ini adalah Kitab Ādabul ‘Ālim wal-Muta’allim karya KH Hasyim Asy’ari. Judul kitab ini sama dengan judul Kitab yang ditulis oleh Imam Nawawi. Dan itu tidak aneh. Sebab, tradisi keilmuan dalam Islam memangesuai dengan pola yang pernah disampaikan Umar Ibnu Khathab ra, yaitu: “taaddabū tsumma ta’allamū!” Beradablah kalian, kemudian berilmulah kalian!

Pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan, misalnya, dikenal memiliki adab yang tinggi dalam mendidik para santrinya. Selain memberikan teladan, beliau juga tak henti-hentinya memberikan motivasi dan inspirasi dalam perjuangan. Sampai-sampai Bung Karno mengakui, orang dewasa berusia 15 tahun, beliau sudah ” menginthil Kyai Dahlan”.

Tokoh Persatuan Islam (Persis), A. Hassan pun, sangat menekankan adab guru-murid dalam pendidikannya. Ia menulis buku berjudul “Kesopanan Tinggi”, dan juga diktat berjudul “Hai Poetrakoe!” (Tahun 1946), yang dikaji dalam sebuah disertasi doktor pendidikan Islam di Universitas Ibn Khaldun Bogor.

Dalam kitab Ādabul ‘Ālim wal-Muta’allim, Kyai Hasyim Asy’ari sandi rumus: ”Orang yang tidak memiliki adab, sejatinya ia tidak bersyariat, tidak beriman, dan tidak bertauhid.” (Hasyim Asy’ari, Ādabul Ālim wal-Muta ‘allim, Jombang: Maktabah Turats Islamiy, 1415 H).

Dari judul Kitab Ādabul Ālim wal-Muta’allim , bisa dipahami, bahwa penerapan adab harus dimulai dari dunia pendidikan. Guru harus beradab; murid pun demikian! Sebab, termasuk membangun manusia mulia dan juga sebagai membangun bangsa dan peradaban mulia.

Baca juga: Hari Santri Dan Heroisme “Zaman Now”

Reformasi Pendidikan!

Sejak merdeka, Indonesia telah mengalami ‘ gonta-ganti presiden’ , ‘ gonta-ganti menteri’ dan juga ‘gonta-ganti kurikulum pendidikan’. Tapi, harus diakui, kondisi bangsa kita masih ‘seperti ini’. Berbagai macam kasus di tengah-tengah masyarakat masih menunjukkan adanya krisis dalam bidang akhlak. Bahkan, mungkin, semakin mengkhawatirkan.

Padahal, UUD 1945 (pasal 31, ayat 3) menegaskan: “Pemerintah mengusahakan dan melatih satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan kejaksaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.” Tujuan pembentukan manusia mulia itu ditegaskan lagi dalam UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan UU No 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi.

Semua tujuan pendidikan yang hebat itu tidak mungkin diraih tanpa peran guru yang hebat, yaitu guru yang beradab. Dalam Kitabnya tersebut, Kyai Hasyim Asy’ari menyebutkan jumlah adab bagi guru. Misalnya, guru harus selalu berusaha mendekatkan diri ( taqarrub ) kepada Allah, menggunakan rasa takut kepada Allah, rendah hati ( tawadhu ‘ ), khusyu’ dalam ibadah, mentaati hukum Allah, menggunakan ilmunya dengan benar, zuhud (tidak cinta dunia), selalu mensucikan jiwanya, menegakkan sunnah Rasul, dan sebagainya.

Pemerintah seyogyanya mengusahakan terciptanya guru-guru mulia semacam ini; bukan guru serakah dunia, malas ibadah dan malas mencari ilmu. Bahkan, para pemimpin bangsa mencipta yang harus menjadi contoh sebagai guru yang baik. Para pemimpin bangsa kita dulu adalah para guru. Panglima Sudirman, misalnya, adalah seorang guru dan menjadi kepala sekolah Muhammadiyah di 20 tahun. Mohammad Natsir, Pahlawan Nasional, disamping seorang negarawan, dan juga dikenal sebagai guru teladan dan menekankan peran guru-guru yang ikhlas dalam evolusi bangsa.