KH M Sulthan Abdul Hadi: Alumnus PIM Yang Ahli Kitab Kuning Dan Pintar Bahasa Inggris

oleh
KH M Sulthan Abdul Hadi: Alumnus PIM Yang Ahli Kitab Kuning

SantriNow | Allah memanggil hamba pilihannya, KH M Sulthan Abdul Hadi, Pengasuh PP. Al-Hikmah Bahrul Ulum Tambak BERAS Jombang Hari ini, Kamis, 14 Rabiul Awal 1440 H./22 November 2018.

Beliau adalah alumni PIM Kajen asal Jepara Jateng yang mewarisi jejak pemikiran gurunya KH MA Sahal Mahfudh. Selain Ahli dalam kitab Kuning, beliau juga Ahli Bahasa Inggris Dan mempunyai wawasan luas tentang keagamaan, kemasyarakatan, dan kebangsaan.

Setelah menyelesaikan studi di PIM, beliau mengajar di PIM. Setelah itu, beliau Menikah dengan Salah satu putri KH Fattah Hasyim Tambakberas Jombang, Bu Nyai Muthmainnah, adik Hj Nafisah Sahal.

Sejak berdomisili di Jombang, Kiai Sulthan karirnya melesat cepat. Selain menjadi pengasuh Pesantren, beliau menjadi Direktur Madrasah Muallimin-Muallimat Tambak Beras Jombang. Madrasah ini seperti Mathaliul Falah dalam konteks pendalaman ilmu agama (تفقه في الدين).

Madrasah Muallimin-Muallimin menjadi icon Madrasah salaf di Jombang yang mampu melahirkan kader-kader muda Islam yang mampu mendalami kitab kuning. Banyak sekali alumni madrasah ini tampil sebagai tokoh agama yang luas wawasannya Dan mendalam ilmunya, khususnya tentang kitab Kuning.

Selain menjadi Direktur Madrasah Muallimin-Muallimat, Kiai Sulthan adalah sosok orator (muballigh) ulung di podium. Berbagai undangan pengajian Dari berbagai daerah dilayani dengan baik dalam rangka menyebarkan ilmu kpd masyarakat. Pernah beliau mengisi pengajian di pondok Penulis, PP. Sunan Ampel Jombang yang terletak di samping alun-alun Jombang.

Rais Syuriyah PCNU Jombang

Ketika Penulis di Jombang tahun 1998-2004, KH Shulthon sudah menjadi Rais Syuriyah PCNU Jombang. Beliau sering menyampaikan taushiyah dan tabligh di hadapan pengurus NU Dan umat Islam.

Kepakaran beliau dalam kitab Dan wawasannya yang luas membuat substansi pemikiran beliau dicerna dengan baik oleh publik secara luas. NU harus memberikan kemanfaatan sebesar-besarnya kepada umat Dan bangsa. Kiai Sulthan berjuang supaya NU mampu memberikan kemanfaatan luas kepada umat Dan bangsa.

Aktif di Partai

Setelah lama menjadi Rais Syuriyah PCNU Jombang, Kiai Sulthan melebarkan sayap perjuangannya di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sebagai Dewan Syura. Ketika bertemu dengan Penulis, Kiai Sulthan menjelaskan, aktivitasnya di Partai dalam rangka mengkonkretkan perjuangan di tengah masyarakat.

Aktif di Partai akan terus bersinergi dengan jajaran eksekutif Dan legislatif untuk melahirkan kebijakan Dan anggaran yang berpihak kepada umat Dan bangsa. Inilah bentuk kongkretisasi perjuangan.

Aktivitas di Partai Tidak meninggalkan habitat beliau sebagai seorang Kiai dan muballigh yang aktif mengajar santri, siswa, Dan umat. Tugas Dan tanggungjawab keilmuan Dan kemasyarakatan dilakukan secara istiqamah untuk menggapai ridla Allah.

Baca juga: Pengertian Santri di Tahun Politik

Mengidolakan Kiai Sahal

Kiai Sulthan menjadi Salah satu informan utama Penulis ketika menulis Buku biografi Kiai Sahal Mahfudh. Buku ini ditulis ketika saya masih nyantri di Jombang. KH Nashir Fattah, KH Taufiq Fattah, KH Mujib Denanyar, Dan KH Sulthan adalah narasumber utama buku ini Karena mereka memahami banyak profil Kiai Sahal.

Sejak menjadi siswa di PIM, KH MA Sahal Mahfudh menjadi sosok idola Kiai Sulthan. Oleh sebab itu, Kiai Sulthan meniru jejak Kiai Sahal dengan mendalami kitab kuning secara serius, mengembangkan wawasan dengan banyak membaca Buku, Koran, Dan majalah, Dan melatih kemampuan Bahasa asing (arab-inggris) dengan baik.

Kiai Sulthan juga mengembangkan potensinya dalam Bidang organisasi, sehingga Tidak gamang berinteraksi Dan berkomunikasi dengan banyak Orang lintas sektoral. Kemampuan ini semakin menjadikan Kiai Sulthan sosok yang dinamis, fleksibel, Dan organisator ulung.

Baca juga: Sanad Fikih Nahdlatul Ulama Sampai Kepada Rasulullah

Jadilah Tokoh

Ketika tahun 2004, Penulis hendak boyong Dari Pondok Jombang, pulang kampung, pesen Kiai Sulthan kepada Penulis adalah jadilah Tokoh yang berjuang untuk kemajuan masyarakat. Saat ini, kata Kiai Sulthan, banyak Orang berilmu, tapi sedikit yang menjadi Tokoh. Ilmuwan hanya disyaratkan banyak membaca, menulis, berdiskusi, riset, Dan aktivitas akademik lainnya.

Sedangkan menjadi Tokoh mengharuskan seseorang berani terjun di tengah masyarakat, menghadapi kompleksitas problem masyarakat, Dan berusaha memberikan solusi efektif. Menjadi Tokoh membutuhkan jiwa kepemimpinan, kepeloporan, Dan pengorbanan dalam segala aspek kehidupan.

Masyarakat membutuhkan kehadiran tokoh-tokoh yang mampu menggerakkan perubahan positif di tengah kehidupan mereka, baik dalam Bidang pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, Dan politik kebangsaan.

Berjuang Sampai Titik Darah Penghabisan

Kiai Sulthan adalah sosok pejuang Sampai akhir hayat. Seluruh hidupnya diabdikan untuk dakwah Islam, baik di Pesantren, Madrasah, NU, Partai, Dan umat. Beliau sosok yang mencintai ilmu, memgamalkan ilmu, Dan menyebarluaskan ilmu kepada umat manusia.

Selamat Jalan menghadap Sang Kekasih Kiai, semoga limpahan maghfirah Dan rahmah Allah terlimpah kepada Kiai, keluarga yang ditinggal diberikan kesabaran, Dan para santri meneruskan perjuanganmu, Amin Yaa Rabbal Alamiin.

الي روح شيخنا العالم الحاج محمد سلطان عبد الهادي الفاتحة … امين

Pati, 14 Rabiul Awal 1440 H./ 22 November 2018

By: Dr. KH. Jamal Ma’mur Asmani, Dosen Imafa Pati