Bikin Baper, Kisah Husnul, Sosok Peraih Santri Award 2018

oleh
Bikin Baper, Kisah Husnul, Sosok Peraih Santri Award 2018

MALANG, SantriNow | Husnul Hakim Syahid adalah seorang santri almarhum KH Qosim Bukhori Malang. Dialah peraih Santri Award 2018 di Hari Santri Nasional 2018. Kehidupan sehari-hari Husnul begitu sederhana. Katanya sih, memang sudah terbiasa begitu sejak sebagai santri hingga hari ini.

Ceritanya, Husnul waktu di pondok pesantren biasa dikirim uang hanya 20 ribu saja tiap bulan. Uang 20 ribu itu ia gunakan untuk keperluan sehari-hari di pesantren. Husnul merupakan santri Pondok Pesantren Raudlatul Ulum II, Desa Purukrejo, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang.

Husnul adalah ‘anak dari gunung’. Tepatnya lahir di Desa Sumbergentong Klepu, Kecamatan Sumbermancing Wetan, Kabupaten Malang.

Setelah menerima Santri Award 2018, dari PCNU Kabupaten Malang, yang digelar di Pendopo Kabupaten Malang, Sabtu (10/11/2018), kemudian Husnul bercerita tentang masa lalunya waktu masih jadi santri. Ia mengaku hanya dikirim uang Rp 20 ribu oleh kedua orang tuanya sebulan sekali.

“Selain bukan dari keluarga mampu, hidup sederhana dan makan apa adanya, bahkan harus puasa, sudah biasa dalam kehidupan santri. Karena hal itu adalah bentuk tirakat santri selama di pesantren. Harus mengurangi makan yang enak-enak dan bahkan harus puasa,” katanya.

Tujuannya apa? Menurut Husnul, jika santri berkehidupan demikian, ilmu yang dipelajarinya dipesantren cepat masuk atau mudah menghafal apa yang diminta oleh para guru di pesantren.

“Setelah berhenti dari pesantren, harapannya, ilmu yang dipelajari di pesantren bisa barakah dan bermanfaat untuk dirinya, keluarga, masyarakat, agama dan negara,” katanya.

Prinsip demikian kata Husnul, sudah tertanam pada sosok santri sejak dini saat berada di pesantren. “Rasa takdimnya santri kepada guru tak akan diragukan. Apalagi, kepada agama, NU dan negara. Karena sudah ditempa sejak di pesantren,” aku pria yang kini menjabat Ketua GP Ansor Kabupaten Malang itu.

Santri itu, makannya jarang mewah. Bahkan saat makan, hanya cukup nasi, tahu dan tempe sudah tergolong ‘anak orang kaya’. “Selama di pondok, saya hanya dikirim uang Rp 20 ribu perbulan oleh orang tua. Itu harus cukup untuk makan selama sebulan,” akunya.

Pendidikan dan Jabatan

Setelah lulus SMA, Husnul melanjutkan kuliahnya di IAI Al Qolam, Gondanglegi. Sejak duduk dibangku kuliah, ia aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) hingga menjabat Ketua PC PMII Kabupaten Malang, periode 2005-2006.

Sebelumnya, pada tahun 2002, Husnul dipercaya sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) pertama di IAI Al Qolam. “Baru pada tahun 2013 saya dipercaya menjadi Sekretaris GP Ansor Kabupaten Malang periode 2013-2017. Saat ini, alhamdulillah dipercaya jadi Ketua GP Ansor Kabupaten Malang untuk periode 2017-2021,” jelasnya.

Di sektor pendidikan, pria berkacamata itu, telah sukses menyelesaikan Magister ilmu hukum di Universitas Islam Malang (Unisma) tahun 2016. Kini, ia aktif sebagai dosen ilmu pemerintahan di Universitas Islam Raden Rahmat (Unira) Malang.

Selain menjabat sebagai dosen, ia juga menjabat sebagai Direktur Pusat Studi Kebijakan dan Otonomi Daerah (Puskada) Unira Malang. Pendampingan masyarakat, Husnul juga pernah aktif melakukan advokasi hukum terhadap lokalisasi yang ada di Kabupaten Malang.

Selain advokasi dibidang itu, ia juga melakukan pendampingan dan advokasi soal kebijakan pengarusutamaan API-PRB kedalam perencanaan pembangunan di Desa Gajahrejo dan Sumberagung. Program tersebut bejerjasama dengan USAID, di tahun 2015-2016.

“Terima PCNU Kabupaten Malang yang telah mempercayai saya pantas mendapat Santri Award 2018. Anugerah ini akan saya jadikan motivasi untuk menuju hal yang lebih baik dan positif. Baik aktif digerakan sosial keagamaan di NU dan di GP Ansor. Santri Award 2018 ini jelas menjadi penyemangat bagi kaum santri dalam meraih banyak prestasi untuk NU dan negeri ini, khususnya untuk Kabupaten Malang,” pungkasnya. (Now/TIm)