Yang Sempat Jadi Lautan

oleh

“Palu kami yang sempat menjadi lautan, adalah teka teki Tuhan untuk mengingat jalan pulang”

SantriNow | Ada banyak hal yang mesti diceritakan disini, banyak tawa dan duka, banyak pula tangis yang pecah pada celah-celah jendela yang membungkam dada dan memerihkan mata. Apalagi tangis hati dalam diam, dalam sujud kami pada malam setengah rembulan, menahan rindu yang pualam pada kekasih tersayang.

Dan isak tangis memohon pulang, berderu dalam ruang, berharap Tuhan mengabulkan doa-doa anak malang dalam pangkuan bintang-bintang. Tetapi hanyalah sebatas impian, sebab rindu telah kandas di tengah jalan.

Oh Tuhan, kemana lagi hendak kami panjatkan doa-doa selain kepangkuanMu, ditengah duka yang begitu dalam menerjang. Kaki tangan yang hilang, kepala dan seluruh anggota badan, dosa yang tertimbun karang-karang di lautan, telah kau hempaskan pada bumi kami yang malang.

Beribu nyawa melayang, kembali padaMu dengan sesal yang teramat suram. Sementara itu masih banyak pula yang tertawa dalam tangisan, berpura-pura hilang ingatan, menertawakan alam yang terus berguncang.

Air mata yang mengalir bukan lagi putih, Tuhan. Merah pekat bahkan menghitam, bermuara dalam hati kami yang tak henti bergemuruh. Menasbihkan namaMu sepanjang ingatan, setelah terlalu lama lalai dan angkuh pada yang menciptakan.

Air laut yang tenang kau hempaskan, kau selimutkan pada dosa-dosa yang kami ciptakan. Dan kau basuhkan, kau mandikan pada sekujur bumi ini. Mungkin, biar tak ada lagi cahaya selain putih yang terang, menghias Palu kami yang sempat menjadi lautan.

Tangis yang mencekam, darah yang kepekatan dan rasa syukur yang mendalam adalah bumi kami yang sekarang. Tangis kami tentang lautan, darah kami oleh lautan lalu syukur kami mengingatMu semakin dalam.

Maafkan, Tuhan

Kami telah lupa bahwa engkau yang maha kuasa dalam segala yang ada. Beri kami kesempatan, memujiMu berulang-ulang pada sujud dan doa-doa yang telah diajarkan.

Berharap nafas yang panjang, mendendangkan namaMu hingga rembulan sempurna menjadi cahaya yang benderang, bersinar diantara hati kami yang sempat melupakan Tuhan.

“Palu kami yang sempat menjadi lautan, adalah teka teki Tuhan untuk mengingat jalan pulang”

#pray for Palu

Baca juga: Santri dalam Stigma dan Persepsi

By: Fahrur Rozi (Santri al-Amiroh Surabaya)