Semarak Menyambut Hari Santri 22 Oktober, Kota Jogja Mendadak jadi Kota Santri

oleh
Semarak Menyambut Hari Santri 22 Oktober, Kota Jogja
Ribuan Santri memadati Jl. Diponegoro, mereka menggunakan batik khas Jogja, serta membawa atribut lainnya, Minggu (07/10/2018)

YOGYAKARTA, SantriNow | Semarak menyambut Hari Santri 22 Oktober, Daerah Istimewa Yogyakarta adakan acara Grebeg Santri. Acara ini diikuti ribuan santri dari berbagai kontingen se-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Minggu (07/10/2018) sore.

Start dari taman parkir Abu bakar Ali, kemudian melintas jalan Malioboro dan finish di titik nol kilometer.

Ada 40 kontingen dari berbagai organisasi masyarakat serta berbagai pesantren di seluruh DIY mengikuti acara pawai ini.

Dengan tampilan kreasi dan kelebihan dari masing-masing pesantren yang diwakili, mereka terbagi dalam 4 kelompok.

Kata, Nilzam selaku Humas Grebeg Santri, acara ini diikuti oleh 33 pondok pesantren se DIY serta ditambah dari organisasi masyarakat sebanyak 7, sehingga jumlah totolnya adalah 40 kontingen.

“Grebeg santri hari ini pesertanya dari ada 33 pondok pesantren se-DIY. Dan ditambah oleh beberapa dari organisasi. Sehingga ada 40 kontingen yang ikut pawai,” kata Nilzam Yahya, selaku Humas Grebeg Santri, Minggu (07/10/2018). Baca juga: Semarak Hari Santri 2018, Kemenag Tantang Santri Milenial Buat Meme dan Video Pendek

Semarak Menyambut Hari Santri

Acara ini sabagai bagian dari peringatan hari santri Nasional yang jatuh pada 22 Oktober mendatang.

Tahun ini mengambil tema “Merawat Tradisi Menjaga Indonesia”.

Artinya, menurut Nilzam, grebeg santri ini diharapkan menjadi salah satu upaya gerakan santri untuk merawat tradisi semangat perjuangan Mbah Hasyim Asy’ari dalam resolusi jihad dan menjaga keutuhan Indonesia.

“Kita ingin memberikan pemahaman kepada masyarakat, terutama kepada santri bahwa 22 oktober pada tahun itu, Mbah Hasyim, selaku Rais ‘aam Nahdlatul ulama (NU) mengeluarkan resolusi jihad sebagai bentuk kecintaan NU kepada Indonesia. Santri harus menjaga tradisi itu,” ungkap Nilzam.

Dia menambahkan, sebanyak 40 kontingen yang mengikuti grebeg santri terbagi ke dalam empat kelompok yang masing-masing menandai peran santri dalam empat periode penting sejarah kepesantrenan dan ke-Indonesiaan.

Periode pertama adalah peran santri pada periode pergolakan Pangeran Diponegoro melawan penjajah.

Periode ini santri disimbolkan dengan jubah atau surban lengkap dengan keris dan kuda.

Periode kedua, peran santri dalam periode perjuangan KH Hasyim Asy’ari hingga lahirnya Resolusi Jihad yang menjadi tonggak peringatan hari santri tanggal 22 Oktober 1945.

Santri pada periode ini memakai penanda yang berhubungan dengan kitab.

Ketiga, peran santri dalam periode kemerdekaan, disimbolkan dengan garuda, bambu runcing dan merah putih. Sedangkan terakhir, santri pada periode milenial.

“Periode milenial penandanya dibebaskan dalam arti diserahkan sepenuhnya kepada kreasi peserta,” jelas dia. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.