Santri, dan Pemimpin Negeri yang Sejati

oleh

SantriNow | Tidak ada manusia yang ingin dikelilingi rasa kecewa. Tidak ada manusia yang ingin digenggam bayang-bayang ketakutan. Bukan hanya manusia. Hewan, bahkan semesta pun demikian. Termasuk Faqih.

Pemuda amatir, yang akrab dengan kata urakan, tiba-tiba harus identik dengan ibadah, atau hal-hal yang akan mengantarkan diri kepada Tuhan. Ketika peristiwa yang tidak pernah ia agendakan, tiba-tiba menyerobot masuk dalam sejarah hidupnya.

Lelaki berparas tampan, dengan badan tegap itu menengadah, memandang langit di luar jendela yang senyap tanpa rembulan, seolah mendengarkan desau angin, meminta debu dan serpihan pasir yang dibawa angin membantunya mengambil keputusan.

“Perbaiki semua yang harus diperbaiki, dan berbahagialah.” Ujar Sumi

“Tapi..” Faqih mencoba menawar keputusan sang Ibunda

“Tidak akan ada yang bisa menemukanmu di sana.” Sambung Sumi lagi.

“Percayalah pada Ibu, Nak.. Pesantren adalah tempat berlindung terbaik.”

“Baik.”

Faqih tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, ia memilih mematuhi kehendak Ibunda, dan kembali ke kamarnya, memandangi langit-langit kamar dengan hati kacau.

Malam itu, malam seolah tak bersahabat dengannya, matahari terlalu cepat datangnya, di pagi-pagi buta, Sumi sudah repot menyiapkan kebutuhan puteranya selama beberapa lama.

“Ayo, Faqih!” Ainul – lelaki paruh baya yang akrab dengan panggilan Ayah dari Faqih, putera semata wayangnya, membukakan pintu belakang mobil, untuk kemudian dimasuki anak-istrinya. Sementara dia sendiri, duduk di bangku depan, di samping sopir pribadi.

Dua jam berlalu, mobil putih yang mengantar Faqih, mulai merapat ke bibir parkir depan Pesantren megah. Dari kaca mobil, sayup-sayup Faqih disentak perasaan takjub di hadapan masjid megah yang berdiri kokoh nan elok.

Komplotan bahan bangunan masjid megah yang sudah disumpal semen untuk tidak banyak bicara, seolah memamerkan diri, bahwa ia bisa menampung satu tubuh kecil Faqih. Sementara di bagian paling atas sebelum langit, kubah berwarna biru seolah berbisik padanya, ‘Jangan ragu, masuklah. Tuhanmu sudah menunggu.’

Masjid Megah

Masjid megah tanpa pintu itu, belum puas juga membuat Faqih terkagum-kagum. Dari pintu depan, searah kiblat, lorong Maha Panjang nan luas terbentang.

Diapit dua gedung asrama yang sama-sama megah. Kiprahnya, semua gedung itu sudah penuh terisi santri putra. Celakanya, mata Faqih belum pernah menangkap gambaran surga sederhana ini.

“Faqih di sini dulu. Biar Ayah urus semua keperluan pendaftaran-administrasi di kantor.” Ujar Ainul mantap, lalu meninggalkan Faqih di serambi masjid bersama tumpukan tas yang ia bawa dari rumah. Dalam sekejap, Faqih menjelma korban bencana alam yang kehilangan sanak familinya.

Di sudut kiri lapangan, seorang anak laki-laki sebayanya, asyik menyikat lantai tempat para santri mengambil wudhu, lalu karena kurang awas, ia jatuh terpeleset ketika terlena oleh lirik lagu yang dinyanyikannya sendiri di atas lantai berbusa dan licin. Faqih ingin tertawa, terbahak bila perlu, tapi takut dosa.
***
Sebelum cahaya fajar merekah, Faqih dan para santri lain sudah dibangunkan oleh pengurus kamar asrama, digiring mandi atau sekadar mengambil wudhu, sebagai syarat sah menunaikan sholat, lalu berjalan menuju masjid dengan tubuh kedinginan, di bawah cahaya rembulan, di bawah langit yang berwarna keabu-abuan.

Di saf paling depan, Faqih menyilakan duduk, membuka lembar demi lembar Alquran. Mencari surat Ar rahman, lalu asyik melantunkannya. Suaranya nyaris berbenturan dengan suara tarkhim yang mendayu-dayu di gendang telinga anak adam berkostum serupa – kopyah-gamis putih.

“Aku ingin pulang saja. Aku tidak betah mondok.” Rengek Faqih suatu hari

“Kenapa?” lelaki di hadapan Faqih, yang usianya terpaut, kurang lebih, tiga tahun dengan Faqih, memandangnya dengan tatapan tak terjemahkan.

“Aku pernah berdosa pada manusia. Karena dosa itu, Ibu bilang, tempatku sudah pasti di neraka.”

“Kamu terlalu gegabah untuk berkunjung ke neraka, Faqih..” lelaki itu tertawa tawar.

“Dosa apa yang kamu lakukan?”

Hening

“Membunuh?”
Faqih bergeming.

“Tak apalah jika kamu tidak mau bercerita perihal masa lalu yang hanya ingin kamu bagi dengan Tuhan dan diri sendiri. Yang jelas, yang perlu kamu mengerti, Allah mengampuni semua dosa makhluk-Nya. Allahu yaghfir adz dzunuba jami’a kataNya dalam Alquran.

Allah Maha Pengampun

“Kamu pendosa? allahu yaghfir adz dzunuba jami’a. Kamu pemabuk? allahu yaghfir adz dzunuba jami’a. Kamu pembunuh? allahu yaghfir adz dzunuba jami’a.

Kamu pezina? allahu yaghfir adz dzunuba jami’a. Semua dosa akan diampuniNya. Dialah tempat meminta segalanya, Faqih.

Termasuk pintu taubat yang kamu cari, akan kamu dapatkan dengan satu kunci, bersungguh-sungguh mencari, berharap, bahkan mengemis ampunan dan rahmatNya.”

Hening. Lelaki itu menepuk bahu Faqih, menguatkan. Senyum persaudaraan yang dihidangkan di meja ukhuwah, terasa begitu hangat menyentuh relung pemuda amatir itu. Bahkan sebelum Faqih mengenal dia siapa, dan sebaliknya.

“Tapi, aku juga tidak bisa mengaji, Mas..” lelaki itu menatap Faqih dengan lebih bersungguh-sungguh.

“Aku siap membantumu mempelajarinya. Tapi berjanjilah, setelah bisa, kamu akan mengistiqomahkan diri membaca firmanNya setiap sebelum dan seusai sholat. Setuju?”
“Setuju.”

Dimulai sejak kesepakatan itu dibuat, Faqih menjadi santri yang tidak pernah absen mengisi saf pertama di masjid.

Setelah tunai kewajiban sholat dhuha, para santri hilir mudik meninggalkan masjid, menuju kamar, berganti pakaian, menuju kantin untuk sarapan, kemudian kembali menuju kamar, merangkul kitab yang akan dipelajari, lalu menuju gedung sekolah.

Sementara itu, Faqih memilih tetap tinggal di badan masjid sampai bel persiapan sekolah berdenting, merebahkan badan, menatap langit-langitnya yang bersih.

Sesekali mengedarkan pandangan pada lelaki beralis tebal, yang sedang serius mengerutkan alis, sementara jemarinya sibuk menunjuk tulisan-tulisan yang tercecer di buku-kitabnya.

“Cak..” tak kuasa menahan penasaran, Faqih menghampiri lelaki yang sedari tadi dipandanginya, lelaki bernama Ali.

Lelaki yang dengan baik hati mau meluangkan waktunya untuk mengajari orang asing mengaji. Sapaan Faqih mengalihkan fokus Ali secara telak. Ali mengangguk, tersenyum, menyilakan duduk Faqih.

“Hari ini UTS ya?” Faqih mengangguk.

“Sudah belajar?” belum sempat Faqih memberi jawaban, seorang anak laki-laki lain meneriakkan nama Ali dari ujung masjid, menginformasikan bahwa ia sedang ditunggu kepala sekolah unit Madrasah Tsanawiyah di kantornya.

“Bakda sekolah, ku tunggu ceritamu di serambi kanan ya.. nilai di atas KKMnya juga.” Ujarnya setengah berbisik, lalu beringsut pergi setelah menutup kitab dan bukunya, dan memberi salam.

Santri Terbaik

Maha Santri terbaik enam tahun berturut-turut itu berlalu menuju kantor dengan langkahnya yang mantap.

Pintu kelas Faqih tertutup rapat. Tidak biasa-biasanya.
Krek!

Bias cahaya matahari menerobos masuk, suasana hening terendus cepat oleh Faqih, dengan dada penuh gemuruh,

Faqih menyelipkan separuh wajahnya di celah pintu yang terus bergerak terbuka.

Plak!

Satu tamparan tangan gagah menyambut hangat wajah Faqih

“Ku kira Ustadz Abu. Masuklah!” pemilik tangan kokoh itu adalah Utsman – Santri asal Kalimantan. Setelah menutup kembali pintu kelas, Utsman mengekor di belakang Faqih.

“Sudah belajar, Qih?” tanyanya sembari mengalaskan kembali bokongnya di tempat duduknya. Faqih hanya menghela napas berat sebagai jawaban.

“Ayo lanjut, Dii..” Utsman menarik ujung sarungnya hingga terangkat setinggi lutut. Lalu Kurdi menuliskan kata kunci UTS di betisnya. Setengah meringis menahan geli dari laju bolpein yang menari di betisnya yang berbulu,

Utsman menggigit jari sendiri. Faqih hanya tersenyum geli.

Metode UTS yang diberikan Ustadz Abu adalah menghafal nadhom Alfiyah. Satu persatu akan dipanggil ke depan, bersila di hadapan Beliau, dan mulai menghafal di samping Beliau yang matanya setengah terpejam, sedikit mengantuk, karena melakukan sholat sunnah hampir setengah malam suntuk.

“Assalamualaikum” lelaki paruh baya yang melempar salam dari pintu kelas itu, melangkah tegap ke arah bangku Ustadz. Utsman yang memproses kecurangannya, tergagap-gagap menutupi betisnya yang sudah penuh dengan kata kunci hafalan. Faqih dan Kurdi tertawa lebar-lebar.

Uts dimulai tanpa basa-basi. Penikmat sujud di waktu tengah malam itu meminta ketua kelas menyimak hafalan teman sekelas. Ini biasa bagi kepala yang diajari lelaki itu.

“Ahmad Faqih, Muhammad Utsman. Bisa maju ke depan.” Utsman berjalan gontai, geli yang ia terima, masih terasa menggelitik di area betisnya. Di hadapan sang ketua kelas, Utsman mulai mengancam dengan alisnya yang ia gerak-gerakkan.

Hafalan Nadhom

“Apa nadhom berikutnya? Loncat ke nadhom terakhir. Catat bahwa Utsman telah merampungkan hafalannya di kertas yang kamu pegang!” setidaknya kurang lebih begitu makna gerakan alis Utsman. Sembari terus merapalkan hafalannya, Faqih hanya bisa tersenyum tawar mendapati kelakuan konyol sahabatnya,

“Ta’rifuhu ismun dzu intishobin fassara” hening. Hafalan Ustman lenyap, beberapa detik berlalu, Utsman menyentuh ujung sarungnya, mengangkatnya perlahan.

Baru setengah jalan tangannya memproses penyingkapan sarung, mencari jawaban, Ustadz Abu berdeham, mencoba menetralisir dahak yang merongrong kerongkongannya, tapi perbuatan buruk memang akan selalu bisa menghilangkan sakinah yang dititipkan Tuhan dalam hati.

Utsman menutupi kembali betisnya. Faqih sudah selesai merapalkan semua hafalannya dan kembali ke tempat duduknya.

Meninggalkan Utsman yang mulai bercucuran keringat dingin.

Nama selanjutnya, Kurdi. Pria bertubuh gepeng itu mulai bergerak maju, lalu menyerahkan dua telapak tangannya pada Ustadz Abu. Menengadahkannya seperti orang mengemis. Ya, memang itu yang dilakukan kurdi. Mengemis.

Mengemis pukulan sebagai tebusan tidak memenuhi prosedur ujian.
“Ada apa, Kur?”

“Saya belum hafal, Ustadz. Pukul saja pakai rotan.”

“Ndak.. ndak.. ayo coba hafalkan dulu”

“Belum hafal, Ustadz..”

“Coba dulu, Kur..”

“Belum bisa, Ustadz..” dua anak adam itu berakhir dengan adu mulut. Kurdi yang biasa menggawat-gawatkan hal sepele, menolak secara terang-terangan apa yang diperintahkan gurunya. Tangannya masih menengadah, menunggu rasa sakit dari pukulan rotan datang berkunjung.

Plak! Plak!

Bersamaan dengan telapak tangan Kurdi yang memar, bel tanda akhir jam mengajar Ustadz Abu berdenting.

“Untuk nama-nama yang belum dipanggil, bisa menemui saya di kantor. Sekian, kurang lebihnya mohon maaf, wallahu a’lam bis shawab. Tsumma assalamualaikum waa rahmah waa barokah.”

Jawaban salam bergemuruh, lelaki paruh baya itu beringsut meninggalkan bangkunya.

Semua santri berdiri mengantar perginya. Masih separuh jalan, semua mata sudah melirik meja yang baru saja ditinggalkannya.

Gagal Fokus

Bukan. Bukan mejanya yang menjadi fokus anak lelaki dalam ruang tersebut. Tapi air mineral yang entah sengaja atau tidak ditinggalkan begitu saja di atas meja oleh si empu. Mereka menyebutnya air barokah.

Grubuk! Grubuk! Grubuk!

Satu tangan terangkat ke udara. Mencengkram kuat botol air mineral, tidak mempedulikan tubuhnya yang tertindih banyak tubuh lain.

“Sisakan untukku.”

“Untukku juga!” beberapa menit, botol air mineral itu sukses menjadi piala bergilir. Sebelum kemudian,

“Langsung duduk di tempat masing-masing, Gengs. Kita lanjut ke soal PKN. Ustadz Fikri berhalangan hadir hari ini.” Teriak ketua kelas saat itu. cekatan anak lelaki bernama Rori – dan karena dianggap menyusahkan ketika dipanggil, seisi kelas sepakat memanggilnya Kalori. membagikan lembaran soal ulangan yang sudah berisi tulisan komputer. Soal pilihan ganda.

Dua puluh lima menit berlalu, Utsman dan Kurdi tampak menggesek-gesekkan bolpoinnya ke jambangnya yang berbulu, sesekali menggigitinya. Sesekali membantingnya. Lalu mendaratkan kepalanya di meja.

“Ayo, Gengs!” ujar Kalori setengah berteriak. Sebelum kemudian disembur dengan kata ‘belum’ oleh seisi kelas.

“Bacakan lima jawaban sebelum akhir, Lor!” teriak Utsman menjelma provokator.

“Cocok! Bantulah saudaramu yang dilanda kesusahan, maka Allah tidak akan menyusahkanmu, Lor!” sambung anak lelaki di sudut kiri. Kalori hanya membalasnya dengan tawa. Sabar sekali memang dia.

“Soal nomor dua lima, bebek.” Mendengar Kalori membacakan jawaban, kelas menjadi hening. Di sela suasana yang hening, Faqih mengantongi kembali bolpoinnya, dan membalik kertas soalnya.

“Nomor dua enam, ayam.” Ujar Kalori lagi. sementara anak lain sibuk menggoreskan jawaban, Kurdi terlihat cemas sekaligus gemas. Ia mengacak-acak rambutnya, membanting kopiahnya ke meja. Tekstur kopiah yang keras, mendukung suasana dramatis yang dibuatnya. Suara gemeretak meja, cukup membuatnya menjadi sorotan utama.

Semua mata di kelas itu, menyorotnya dengan tatapan heran.

“Mana ada bebek!? Mana ada ayam!?” hardik Kurdi. Seisi kelas ternganga, merasa konyol, mereka tertawa bersamaan. Sekali lagi, menertawai kepolosan Kurdi. Dduh, Dii..

***

Pohon Beringin itu

Deretan pohon beringin, meneduhkan beberapa tanah lapang pesantren. Di serambi kanan masjid, Faqih bisa melihat Ali menyandarkan punggungnya pada tiang-tiang masjid yang kokoh, sementara mulutnya, seperti penyihir yang sibuk merapalkan mantra. Ingatannya terhadap kalimat terakhir Ali tadi pagi, memimpin langkah Faqih menuju lelaki itu.

“Assalamualaikum, Cak Ali..” sapa Faqih. Seperti biasa, lelaki itu membalas sapanya dengan senyum paling purnama. Tanpa dipersilahkan, Faqih duduk di samping kiri Ali.

“Pripun UTSe, Qih?”

“Alhamdulillah, Cak.. lancar.” Jawab Faqih mantap. Ali mengangguk.

“Lalaran opo toh, Cak?”

“Alquran.”

Faqih bergeming. Menyisakan suara qiroah dengan suara yang begitu bening.

“Cak. Kalo Faqih amati, Sampean tekun sekali belajar. Tekun sekali membaca. Mau kerja apa memang setelah lulus,

Cak?” tanya Faqih serius. Ali mengerutkan kening, lalu menatap Faqih dengan lebih bersungguh-sungguh.

“Jadi kamu susah payah mencari ilmu hanya untuk bisa bekerja, Qih?”

Tidak ada jawaban.

“Ya, kalau mau dipikir pakai akal, Cak, santri ini sebenarnya bisa jadi apa kecuali Kyai atau Ustadz?” Ali tersenyum mendengar pertanyaan adik kelasnya.

“Lah terus, kenapa kamu mondok kalau memang kamu tahu akhirnya pasti sekedar jadi Kyai atau Ustadz?”

“Karena punya dosa pada manusia. Seperti yang aku ceritakan sebelumnya itu, Cak.” untuk kali ke sekian, Ali melempar senyum sebagai jawaban. Ia menghela napas perlahan.

“Qih.. secara tidak langsung kamu mendahului takdir Tuhan. Atau yang paling buruk, kamu berprasangka buruk pada-Nya. Sampean ini siapa, kok sampai berani mendikte-Nya? Jika kamu ingin jadi PNS, pejabat negeri, atau apapun yang sesuai dengan semua mimpimu, tapi Ia menghendakimu jadi ustadz atau Kyai, kamu bisa apa?

“Kamu ingin contoh yang real? Berkacalah pada sejarah. Bukankah negeri kita pernah dipimpin seorang santri?

Oleh seorang kyai? KH Abdul Rahman Wahid. Atau yang akrab dipanggil Gus Dur. Ingat? Bahkan Beliau belum pernah duduk di bangku sekolah Negeri. Tapi buktinya, Beliau mampu memimpin negeri.”

Motivasi Kyai

“Suatu hari nanti, kamu akan jadi penerus bangsa. Menjadi manusia yang diharapkan masyarakat untuk membawa peradaban bangsa lebih jauh. Suatu hari nanti, kamu akan berbicara, dan memimpin bangsa dengan kostum santri.

Dengan integritas santri yang jujur dan terpercaya. Kelak, aku yakin, pemimpin negeri ini akan berpeci kubah.

Bukan topi yang penuh tropi untuk mengelabuhi masyarakat hanya untuk ia akali. Negeri ini butuh pemimpin yang lahir dari pesantren, Qih. Mengertilah, Tuhan kita yang Esa, adalah pemilik keadilan yang sejati.

Mengertilah, yang paling bisa menerapkan keadilanNya adalah santri. Yang bukan santri mungkin bisa, tapi tidak akan semahir santri itu sendiri.” Faqih mengangguk. Jawaban Ali telak meruntuhkan kemusykilannya.

“Dosa apa memang yang kamu perbuat? Kalau boleh tahu.”

“Memecahkan pot bunga tetangga.” Ali ternganga, lalu tertawa.

By: Lifa Ainur Rahmah

Sumber: Sabdaruang