Santri dalam Stigma dan Persepsi

oleh
Santri dalam Stigma dan Persepsi
Santri Pondok Pesantren al-Amiroh Surabaya (Dokumen santrinow.com/7/10/10)

Menjadi santri boleh dikata kuno asal number uno

SantriNow | Menjadi santri merupakan sebuah ekspektasi yang luar biasa dalam hidup yang telah diwariskan Tuhan. Menjadi santri pula merupakan sebuah anugerah dan jalan panjang menuju Tuhan yang benderang, bukan semata-mata hanya mencari ketenangan yang gagal didapatkan.

Mengenai santri, maka tak akan luput dari persoalan pesantren. Sebuah corak wadah pendidikan yang telah lama ada di Indonesia bahkan sebelum islam mengukuhkan akarnya dalam-dalam.

Tidak heran jika seorang santri digadang-gadang sebagai seseorang dengan peradaban yang terbelakang. Dan secara tidak langsung hal itu menjadi tabir tersendiri kepada generasi yang awalnya menaruh rasa penasaran terhadap pesantren.

Sehingga stigma itu akhirnya melebar menjadi prespektif murahan bahwasanya jika seseorang memilih hidup dan belajar sebagai santri maka tak ada masa depan yang menjanjikan.

Dan parahnya, hal ini sudah menjadi konsumsi publik sekaligus menjadi hantu tersendiri bagi generasi yang mulanya sudah menaruh harapan pada dunia pesantren. Lalu bagaimana dengan pernyataan bahwasanya pesantren adalah sebuah wadah pendidikan yang unik?

Jawabannya ialah karena pesantren mengajarkan segala sesuatu yang diyakini tidak diajarkan oleh lembaga umum modern atau dengan kata lain lembaga kekinian yang mendiskreditkan pesantren. Namun dengan itu semua pesantren juga tidak melupakan materi-materi yang dituntut khalayak umum sebagaimana yang diterapkan oleh lembaga pada umumnya.

Pesantren tidak dapat dipisahkan dari kentalnya budaya dan tradisi islami. Pesantren juga dengan keunikannya tidak dapat dipandang hanya dari satu sisi saja.

Maka ketika muncul sebuah stigma atau pun prespektif negatif dari orang atau pun elemen-elemen yang tidak bertanggung jawab, bisa dipastikan mereka belum sepenuhnya kenal terhadap dunia santri. Dunia dimana para kaum sarungan mengaji, mengabdi dan berimajinasi.

Wajah Khas Pesantren

Yang tidak disadari oleh masyarakat sekitar, bahwa hanya di pesantren yang bisa mengajarkan sebuah materi secara detail. Sebagai salah satu contoh kecil, yakni pada fiqh wanita, yateri yang menjadi salah satu kunci sahnya ibadah.

Materi dari yang paling mendasar hingga pada tingkat kemahiran yang matang, dalam hal ini mestinya menjadi sorotan para orang tua agar memantapkan harapan pada pesantren karena tak semua lembaga menfokuskan pada satu materi dengan tingkat kesulitan yang mendalam.

Bukan malah menjadikan pesantren sebagai bahan ejekan karena rasa takut akan stigma yang beredar, sementara kebenarannya pun tak ada. Karena tidak sedikit alumni pondok pesantren yang berhasil dan sukses melebihi orang orang yang memilih belajar di lembaga umum di Indonesia ataupun luar negeri.

Mari kita membuka diri membuka hati. Menjadi santri bukanlah akhir dari masa depan bukan pula akhir dari segala kesuksesan.

Karena yang harus diyakini bahwa sejauh manapun kau belajar jika kau tak mau melangkah dan berfikir, maka sama hal nya kita tetap terjajah dan terbawah. Karena sesungguhnya keterbelakangan bukanlah dari segi dimana kau belajar akan tetapi bagaimana kau belajar.

“Menjadi santri boleh dikata kuno asal number uno”

Tulisan ini bukan semata-mata mendiskreditkan lembaga umum akan tetapi bermaksud mengungkap stigma murahan tentang pesantren yang telah menjadi konsumsi public elit selama ini. (*)

By: Fahrur Rozi (Santri al-Amiroh Surabaya)