Meng-Eja Hidup

oleh

Sungguh menjadi manusia tidaklah mudah, berfikirlah yang jernih lalu putuskan dengan hati

Hidup adalah sesuatu yang memilih manusianya sendiri. Terkadang aku sepenuhnya iri terhadap mereka-mereka yang dipilih untuk bersenda gurau. Dan teramat beda dengan posisiku, jauh dan teramat jauh.

Tetapi satu hal yang harus menjadi prinsip dalam diri ini. Aku lahir dari orang bawah. Dari yang serba tidak tahu. Dari yang serba bertanya. Maka sepenuhnya akan aku susun dan jalani dari yang paling bawah juga. Meski siapa tahu akhirnya Tuhan menginginkanku harus terjatuh pula.

Namun, setidaknya perjuangan hidup akan selalu diusahakan, biar mereka(yang hidup setelahku), tahu jika aku pernah berdiri tegak dari segala kelemahan.

Lagi-lagi tentang hidup

Matahari yang menyingsing menebar kekuningannya pada pematang yang terbentang panjang di seantero jagat raya nafasku. Segalanya harus kembali.

Aku eja di setiap jejak yang jatuh pada bumiku. Pada yang hidup dan mati sebelum dan sesudah aku. Jejak yang membekas adalah aku yang tak beruntung memilih hidup untuk sekedar berlabuh pada kesucian rasa-Mu.

Masih membekas dan menyimpan pilu pada bumi dan langitku. Semoga Tuhan sedang berpihak padaku dari kejauhan ibu.

Kembali pada hidup yang tak tahu. Harus aku salahkan siapa dan masihkah ada yang benar disini?

Mengenai matahari yang susup sebelum waktu memintanya, atau karena hanya bulan yang merasa indah di waktunya. Aduhai.. bulan yang cemburu serta matahari yang terburu-buru. Di jantung langit, terbesit musim malu, pilu, dan sendu.

Dan kalian tahu yang berharga dari satu nyawa yang tegak dan hidup? (harga diri) maka aku katakan “maaf, saya bukan pelacur, yang berlindung di balik tirai. Memohon dikasihani atau meminta dibeli dan sedemikian, sebegitu hancur”.

Sekedar sadar dalam hidup, pada mimpi tergantung abjad namaku, lahir dari sebuah rahim yang memintaku terus berlari seperti doa doa pada Tuhan. Berlari dan akhirnya meng-awan, lalu terbang ke pangkuan, bukan untuk meminta belas kasihan, karena dalam hidup, aku masih punya Tuhan.

Aku tak paham bahasa sastrawan dan jujur sedikit memungkirinya, mereka katakan; kalau kau jatuh dari langit, setidaknya akan jatuh diantara bintang bintang atau paling tidak di puncak pendakian

Lalu, tanyaku pada mimpi yang menggantung sudah, aku jatuh sejatuh jatuhnya kebumiku yang gersang, tak ada bulan tak ada bintang.. atau mungkin mereka lelah, sekedar melihatku dibalik awan berayun pada doa dan bersandar pada impian, kemudian harus aku terjemah seperti apa mereka, langkahku dia buat patah dan bersimpuh pada sajadah.

Setelah yang benar benar jatuh, matahari dan bulan yang kekanak kanakan. Katanya masih menunggu pemujanya datang dan mengajarkan kedewasaan, agar petang tak memakan mereka diam diam, tapi sekali lagi maaf tak ada yang dapat dibeli dalam hidup ini, apalagi soal harga diri.

Ah.. aku malu. Masih saja tentang hidup. Harus aku tulis seperti apalagi hidupku ini. Kiranya semua sudah ada disini, dan satu hal yang penting (jangan main main dengan harga diri). Sungguh menjadi manusia tidaklah mudah, berfikirlah yang jernih lalu putuskan dengan hati. (*)

Baca juga: Ku Gantungkan Harapan Pada Fajar

By: Fahrur Rozi (Santri al-Amiroh Surabaya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.