Jodohmu, Keluarga Kita

oleh

“Jodohmu boleh siapa saja dan dimana saja asal jangan pernah lupa terhadap keluarga”

SantriNow | Menindak lanjuti persoalan jodoh yang terbilang rumit dikalangan anak muda, bahwasanya kerumitan tersebut tercipta karena banyaknya kemauan yang tak selaras dengan logika. Dan bisa disimpulkan bahwa yang mempersulit itu sebenarnya adalah manusianya sendiri bukan dari perihal jodoh yang memang sudah ada ketentuannya sendiri.

Jodoh sendiri merupakan ajang yang sangat sakral dikalangan masyarakat pedesaan, oleh karena itu hal hal yang mencakup jodoh merupakan sebuah tanggung jawab yang harus disandang dan dipertaruhkan, apalagi di kalangan masyarakat Madura.

Adapun pernyataan masyarakat Madura yang seringkali menjadi penghalang cinta anak muda yang telah lama diperjuangkan. Yakni yang telah kita ketahui bersama bahwa Madura sangat kental dengan budaya persaudaraan antar sesama.

Dan hal yang sangat sering kita dengar dari sebagian orang tua ketika memberikan wejangan tentang masalah jodoh ialah “jangan sampai kau mencari pendamping disana, karena jika kau sakit atau ada masalah kita tidak akan bisa langsung menjengukmu, karena berbagai keterbatasan, sudahlah kau cari disini saja. Biar ketika ayah dan ibumu ini rindu tak perlu waktu lama untuk bertemu”.

Kurang lebih begitu, dan disini pula yang selalu menjadi masalah bagi anak perantauan khususnya Madura di beberapa perguruan tinggi yang ada di kota-kota besar misal Surabaya dan Jakarta. Seakan akan langkah yang begitu lama diperjuangkan harus tumbang dengan beberapa pernyataan yang menjengkelkan.

Tetapi jika kita mau mempelajari lebih dalam, sebenarnya hal itu adalah sebuah i’tikad baik dari orang tua agar supaya anak-anak mereka akan selalu berkumpul dan silaturrahmi dengan kerabat dan keluarga.

Baca juga: Sebelum Pelaminan

Sikap kita

Hal ini sebenarnya perlu apresiasi lebih, bukan malah menjadi bahan perbincangan dan gunjingan dengan sebutan ndeso. Karena bagi masyarakat Madura silaturrahmi dengan suguhan nasi jagung beserta kelor dan teri krispy nyatanya lebih berharga daripada sarapan roti selai keju, akan tetapi anak dan mantu harus jauh.

Sungguh Madura dengan segala kesan yang tak akan habis menjadi pembahasan, dan seharusnya seorang pasangan kita akan lebih bangga dengan pernyataan yang seperti itu. Sebab, secara tidak langsung kita diarahkan menjadi manusia yang tak boleh melupakan persaudaraan.

Kita dididik bagaimana seribu kali lebih peduli terhadap orang orang terdekat, bukan malah menjauh dan tak menghiraukan, kita diperhatikan lebih bukan untuk dikucilkan.

Tetapi entah mengapa, banyak sekali yang enggan percaya terhadap persoalan tersebut. Bagi mereka yang tidak sepenuhnya mengenal, akan dengan spontan mengatakan jangan pernah berhubungan dengan orang Madura, karena Madura adalah biang kekerasan.

Nyatanya tidak ada kebenaran yang menyatakan bahwa Madura harus selalu terikat dengan image mengerikan tersebut. Apalagi masalah pernikahan. Lain hal dengan mereka yang sudah sepenuhnya mengenal luar dalam, mereka akan senantiasa diam dengan berbagai perhatian yang jauh diluar ekspektasi orang orang sekitar.

Hal serupa yang selalu hangat diperbincangkan adalah tentang perjodohan sejak bayi di kalangan masyarakat Madura.

Hal ini tidak lain dan tidak bukan, semata-mata karena persaudaraan, meskipun saat ini sudah jarang ditemukan.

Kesimpulan

Hal-hal yang dianggap sebagai suatu kontroversial yang muncul adalah sebuah wacana untuk memper-erat tali persaudaraan, bukan untuk memisahkan satu pasangan yang telah menjalin rasa kasih sayang.

Intinya adalah jodoh-mu boleh siapa saja dan dimana saja, yang terpenting bagaimana kita harus tetap memperhatikan budaya yang telah lama ada. Dan alasan bagi statement masyarakat Madura adalah karena keluarga dan saudara adalah harta yang paling berharga.

By: Fahrur Rozi (Santri al-Amiroh Surabaya)