Jaman Edan, Harus Santri yang Terdepan

oleh -
jaman edan, santri wajib kreatifPola Santri di era Jaman Now

Namun hal yang perlu diperhatikan adalah subtansi dari santri jaman now ini. Santri pada era milenial banyak sekali melakukan penyimpangan dan perbedaan yang sangat jelas dibanding dengan santri era kuno.

Penyimpangan dalam artian metode-metode yang diterapkan oleh lembaga pesantren saat ini tidak lagi sama dengan metode penerapan materi di beberapa tahun yang lalu.

Dan dari perbedaan ini, secara tidak langsung sedikit menggeser dan mengurangi tingkat intelektualitas santri dalam berbagai bidang.

Yang sangat nampak kita lihat dan rasakan, yakni dalam bidang penguasaan baca kitab kuning. Dimana yang seharusnya seorang santri dapat membaca dengan berbagai keterampilan dan artikulasi secara mendetail. Sehingga penerapan dalam praktik mengajar akan lebih membuat kesan yang mendalam, baik dari segi penguasaan nahwu shorrof maupun dari segi balaghah.

Sementara santri jaman now pada era ini lebih dominan terhadap artikulasi kontemporer yang menargetkan pada pemahaman secara kesimpulan satu kalimat, tanpa mengharuskan adanya kajian per kata sebelum disimpulkan menjadi sebuah pengertian dari kalimat yang dibaca.

Hal ini secara gamblang diartikan sebagai metode cepat tanggap dalam sebuah pembelajaran. Jadi mau tidak mau santri pada era ini diorbitkan dengan satu pemahaman yang instant tanpa adanya kajian lebih mendalam tentang satu per satu kalimat yang tertera dalam kitab rujukan materi pembelajaran.

Pola metode yang sedikit instant ini membuat image santri jaman now semakin merosot di kalangan masyarakat. Santri yang dulunya dikenal dengan tingkat ke tawadlu’an dan intelektual yang tinggi, akhirnya dikalahkan dengan modernitas era digital dan social media. Dan akhirnya seiring berjalan nya waktu khas dari santri tersebut mulai pudar.

Persoalan yang seperti ini juga disebabkan dengan mudahnya akses materi yang tersebar luas di internet. Dan secara tidak langsung generasi pada kali ini dirancang untuk bermalas-malasan. Bukan lagi santri yang berjuang untuk mendapat sesuatu yang mestinya memperoleh pemahaman yang signifikan dengan hadirnya sosok guru. Bukan malah mengandalkan gadget untuk memperoleh data yang sebenarnya masih perlu kajian mendalam agar tak menyesatkan.

Dan dari penyalahgunaan media ini, akhirnya bermunculan masalah yang menyangkut image santri secara menyeluruh. Santri yang semestinya sami’na wa ato’na kepada kyai beralih kepada social media dan tweet murahan sebagai bahan diskusi dan panutan.