Hasil Survei 2018: Guru di Indonesia Intoleran dan Radikal

oleh
Hasil Survei 2018: Guru di Indonesia Intoleran dan Radikal

Menurut hasil survei, rata-rata guru di Indonesia intoleran dan radikal

JAKARTA, SantriNow | Hasil Survei Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah tentang sikap intoleran guru, hasilnya 75% guru di Indonesia intoleran dan radikal pada pemeluk agama lain.

Sekertaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia Heru Purnomo menanggapi, masalah tersebut merupakan ancaman bagi bangsa.

“Pelita yang meredup ini adalah ancaman bagi bangsa ini. Jangan sampai potensi radikalisme dan intoleransi guru terjebak pada kondsisi radikalisme pasif. Ini akan mencabut akar kepribadian Pancasila,” tutur Heru di Hotel Le Meridien, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Selasa, 16 Oktober 2018.

Saat pemaparan hasil penelitianya Selasa siang, PPIM membeberkan data, ada sebanyak 57 persen guru yang memiliki opini intoleran, serta 37,77 persen keinginan guru untuk melakukan perbuatan intoleran atau intensi-aksi.

Menurut Direktur Eksekutif PPIM, Saiful Uman, penelitian ini penting untuk melihat pandangan serta sikap guru di sekolah negeri atau madrasah. Pasalnya guru memiliki posisi strategis dan punya peran penting dalam pembentukan nilai-nilai, pandangan, serta pemikiran siswa.

Namun menurut pengamat pendidikan, Bahrul Hayat, perlu ada penelitian lebih lanjut dari data ini. Alasannya, karena ia meyakini banyak faktor yang mendalangi opini intoleransi yang berkembang di kalangan guru ini. “Seberapa sering guru terekspose dalam persentuhan lintas agama misalnya,” kata Bahrul.

Menurut Bahrul perlu ada pendalaman variabel penelitian. Bahrul merasa penelitian ini belum cukup kuat, meskipun secara metodologi sudah mumpuni. Penelitian ini dilakukan dengan sampel sebanyak 2.237 guru. Dengan proporsi 1.172 guru sekolah negeri dan 1065 guru sekolah swasta (dalam penelitian ini madrasah).

Penelitian dilaksanakan selama satu bulan, dari 6 Agustus sampai 6 September 2018. Penelitian mengambil sampel dari 34 provinsi di Indonesia yang dipilih secara acak menggunakan teknik probability proporsional to size (PPS).

Sumber: tempo