UAS dan NU

oleh

SantriNow | Berbeda dengan UAS (ujian akhir semester) yang banyak ditakuti mahasiswa, UAS yang satu ini justru digemari mahasiswa. UAS (Ustadz Abdul Somad) telah menarik jutaan penggemar hingga followers-nya di media sosial (Medsos) mencapai empat jutaan.

Sang alumni Universitas Al-Azhar Mesir itu begitu fenomenal hingga tim sukses calon presiden (Capres) Prabowo menengarai jumlah viewer youtube sang ustadz tidak kurang 100 juta setiap harinya. Dengan angka yang fantastis itu wajar kalau harapan sangatlah besar terhadap sang ustadz untuk menjadi pendamping Prabowo dalam pilpres 2019. Usaha pencawapresan itu pun akhirnya kandas setelah yang bersangkutan menolak dan ingin istiqamah di dunia dakwah.

Kelebihan UAS dibandingkan penceramah yang lain adalah kemampuannya menjelaskan argumen fiqih yang pro amaliyah Ahlussunnah wal-Jamaah Indonesia. Atau yang lebih mudahnya Ahlussunnah wal-Jamaah al-Nahdliyyah yaitu paham Ahlussunnah dengan amalan dan tradisi yang umum berlaku di Indonesia. Ia yang tiba di Mesir persis pada tahun penulis tamat S1 di Mesir, memposisikan secara jelas dan pasti keberpihakannya pada praktik ibadah dan amaliyah yang umum berlaku di Indonesia.

Tidak banyak penceramah kondang yang membela keabsahan amalan dan tradisi Islam yang telah lama berjalan di Indonesia, dirinya, sebaliknya, tidak berlebihan jika penulis menyebutnya sebagai ‘Hujjah’ Aswaja al-Nahdliyyah yang mampu memberikan kepastian kebenaran amalan umat Islam Indonesia yang telah lama berjalan. Selain dirinya, apalagi yang membawa misi pemurnian Islam, dengan lantang bersikap kritis dan menentang amalan yang berlaku dan menganggapnya tidak berdasar pada ajaran Rasulullah.

UAS dengan jelas menerangkan bahwa tradisi tahlilan sudah ada semenjak zaman tabiin dan bahwa bacaan tahlil yang beredar di Indonesia adalah sesuai dengan apa yang Ibn Umar minta pada saat sahabat Rasululllah itu masih hidup, agar membacakan ayat-ayat tertentu sepeninggalnya beliau di alam baqa kelak. Ayat-ayat itulah yang ada dalam bacaan tahlil kematian dalam tradisi umat Islam Nusantara yang ternyata merujuk pada Ibn Umar yang bahkan ulama sekarang tidak banyak mengetahuinya.

Ketika banyak orang menuduh bahwa tahlilan berasal dari tradisi Hindu-Budha sehingga mereka menolaknya, UAS dengan tangkas mengkoreksi dan menyebutnya berakar pada amalan tabiin dan bukan dari tradisi di luar Islam. Demikian juga dengan tradisi kirim doa, baca Yasin pada tiap malam Jumat, bacaan Qunut Shubuh, baca bismillah jahar (suara keras) di awal al-Fatihah, itu semua diterangkan rujukannya dalam kitab-kitab mu’tabar (otoritatif) sehingga memberikan pencerahan kepada umat Islam Indonesia terkait apa-apa yang mereka kerjakan selama ini.

Di kalangan nahdliyyin, penjelasan tersebut telah banyak ada khususnya melalui tulisan semisal karya KH Muhyiddin Abdusshomad: Fiqh Tradisionalis, Hujjah NU, Hujjah Qoth’iyyah, Sholatlah Seperti Rasulullah (Dalil Keshahihan Shalat ala Aswaja), Syarah Aqidatul Awam, Argumen Amaliah di Bulan Sya’ban dan Ramadhan, dan Panduan Wisata Ziarah.

Demikian juga dengan apa yang selalu disampaikan oleh KH Marzuki Mustamar, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur dalam ceramahnya, selalu menjelaskan argumen amaliah an-Nahdliyyah. Yang berbeda dengan apa yang dilakukan oleh UAS terkait hal yang sama adalah kemampuannya menjangkau audiens yang tidak terjangkau oleh NU struktural.

Telah menjadi maklum bahwa mayoritas umat Islam Indonesia adalah penganut aqidah dan pengamal praktik ubudiah dan tradisi yang diperjuangkan kelestariannya oleh jamiah Nahdlatul Ulama. Yang menarik adalah adanya kesenjangan antara mayoritas umat yang mengamalkan tradisi NU dengan NU sendiri. Artinya bahwa tidak semua dari mereka mengaku NU meski mereka mempertahankan apa yang dipertahankan oleh NU.