Tapi Bukan Aku> Part 3

oleh
Tapi Bukan Aku> Part 3
SantriNow | Operasi berjalan dengan lancar.
Sang papa berkali-kali mengucapkan terimakasih pada sang dokter. Tapi hanya senyuman yang tergambar di wajah sang dokter.
“saya titip ini untuk istri bapak, surat ini dari si pendonor jantung itu ” ujarnya sembari menyerahkan selembar kertas, dengan tangan bergetar ia mengambil surat itu.

Senyum papa kembali merekah begitu melihat istrinya siuman. dengan hati -hati ia menyerahkan titipkan sang dokter pada istrinya.

Surat terakhir untuk “Bunda Peri”

Bunda, aku tahu Bunda benci sekali denganku, tapi izinkan aku bicara bunda, jangan kau tutup surat ini sebelum bunda menghabiskan kalimat-kalimatku.

Bunda, tujuan hidupku hanya 1, yaitu membuat bunda tersenyum, hanya itu bunda. Tapi.. sepertinya aku tak bisa mencapai tujuan hidupku, bunda tak pernah tersenyum karenaku,

Dan hal yang paling ku takutkanpun terjadi, bunda murka padaku, bahkan tak mau menganggapku sebagai putrinya.

Bunda, disurat terakhirku ini aku akan membuat pengakuan, ketahuilah bunda,”Bukan aku”,”Bukan aku pembunuh itu”,”Lelaki berjaket hitam dengan tulisan ‘Jagoar’ dipunggungnya, itulah yang kutangkap dari pembunuh itu”.

Bunda aku memang bersalah, aku terlambat menyelamatkan mereka, aku terlambat menangkap pembunuh itu, itulah salahku bunda . “Aku bukan Pembunuh”.

Setelah aku mengungkapkan itu, maukah bunda menarik kata-kata bunda,’Kau bukan anakku’. Bunda aku takut kehilangan bunda, jadi aku mohon, akuilah aku .

Bunda, hal yang paling terindah dalam kehidupanku adalah saat jantungku ini bersemayam dalam ‘Bunda Peri’ . Meski tujuan hidupku tak tercapai, setidaknya aku bisa hidup di jantung bunda.

Bunda, jika aku memiliki seribu nyawa, kan kugunakan semuanya untuk menebus kesalahanku, tapi apakah aku hanya memiliki satu yang mungkin sekarang sudah tak berfungsi lagi .

“Bunda maafkan aku, ridhoi kepergianku “.

Air mata spontan menetes dari sudut mata wanita bernama ‘bunda’. suaminya yang turut membaca juga menitikkan air mata.

“Dia memang seorang malaikat, maafkan aku putriku”ujar sang bunda di tengah isak tangisnya.

TAMAT [] Penulis: Uswah (Santri Banu Hasyim Sidoarjo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.