Tapi Bukan Aku> Part 2

oleh

Tapi Bukan Aku> Part 2SantriNow | “Plakkk” sebuah tamparan mendarat dipipiku, tatkala kedua orangtuaku pulang.
Aku meringis kesakitan. Tapi wanita di depanku ini seolah tak peduli. Ia berusaha melukaiku, entah berapa tamparan yang mendarat di pipi ini.

“Kalau kau benci pada adik tirimu, bukan begini caranya. Siapa yang mengajarimu menjadi pembunuh”, bentaknya berkali-kali. Aku membisu, tak satupun kata yang bisa kujelaskan pada wanita di depanku ini.

“Pergi kau! Jangan temui bunda. Dan mulai sekarang kau bukan anakku. Aku tidak punya anak pembunuh” Dia mendorong tubuhku dengan keras. Kalimat pengusiran itu sudah terlontar, aku tak punya pilihan selain pergi. Langkahku gontai menyusuri jalanan yang sepi di malam yang gelap gulita itu.

Air mata sudah tak berarti untuk mengungkapkan betapa hancurnya hati ini, diusir oleh ibu kandungku sendiri. “Tin..tin..tin..” bunyi klakson mobil tepat berada di sampingku. Aku tak berani menoleh melihat pemilik mobil itu, takut penjahat yang siap melahapku. Aku mempercepat langkahku. “Angel” sebuah teriakan membuatku menoleh.

Dia mengetahui namaku. Jadi, dia bukan penjahat seperti vonisku tadi. “Angel masuklah! Papa mengkhawatirkanmu” sederet kata yang mampu membuatku menangis lagi. Aku terharu mendengar kata ‘khawatir’ itu keluar dari mulut ayah tiriku ini.

“Aku tidak akan kembali ke rumah” ujarku sangat pelan sekali. “Oke, jika itu keputusanmu, tapi ikutlah bersama papa! Papa akan berusaha mengamankanmu”dia menarik tanganku mengajakku masuk ke dalam mobilnya.

“Kenapa kau peduli padaku? Bukankah ke dua anakmu..” “Aku tidak tahu apa yang terjadi, aku tidak tahu kebenarannya. Tapi, aku sangat menyayangimu. Kehilangan ke dua anak memang berat bagiku, tapi lebih berat lagi aku kehilangan ke tiganya” potongnya sebelum aku selesai menghabiskan kalimatku.

Mobil terus melaju dengan sempurna. Aku diam dalam kebisuan, nyaris tak percaya lelaki yang bukan ayah kandungku memilki pikiran yang begitu dalam. Bahkan menolongku setelah melihatku duduk disamping ke dua anaknya yang terkapar tak bernyawa.

“Tinggallah di sini sampai keadaan memulih!” ujarnya, setelah perjalanan kami berhenti di sebuah kota yang jauh dari asalku. “Ibu, aku titip anakku! Jaga dia baik –baik” pesannya pada wanita tua di sampingku , yang kini merangkulku. “ Kau jangan khawatir nak. Ini cucuku, tentu aku akan menjaganya, sampai kapanpun” balas wanita tua itu.

Sebuah pelukan menyelimutiku sebelum lelaki yang kupanggil ‘papa’ ini kembali pergi dengan mobilnya. Lambaian tangan mengiringi kepergiannya. Seolah tanda perpisahan. Sejak itulah aku tinggal di sini, kota yang jauh dari keberadaan bunda. Bandung, itulah namanya.

Tapi aku menyebutnya “Paris Vas Java” seperti kata legendaries wanita yang ku panggil “nenek” itulah yang merawatku, menyayangiku sepenuh hati. Juga mengajariku penuh kesabaran.

Sudah tiga tahun ini aku tinggal bersama nenek. Hingga tanpa terasa aku menginjak ke kelas satu Aliyah. Semua terasa indah meski aku tak memiliki teman selain nenek. Setidaknya alam hijau menenangkan hatiku.

Duniaku terasa berbeda jika aku hidup di tengah alam hijau. Seperti memiliki dunia baru. Seperti biasa, aku selalu mengunjungi nenek di kebun belakang rumah.

“Astagfirullah…kasihan sekali istrimu, cepat sembuh ya” ku tangkap suara nenek yang sedang menelpon. Ku hampiri beliau. “Siapa yang menenlephon nek ?” Tanyaku tiba-tiba, beliau yang murung setika memaksakan tersenyum melihat ke datanganku. “Bukan siapa-siapa nak.

Teman lama nenek”. “Neenek selalu mengajarkan pada Angel untuk jujur kan. Kalau begitu, kenapa nenek berbohong,” nenek menghembus panjang nafasnya lalu menatapku. Baiklah sayang, nenek juju. Yang telepon tadi papamu”
“Apa yang dikatakan papa nek ? Serangku.

Bundamu kecelakaan, tapi jangan khawatir, dia baik-baik saja. Kau berdoa ya untuk beliau” tenggorokanku tercekat, kabar itu seakan meruntuhkan langit di depanku.

Aku berlari, menjauhi nenek yang terus meneriaki namaku. Sebuah kendaraan melintas di depanku. Aku segera naik di belakang mobil box, nenek menyusulku. Tapi sia-sia. Aku telah pergi di bawa mobil box itu.

Dan benar saja, mobil itu berhenti di kota Surabaya. Aku segera turun. Dan berjalan menuju kawasan perumahan ciputra. Dimana bunda tinggal di sana. Langkahku berhenti. Sebuah mobil BMW berplat nomor w 5408 AB melintas di depanku. Itu mobil papa. Aku segera mencegat taksi dan menyusul laju mobil BMW itu.

Mobil BMW silver itu berhenti di rumah sakit Dr. Sutomo, aku turut turun, dan berlari. “mbak ongkosnya dulu” teriak si sopir. Aku baru ingat kalau aku tidak membawa uang sepersen. Aku lirik ke tangan kiriku. Di sana terdapat gelas emas yang melingkar indah. Segera ku lepas dan menyerahkan pada sang sopir.

Sebelum kehilangan Mak. Ku kejar papa.
“Pak, istri bapak harus menjalani operasi cangkok jantung, tapi sampai saat ini, istri bapak belum dapat donor jantung”

Kudengar sang dokter sedang berbincang dengan papa. Papa terlihat putus asa. Dokter meninggalkannya.
Aku segera mengejar sang dokter.

To be