Jangan Galau UN, Anakku !

oleh

SantriNow | Seseorang yang akan menghadapi ujian, tentu akan diselimuti kegalauan. Pikiran dan perasaan menjadi tidak karuan, kacau-balau, atau kurang menentu. Pikiran dan perasaan semacam ini akan berefek terhadap sikap kita dalam menghadapi ujian tersebut.

Kegalauan ini terjadi karena kurangnya persiapan seseorang. Kondisi seperti inilah yang saat ini menyerang para siswa-siswi dalam menghadapi Ujian Nasional (UN).

UN sudah di ambang pintu. Semakin dekat waktu UN, secara psikologis, kecemasan siswa akan kian meningkat. Paling tidak, gambaran kecemasan itulah yang muncul ketika kita bertanya kepada siswa. Berdasarkan pengamatan, berbagai bentuk kecemasan yang menyelimuti perasaan para siswa.

Ada perasaan takut tidak lulus, perasaan tidak mampu menjawab soal, perasaan kurang percaya diri dan perasaan  takut nilai tidak sesuai dengan harapan. Kondisi ini tentu saja akan memberikan tekanan  pada kejiwaan siswa. Jika tidak dikelola dengan baik, perasaan negatif itu tentu akan berdampak kurang baik bagi siswa.

Kegalauan perasaan siswa tidak seharusnya terjadi. UN bukanlah penentuan terakhir keberhasilan dalam kehidupan. Masih sangat banyak persoalan lain yang semestinya menjadi penentu keberhasilan hidup. Namun, bukan berarti UN harus dipandang sebelah mata.

UN  merupakan suatu proses, anak tangga, atau jembatan yang harus dilalui dengan hati-hati. Suatu proses yang dijalani dengan benar, tentu akan memberikan hasil sesuai harapan. Para siswa yang selama ini telah menjalani proses belajar dengan benar, tentu akan berhasil dengan memuaskan.

Peranan Guru
Guru memiliki peranan yang sangat besar bagi keberhasilan siswa dalam belajar. Karena itu, guru sering menjadi kambing hitam ketika terjadi ketidakberhasilan. Tetapi ketika berhasil, peranan guru jarang sekali disebutkan. Apapun kondisinya, begitulah gambaran kemuliaan profesi guru.

Gambaran negatif ini akan memberikan kesan umum kurang baik terhadap kedudukan guru di perasaan dan pikiran masyarakat, termasuk siswa.

Suasana perasaan dan pikiran yang dihadapi para siswa saat ini tak ubahnya seperti diserang depresi. Meskipun ringan, jika tidak ditangani dengan benar, depresi tersebut bisa menelikung siswa dari kebenaran. Dalam kondisi seperti ini, fungsi guru sangat penting, terutama fungsi sebagai motivator dan advisor.

Untuk memperkokoh perasaan dan pikiran siswa ke arah positif, mereka berhak memperoleh motivasi-motivasi dan nasihat-nasihat bernas. Kemasan motivasi dan nasihat itu akan menjadi senjata untuk melumpuhkan berbagai kegalauan.

Motivasi dan nasihat tersebut bisa disajikan melalui berbagai media pembelajaran di kelas. Pemanfaatan media pembelajaran seperti slide, proyektor, video untuk mengemas motivasi dan nasihat ketika belajar sangat berdampak positif, terutama dalam hal memperkokoh sikap dan sifat positif.

Model motivasi dan nasihat seperti ini menuntut peranan yang ekstra dari para guru. Ketika inilah, para siswa merasa tergantung pada guru yang inovator, kreator dan inspirator.

Harus dipahami bahwa siswa kita sebenarnya kurang motivasi. Yang banyak mereka terima, yaitu ceramah yang cukup menyakitkan. Ceramah ini justru akan menambah kegalauan.

Keberadaan guru yang akan terlalu mengandalkan sifat cerewet, secara psikologis, cukup mengganggu perasaan positif siswa sehingga bisa saja berubah menjadi negatif. Jadi, untuk mengatasi kegalauan ini, guru dituntut lebih mengedepankan kemampuan pedagogiknya.

Saat ini, kegalauan siswa dalam rangka UN seperti kurang mendapat perhatian dari berbagai pihak. Siswa lebih banyak dianggap sebagai pesalah yang harus dimarahi. Pada akhirnya, kegalauan para siswa bagaikan gabungan berbagai lapisan yang kian membesar dan memberatkan perasaan/pikiran.

Tidak ada jalan keluar terbaik yang bisa mereka lakukan untuk suatu keberhasilan. Beban demi beban dihadapi siswa sejak awal hingga akhir pendidikannya.

Kondisi kejiwaan para siswa menjelang UN patut menjadi perhatian berbagai pihak. Orangtua sebaiknya memberikan dukungan yang bersifat kasih sayang keluarga. Pihak sekolah, khususnya para guru selayaknya terus memotivasi secara jujur, keilmuan, empati dan simpati.

Pemerintah sudah seharusnya merancang solusi terbaik bagi pelaksanaan UN yang lebih sempurna. Namun demikian, UN tahun ini akan menjadi bukti kejujuran hasil yang dicapai melalui 20 paket yang berbeda. Di akhir tulisan ini, penulis berpesan: Jangan galau UN, anakku!/Musa Ismail/AsMu

Semoga Manfaat []