Ustadz Sesat Pikir Tidak Layak Jadi Mubaligh

oleh

Ustadz Sesat Pikir Tidak Layak Jadi MubalighSantriNow | Hanya Ustadz sesat pikir yang bilang, kalau baginda Nabi Muhammad pernah sesat. Kalau tidak sesat pikir mana mungkin seorang ustadz akan bilang begitu.

Hanya orang wahabi yang berani berceramah kalau Nabi Muhammad tidak layak diperingati hari kelahirannya (Maulid Nabi).

Penceramah semacam ini tidak layak jadi panutan umat dimana pun. Karena kalau sampai umat ikut ustadz macam ini akibatnya jauhlah mereka dari syafaat Nabi Muhammad.

Karena ujung-ujungnya ia ingin menyampaikan kalau Maulid Nabi, Dibaan, Tahlilan, Manaqiban dan semacamnya itu bid’ah dhalalah.

Baca juga: Paham Wahabi dan Jenggotisasi di Indonesia

Ustaz yang mengaku bukan lulusan pesantren, dan pernah di penjara yang kemudian hijrah itu mengutip QS ad-Dhuha ayat 7, yang berbunyi:

‎وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ

Kata “dhallan” oleh ustadz tersebut diartikan “sesat”. Dengan bertanya pada seorang teman di sampingnya, ayat tersebut kemudian diterjemahkan “ketika Allah mendapati kamu dalam keadaan “sesat lalu Allah memberimu “petunjuk”.

Terjemahan itu sedikit berbeda dengan terjemahan kemenag: “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk”.

Karena kecerobohan ustadz tersebut dalam menterjemah Quran akhirnya dapat kecaman di media sosial.

Menurut tulisan Gus Nadir Hosen, Ketua Cabang NU di Australia bahwa menerjemahkan kata dhall dalam konteks surat ini sebagai “sesat” amat sangat berbahaya.

Bagaimana kalau kita lihat kitab Tafsir?

Tafsir at-Thabari mengutip penjelasan as-Suddi yang mengatakan:

وقال السدي في ذلك ما حدثنا ابن حميد ، قال : ثنا مهران ، عن السدي ( { ووجدك ضالا } ) قال : كان على أمر قومه أربعين عاما . وقيل : عني بذلك : ووجدك في قوم ضلال فهداك

Jadi kebingungan atau “kesesatan” itu berkenaan dengan kaum jahiliah dimana Nabi tinggal bersama mereka selama 40 tahun sebelum mendapatkan wahyu.

Dengan demikian yang sesat itu mereka, bukan Nabi. Nabi dalam kondisi galau atau kebingungan menghadapi kaumnya itu. Sampai kemudian diberi petunjuk berupa wahyu oleh Allah. Kalau Nabi juga sesat saat itu, apa bedanya sama kaum jahiliyah?

Sangat bahaya penjelasan Ustaz yg terkenal dengan sebutan gapleh ini (gaul tapi soleh). Janganlah menyamakan kondisi pribadi sang ustaz sebelum dia hijrah dengan kondisi Muhammad bin Abdullah sebelum menerima wahyu.

Tulisan ini bukan bermaksud ingin merendahkan sang ustadz tapi perlu hati-hati dalam menyampaikan dakwah ke masyarakat. Dan mudah-mudahan ustadz diberikan ilmu yang mumpuni supaya jamaah yang ikut pengajian tidak sesat semua. Amin []