Tulisan Denny Siregar Tentang Alasan Jokowi Memilih Kyai Ma’ruf Amin

oleh

Tulisan Denny Siregar Tentang Alasan Jokowi Memilih Kyai Ma'ruf AminSantriNow | Tulisan Denny Siregar yang dimuat di website pribadinya perlu juga dibaca khususya terkait alasan Jokowi memilih Kyai Ma’ruf Amin bukan Mahfud MD.

Mengapa Jokowi memilih Kyai Ma’ruf Amin?

Jawabannya; Karena berbahaya untuk Pilpres 2024 nanti.

Pilpres 2024, tiap-tiap partai koalisi telah memiliki jagoannya. Di tahun 2019 mereka mengalah, sebab ini memang tahunnya Jokowi. Namun 2024 nanti dianggap tahun kosong, dimana siapa pun memiliki peluang yang sama untuk bertarung karena tidak ada petahana.

Kondisi seperti ini bakal rusak jika ada Mahfud MD disana. Karena bila Mahfud jadi Wapres, diperkirakan ia akan membangun citra sehingga malah menjadi lawan nantinya.

Karena itu lah, ini sebenarnya bukan masalah Mahfud MD saja. Seandainya Moeldoko atau CT atau Sri Mulyani yang ada di posisi Mahfud pun akan mengalami hal yang sama. Mereka akan disingkirkan juga.

Para petinggi partai memaksa agar Mahfud tidak jadi Wapres di menit-menit terakhir. Mengapa mereka tidak mendesak Jokowi pada jauh-jauh hari? Mereka sadar, kalau Jokowi didesak pada waktu awal, bisa berkelit. Dan disana Jokowi jagonya. Sedangkan untuk saat ini siapa pun yang mendampingi Jokowi tidak terlalu penting, karena toh ini periode terakhirnya.

Baca juga: Batal Dipinang Cawapres Jokowi, Tanggapan Mahfud MD Menyejukkan

Desakan itu termasuk “ancaman” untuk mogok atau membentuk poros ketiga, jika Jokowi sampai memaksa supaya Mahfud MD menjadi Cawapresnya. Dan disanalah Jokowi tersandera, melihat situasi berbahaya koalisi yang dia bangun berpotensi rusak dan tidak solid.

Jadi keputusan memilih Maruf Amin, bukan sepenuhnya keinginan Jokowi, tetapi demi soliditas koalisi. Jokowi tidak akan bisa menang tanpa koalisi, begitu juga sebaliknya.

Pilihan terbaik untuk itu jelas Ma’ruf Amin. Awalnya ada JK, dan semua partai setuju. Tapi karena JK terbentur di peraturan MK, maka persetujuan itu menjadi masalah. JK disetujui semua partai koalisi, karena 2024 gak mungkin nyalon lagi.

Sesederhana itu, bukan sesuatu yang aneh dengan gerakan strategi yang tampak rumit. Semua pragmatis, ada kepentingan yang berbenturan, karena begitulah politik kita yang harus mengakomodir kepentingan banyak orang.

Lalu, seandainya anda jadi Jokowi, apa yang harus anda lakukan? Memaksa dengan keras kepala, “Pokoknya gua pilih ini. Titik!” Begitu, ya?

Ya gak bisa. Karena kalau koalisi rusak dan pecah, pihak lawan akan bersorak dan mereka berpotensi menang.

Jokowi mengambil keputusan itu juga bukan senang, karena ia pasti berpikir lebih luas dari sekedar siapa “nama” pendampingnya. Ada saatnya kompromi demi soliditas, toh nanti dia juga yang kerja, kerja, kerja.

Saya juga termasuk yang kecewa, bukan karena Mahfud gak jadi, toh saya juga gak dapat apa-apa, apalagi dijanjikan Komisaris seperti kata kampret yang durhaka. Saya kecewa karena Ma’ruf Amin yang bagi saya pribadi banyak keputusannya yang tidak saya setujui.

Baca juga: Santri Sampang Sambut Gegap Gempita Deklarasi Jokowi-Kyai Ma’ruf

Tulisan ini kami sarikan dari kolom Denny Siregar di website pribadinya pada pukul 13.32/10/8/18. Semoga tulisan ini memberikan tambahan referensi bagi kita semua. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.