Tapi Bukan Aku

oleh

Tapi Bukan AkuSantriNow | Hujan deras mengguyuri kota Surabaya sejak satu jam yang lalu. Hawa dingin mulai menyentuh. Aku meringkuk dibawah selimut menahan hawa dingin yang menyerangku. Tiba –tiba aku merindukan sosok ayah yang sudah lima tahun ini meninggal dunia.

Ku ambil sebuah photo yang bertengger manis dimeja kecil samping ranjangku. Kupeluk photo itu sambil memejamkan mata, dan kembali bernostalgia dimasa sang ayah menemani masa kecilku. Lelaki itu tak letih mengajakku bermain meski sepulang dari kantor. Dia bijaksana, penyayang, itu penilaianku jika ada orang lain menanyakan perihal ayah. Zlapp!!!!

Aliran listrik dirumahku mati. Secara otomatis semua ruangan di rumah itu menjadi gelap. Aku teringat ke dua adikku sedang bermain diruang tamu, kasihan mereka. Aku segera beranjak mencari senter di laci meja samping ranjangku. Pyarrr!!!

Terdengar suara pecahan kaca. Dan aku baru sadar, jika aku masih memangku pigora photo ayah. Ingin aku punguti pecahan kaca itu. Tapi, bayangan kedua adikku kembali menari di pelupuk mataku. Aku tak peduli dengan pecahan kaca itu. Aku segera merebut senter dilaci dan berlari keluar

Aku masih menuruni anak tangga. Tapi sebuah bayangan besar melintas di depanku. Bayangan itu menuju ruang tamu. Aku segera mengejarnya, “dug” kakiku tersandung. Aku kembali bangkit dan mengejar bayangan itu. Perasaan takut, khawatir, cemas, semua jadi satu. Mengingat bunda dan ayah tiriku pergi. Aku semakin mencemaskan keadaan adikku.

Aku terkejut tatkala sampai di ruang tamu. Banyak darah tercecer di lantai. Kuterangi semua sudut ruangan. Tak ada siapapun disana.

Bayangan itu juga tak terlihat. Ku lihat kedua adikku yang terkapar di lantai. Mereka tak berdaya. Kuperiksa denyut nadinya, tak ada tanda kehidupan di sana. Aku menagis dan menyesali keterlambatanku.

Sebuah bayangan kembali melintas dari jendela rumahku . Ku kejar kembali bayangan itu.

“BRENGSEK .. Jangan lari kau”, teriakku lantang. Lelaki itu lari, dan hanya tulisan ‘jaguar’ yang sempat kulihat dari punggung lelaki itu. Kakiku lemas, aku tak sanggup mengejar lelaki tadi dan akhirnya aku kembali keruang tamu.

Aku bergidik ngeri mendapati kedua adikku yang mati tragis. Di samping keduanya, tergeletak pisau tajam berlumur darah. Aku tak sanggup menyangga kakiku, duduk menekuk lutut itu yang terjadi. Aku mengambil pisau itu dan kulempar jauh-jauh.

To be..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.