Santri Wajib Memuliakan Kyai, Korelasi Murid dan Gurunya

oleh

Santri Wajib Memuliakan Kyai, Korelasi Murid dan GurunyaSantriNow | Santri yang baik tentu tidak akan membangkang terhadap apa yang diperintah gurunya selama tidak melanggar agama dan negara. Artinya santri wajib memuliakan kyai.

Pesan kitab Taklim: “Siapa yang menyakiti gurunya, ia pasti terhalang keberkahan ilmunya, dan hanya sedikit saja ilmunya ya ng bermanfaat. ”(Burhanuddin az-Zarnuji, 1195 M)”

Maka tidak salah bila Gus Dur pernah menyatakan ” saya kan orang pesantren jadi harus mengikuti apa kata kyai, kalau sudah 5 kyai itu memerintah saya apa saja, maka saya lakukan” kira-kira begitu bahasa Gus Dur pada saat dihadirkan di acara kick andy beberapa tahun lalu.

Pesantren telah menanamkan kepada para santri dasar-dasar bagaimana cara jadi santri yang bisa berhasil. Pesantren tidak hanya mementingkan tentang keilmuan secara akademisi namun yang justru tak kalah penting adalah akhlaqul karimah.

Pesantren tidak memandang seberapa banyak ilmu yang dimiliki santri melainkan sejauh mana dia menggali dan belajar kepada ulama. Pendidikan pesantren tidak bertujuan meraih materi, kekuasaan dan keagungan duniawi, tapi semata-mata kewajiban dan pengabdian kepada Allah SWT.

Tradisi di pesantren mendidik santri untuk memuliakan kiai dengan berbagai bentuk penghormatan. Di pesantren, akan diberi cara unik santri mengabdikan diri, untuk sekadar ngalap berkah. Mereka yang pernah jadi santri, tak akan kaget, mengapa mereka kerap berebut sisa minuman sang kiai, misalnya. Baca juga: 9+ Amalan Pagi Hari & Fadhilahnya, Ala Santri Zaman Now

Beberapa Contoh Tradisi Santri Takzim pada Kyai

Pada situasi tertentu, santri akan menuunduk yaitu saat berhadapan atau ketika berpapasan dengan sang guru. Santri diharuskan menjaga sopan santun dalam bertutur serta berperilaku baik kepada para pendidiknya, mulai dari kiai, gus (putra kiai), ustazd, termasuk pula kepada para senior sesama santri. Sehingga petuah dan nasehat mereka dijalankan.

Hubungan santri dan kiai, diharapkan akan terus begitu. Korelasi tak akan putus, meski seorang santri tak lagi menuntut ilmu di pesantren. Ikatan emosi seperti itu di banyak kasus, bahkan menjadikan antara satu dan lainnya, layaknya ikatan emosional antara anak dan bapak.

Mengapa Doktrin Seperti Itu Terjadi di Pesantren

Sejarah mencatat bagaimana generasi salaf memuliakan gurunya. Imam Syafi’i misalnya. Dinukil dari Manaqib al-Imam as-Syafi’i, tokoh pencetus Mazhab Syafi’i itu mencontohkan cara bersikap kepada guru, seperti yang ditunjukkannya di hadapan Imam Malik (gurunya).

Diceritakan, Imam Syafi’i begitu hati-hati dalam membuka lembaran demi lembaran kitab yang dipelajari, khususnya pada saat berada di depan gurunya. “Aku tidak ingin membuatnya terusik dengan gesekan kertas,” kata Syafi’i. Beragam cara ditempuh generasi salaf sebagai bentuk takzim mereka kepada sosok guru.

Tradisi pendidikan holistik yang diterapkan di pesantren selama berabad-abad ini terbukti menghasilkan generasi santri yang berkualitas. Pesantren sudah banyak melahirkan figur pemimpin yang tak hanya dibekali agama, tetapi juga alat menatap kehidupan nyata. Baca juga: Sekarang Santri Wajib Menguasai Teknologi

Kesimpulan

Bila guru hanya dianggap sebagai pengajar, karyawan institusi pendidikan, dan sebatas transfer pelajaran, sementara di saat yang sama, murid tak ubahnya didukkan sebagai obyek, tanpa disertai penempaan intuisi itu, yang tersisa sebenarnya tinggal rutinitas belaka. Pendidikan yang niretika, nihil orientasi, dan jauh dari aspek-aspek religiusitas. Maka hormatilah gurumu maka hidupmu akan berkah dan berhasil dunia akhirat []

Tulisan ini disarikan dari M. Nashih Nashrullah