Mengapa Anak-anak Memilih Pesantren?

oleh
Mengapa Anak-anak Memilh Pesantren?
Gambar: Pesantren Banu Hasyim Waru Sidoarjo

SantriNow | Sekarang para orang tua rata-rata memilih pesantren sebagai tempat belajar untuk anak-anaknya. Minat masyarakat untuk menitipkan anaknya di lembaga pesantren begitu tinggi. Buktnya, pondok pesantren terus bermunculan di mana-mana. Bahkan menurut data Kementrian Agama tahun 2012 jumlah pondok pesantren berjumlah 27.230. Jumlah yang tidak sedikit.

Mengapa mereka lebih memilih pesantren ketimbang lembaga lain?

Menurut Kementrina Agama, pesantren selain mendidik pengetahuan, juga mendidik pendidikan karakter. “Selain dididik pengetahuannya, pesantren juga melangsungkan pendidikan karakter,” tutur Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin (LHS) pada acara Bincang Nasional Pemberdayaan Lembaga Pesantren di kantor Bank Indonesia Surabaya, Rabu (5/11).

Sehingga situasi pesntren yang begitu, lanjut Menag, jelas menguntungkan bagi santri. Karena, selain berfungsi sebagai tempat untuk mengais pengetahuan, pesantren juga menjadi wadah belajar santri bersama rekan-rekannya, serta tempat belajar berinteraksi untuk hidup bersama, menerima perbedaan, dan menjadi manusia Indonesia seutuhnya.

Manusia Indonesia waktu lahir sejatinya “bukanlah” otomatis jadi orang Indonesia, melainkan masih mewakili daerah dan sukunya. Tapi, sesudah berinteraksi dengan orang lain, menghargai perbedaan, barulah ia menjadi manusia Indonesia seutuhnya.

Baca: Benteng Terakhir Umat Islam Indonesia adalah Pesantren

Apa Keuntungan Lain Ngaji di Pesantren?

Keuntungan lain yang didapat santri adalah Nasionaliame (cinta tanah air). Sejarah telah mencatat bahwa pesantren merupakan lembaga yang mengajarkan Islam moderat. Ajaran tersebut akan terus bertahan hingga hari ini. Dalam jiwa-jiwa santri tertanam rasa cinta dan aksi bela negara. “Makanya, kalau ada pesantren yang mengajarkan radikalisme, itu pastinya pesantren abal-abal,” tuturnya.

Dan juga yang sangat membanggakan adalah pesantren asli lembaga pendidikan produk Indonesia. Karena itu pesantren sebagai lembaga pendidikan asli Indonesia, ia mempunyai ciri khusus yang tidak dipunyai oleh lembaga pendidikan di negara mana pun selain Indonesia. Mengamati hal itu, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin memetakan tiga trilogi pesantren sebagai bekal pengembangan potensi ekonominya.

“Ada tiga hal yakni dari segi pola pendidikan, aspek keagamaan, dan aspek sosialnya,” katanya

Luqman Hakim memaparkan khusus dalam aspek sosial, potensi pesantren adalah peningkatan ekonomi masyarakat sekitar. Karena santri di pesantren selain belajar keagamaan juga telah terbiasa dididik mandiri sekaligus tidak asing bersinggungan dengan manusia lain yang beragam dalam kehidupan sehari-hari.

Sehingga, pemerintah wajib sigap dan sejalan dalam menyiapkan kesetaraan regulasi, kesamaan program, dan kesetaraan anggaran, supaya pesantren tidak terus menerus ketinggalan oleh lembaga negara lainnya.

Baca juga: Peran Pesantren dalam Mencegah Penyebaran Ekstremisme Islam

Hal ini sangat penting. Karena pendidikan pesantren menjadi salah satu bagian terbesar yang bersinggungan dengan kebutuhan pendidikan anak-anak masyarakat.

Faktanya, lanjut Menag Lukman, minat masyarakat supaya anaknya menempuh pendidikan di pesantren terus meningkat. Data sekarang menunjukan sekurang-kurangnya ada 3.004.807 anak yang berstatus sebagai santri mukim (79,93 %). Adapun sisanya, sebanyak 754.391 untuk santri non mukim.

Tulisan ini disarikan dari ditpdpontren.kemenag.go.id []