Love and Dream>Part 5-End

oleh
 SantriNow | Maret 2016 “Naura… Kerudungnya yang bagus dong… Jelek amat sih” Teriak Azqi di telinga Naura saat mendapati kekonyolan sahabatnya.
“Biarin. Aku lagi sumpek lo Azqi… Lihat kamu baca terus hidupnya. ” Naura mendorong Azqi mundur dari telinganya. Mereka kini sedang duduk di bangku perpustakaan. Tapi, di perpustakaan Naura hanya memperhatikan sahabatnya tanpa mau ikut serta membaca.
“Tanggung nih… Ceritanya lagi bagus. Cleopatra lagi ditinggal sama Caesar pulang negaranya.” Kembali Azqi pada halamannya.
Naurapun diam. Tiba-tiba saja ia teringat kejadian dua tahun yang lalu. Kejadian yang menurutnya cocok masuk kategori cobaan terbesar dalam persahabatannya. Persahabatannya diancam rusak karena cinta.
“Az…  Kamu masih ingat dulu gak? Waktu kita lagi jauhan?” Celetuk Naura dengan mata lurus kedepan. Membuat Azqi berpaling dari buku sejarah Cleopatranya.
“Ah, Jangan diingat-ingat! Malu lo… Tapi, seru juga ya? Hahahaha…”
“Iya, dulu kamu jauhin aku Az…”
“Karena kau jauhin aku duluan.”
“Kamu kok ikut-ikutan? Tapi,  kamu malah lebih lama diemin aku. Aku udah sembuh tapi kamu gak sembuh-sembuh.”
“Kamu sih, pake cemburu-cemburu gak jelas. Jelas-jelas kamu udah dapat dorongan dari Ustadz Salman penuh. Eh, masih berfikir Ustadz Salman suka sama aku. Nggak mungkin Ustadz Salman suka sama orang kaya aku Ra…
Cintaku cuma di negeri dongeng.  Pake cerita lagi ke Ustadz Salman” Azqi berceloteh panjang lebar sambil tersenyum geli.
“Lha kamu sih, so sweet  banget kayaknya. Kamu juga nulis di dairy kalo Ustadz perhatian banget sama kamu. Ya, aku kan takut nanti kamu nyangka Ustadz Salman suka lagi sama kamu. Akukan gak mau kamu merasa di PHP-in”
“Perempuan memang begitu Ra. Aku memang sempat terbesit rasa percaya dan menyangka kalo Ustadz Salman suka sama aku. Tapi, lagi-lagi logikaku jalan. Aku siapa? Aku bisa apa? Aku secantik apa?”
“Ih… Sukanya merendah! Cinta itu nggak mandang sayang…. Kamu baik, kamu pinter, kamu juga…”
“Ah… Itu Cuma anggapan kamu!” Azqi mengibaskan tangannya. “Oh ya, Kamu serius sama perjodohan Ustadz
Muhib? Kamu beneran terima?”
“Nggak tahu Az, aku bingung. Aku memang sempat menanggapi. Tapi, Kayaknya aku masih suka deh sama Ustadz Salman. Juga gara-gara perjodohan itu, hafalan Qur’anku makin gak jelas nih. Aku niat putusin aja, aku gak nyaman
Az…”
“Ih, gimana sih nggak konsisten deh. Kemarin-kemarin kamu bilang, kamu sukaaaaaa…. banget sama Mas Aldi soradaranya Ustadz Muhib. Tapi sekarang? Tahu gini, terus gimana? Semua tahu perjodohan itu Ra. Ustadz Salman juga tahu.  Kamu sih, buru-buru banget! Sekarang, siapa yang mau tanggung jawab?”
“Ah… Azqi. Terus aku harus gimana? Aku masih suka sama Ustadz Salman…”
“Ayo, coba fikir. Siapa sih yang gak punya pandangan sama cewek sesempurna kamu Ra? Kamu buru-buru gitu aja pindah ke lain hati. Ustadz Salman, kalo memang suka sama kamu ya pasti nunggu kamu lulus buat nyatakan. Semua butuh proses. Aku memang nggak tahu perasaan Ustadz Salman seperti apa. Tapi, sepertinya sudah jelas.
Dan sekarang, kamu ubah semuanya dengan menanggapi perjodohan itu.”
“Aku udah nggak yakin lagi Az, semenjak berita Ustadz Salman yang mau nikah itu makin menyebar kemana-mana. Aku udah pupus harapan.
Ya,  aku kira Ustadz Salman emang nggak suka sama aku. Yaelah…jadi, Ustadz Salman punya pandangan gitu sama aku?”
“Ya gak tahu lagi sih… Cuma, pendapatku kurang lebih kayak gitu”
“Kamu gimana, masih suka?” Naura bertanya lugu. Membuat Azqi tertawa terpingkal-pigkal.
“Udah nggak lah! Katanya punya orang? Ya uadah nggak ikut-ikut. Entah itu kamu, atau sama orang yang digosipin itu… Terserah. Aku benar-benar mundur. Hahaha… Enak kan, gak ada saingan??” Ucap Azqi sungguh-sungguh. Kini, mereka sudah kelas tiga bangku Aliyah. Dan Azqi benar-benar melupakan cintanya meski terkadang ragu. Benarkah secuil rasa itu harus terbang?
“Yaudah. Alhamdulillah. Ustadz Salman buat aku aja… Hahahaha” Mereka tertawa. Sore itu, perpustakaan sudah sepi dan sudah dikunci. Asyiknya bercerita membuat mereka tidak sadar bahwa mereka tengah terkunci.
Menyadari terkunci dari luar membuat keduanya berlari terbirit-birit menuju pintu dan mendobrak-dobrak.
“Wei… Akhwati… Iftahna!!!
Pintu terbuka. Ternyata Ustadz Salman. Mendengar suara teriak-teriak lantas membuka pintu tersebut.
“Kok bisa!” Ujar Ustadz Salman sambil tersenyum melihat dua gadis di depannya. Disambut dengan cekikikan Azqi yang menggoda Naura.
“Syukron  Ustadz…” Azqi mencolek siku Naura, membuat wajah Naura memerah seketika.
“Lain kali, kalo belajar lihat waktu. Keasyikan baca apa cerita?” Seketika Ustadz Salman berlalu.
“Udahlah, biar Ustadz Salman punya siapa, terserah. Aku pasrah…” Naura memandang punggung Ustadz Salman tak berdaya.
“Mikirin ujian aja… Habis ini juga lulus, kita serahin aja sama Allah. Meski kalian tidak berjodoh semoga Allah mengirimkan yang lebih baik buat kamu Ra.”
Epilog . November 2023
Suara sound system  makin mendebarkan dada. Alunan sholawat terdengar merdu. Entah mengapa semua orang ingin menangis mendengar alunan sholawat itu.
Dulu sekali, Azqi bermimpi bersama Naura sahabatnya. Mereka sukses bersama,  tetap langgeng, rukun hingga dewasa. Dan Allah mengabulakan do’anya. Kini, di genggamnya erat tangan Naura yang tengah menuntunnya menuju beranda rumah. Tampak banyak orang tengah menunggu Azqi keluar dari  kamar dengan gaun pengantinya.
“Nggak nyangka ya. BMW buat kamu Az…” Bisik Naura.
“Apa itu?”
“Bahagia, mawaddah, wa rohmah!”
Dari jauh, Mas Syarif suami Naura memperhatikan istrinya. Naura ikut tersenyum.
Semua memang tak pernah tahu
Kapan takdir akan memporak porandakan rencana
memutarbalikkan harapan manusia
Tapi,  usaha, keyakinan hati, dan do’a sungguh-sungguh
Mampu mengubah semuanya
Menjadi jauh lebih indah tanpa bisa kita menduganya
dengan seizinNya
Janti, 4 Maret 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.