Love and Dream>Part 3

oleh

 

SantriNow | Juni 2014 Gadis cantik itu menekuri wajahnya di cermin. Tapi, siapa tahu bahwa ia sekarang tidak sedang fokus pada pemandangan di depannya. Ia tengah berfikir tentang hubungannya dengan Azqi yang tengah berantakan. Naura,  ia menyayangi sahabatnya itu. Meski terkadang Azqi memang sering membuatnya kesal.

Terlempar ia pada bayangan masa indah, saat ia masih rukun. Akankah semua itu hanya jadi kenangan?  Ah, cinta memang merusak semuanya. Tapi, tunggu. Bukannya cintanya pada Ustadz Salman mampu membangun semangat dasyat di jiwanya? Bahkan sekarang ia sudah sampai pada nadhom ke-500 lebih. Alhamdulillah…
Sekarang, di genggamannya kini ada kitab mini Alfiyah yang sedikit lecek. Dibolak balik lagi. Membuatnya kembali merasakan betapa Alfiyah benar-benar sukar untuk dihafal. Kata orang, menghafal Alfiyah memang banyak cobaannya. Diantaranya sakit, rizqi yang tidak lancar, dan cobaan lawan jenis. Naura mengurut dada. Semua coaan itu memang ada mengiringi hari-harinya. Sedang Azqi tidak ada di sisinya.
Tapi, ia masih merasa beruntung. Dengan bimbingan dan perhatian penuh dari Ustadz Salman, Naura sudah merasa cukup. Sebuah moment yang sangat berharga adalah saat ia sampai pada nadhom ke-500.
“Terima kasih Ustadz… Saya sampai bingung balasnya seperti apa.” Ujar Naura malu-malu saat Ustadz Salman menyerahkan hadiah berupa mukenah, Al-Qur’an, dan kitab untuk pencapaiannya. Bukan kepalang rasa bahagianya. Apalagi hadiah itu, sama seperti mahar di acara-acara nikahan. Ada seperangkat alat sholat, Al-Qur’an,  dan… Hmmm semua itu membuat Naura bahagia bukan main.
“Lho, itu kan hadiah Ra, saya sudah janji kan? Kurang apa? Kamu mau Husni Mubarrok-idola Naura-Ustadz  undang kesini?  Iya Ra… Tenang… Besok Ustadz bawa kesini buat kamu…” Canda Ustadz Salman pada Naura yang berbunga-bunga.
Naura terbang dengan semua kata itu. Cinta dengan secepat kilat membutakannya. Teringat lagi ia pada perjuangan kerasnya. Menghafal Alfiyah  itu menurutnya seperti sebuah mukjizat. Semangat membeludak di luar logikanya. Meski cobaan bertubi-tubi mengganggu hafalannya.
Suatu musim, dimana ia sakit terus menerus. Tubuhnya bertubi-tubi merasakan panas yang tidak biasa.
Di hari yang lain, ia menyadari bahwa rizqi orang tuanya yang biasanya Alhamdulillah  tergolong lancar, seret begitu saja. Keluarganya dilanda galau berat karena kekurangan.
Cobaan terakhir adalah cinta. Ustadz Salman begitu menyilaukan memang di matanya. Beruntung ia sedang berada dalam pesantren dan mengantongi beberapa ilmu.
Degan begitu, ia tidak menjadi kelewat batas. Ia masih memegang teguh apa yang di syari’atkan Allah kepadanya. Tapi, cintanya yang ia anggap hanya sebatas bumbu-bumbu itu, mampu membuatnya galau tingkat akut. 
Saat itu, Naura sedang asyik menghafal. Tiba-tiba seorang santriwati menghapirinya. Mengirimkan kabar-kabar tidak jelas tentang Ustadz Salman yang katanya sudah memiliki calon istri. Naura yang sedang dilanda cinta tidak terima.
Hari-harinya yang indah bersama Ustadz itu terlanjur membuatnya yakin bahwa Ustadz Salmanpun mencintainya. Meskipun Ustadz Salman tak pernah menyatakan cinta padanya, tapi ia terlanjur yakin.
Siapa yang tidak tahu tentang kedekatan gadis secantik dan sepintar  Naura dengan Ustadz Salman? Semua orangpun ikut mengira bahwa Ustadz Salman juga memiliki rasa pada Naura. Tapi, Ustadz Salman dengan bijak perilakunya mampu menjaga diri dari seribu isu-isu tak layak itu. Seorang Ustadz, tidak mungkin menjalin hubungan dengan seorang santri yang masih bermukim. 
Naura benar-benar galau. Hari-harinya di landa kesedihan mendengar kabar miring itu. Naura tak ingin seseorang merebut perhatian cintanya.
Tapi dengan semua cobaan itu, Naura tidak pernah menyerah. Ia terus berusaha mengukir bayangan senyum kedua orang tuanya yang sedang menunggu prestasinya di kepalanya agar semangat terus berkobar. Hingga sekarang hafalannya hampir rampung.
Andai ada Azqi, semua pasti lebih indah. Penyesalan menelusup perlahan. Membuatnya berekad untuk meminta maaf, dan memperbaiki hubungannya yang sudah 6 bulan berantakan dan tak ia hiraukan.
Segera ia bangkit, dan menemui sahabatnya itu. Semoga bisa diluruskan kembali.
***
To be…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.