Ada Apa dengan Program Jamaah Haji Furoda?

oleh
Ada Apa dengan Program Jamaah Haji Furoda?
Gambar: OKZON

SantriNow | Haji Furoda merupakan program ibadah haji yang langsung dibuat oleh kerajaan Arab Saudi secara sah dan satu-satunya program non kuota.

Beda haji furoda dengan haji reguler dan haji plus. Visa yang dipakai jamaah haji furoda merupakan visa khusus, bukan visa haji sebagaimana haji reguler dan plus.

Meskipun haji furoda ini sah dan diakui oleh pihak Kerajaan Saudi namun sering kali terjadi masalah di negara asal para calon jamaah haji furoda.

Masalah yang masih terjadi di Indonesia di anatanya:

  • Haji furoda tidak terdaftar di Kementrian Agama.
  • Tidak ada yang ngurusi, selain calon haji dan orang yang ngajak itu sendiri.
  • Sering terjadi penipuan dan penyesatan informasi.
  • Kemenag tidak bertanggung jawab manakala terjadi hal yang merugikan calon jamaah furoda dll.

Untuk haji furoda 2018 DPR RI minta agar Kemenag mengkaji ulang terkait pembiayaan haji furoda.

Baca juga: Hari Raya Qurban Jatuh Pada Hari Rabu 22 Agustus

Ada apa sebenarnya dengan haji furoda?

Menurut DPR RI, Kementerian Agama (Kemenag) sebaiknya meninjau ulang biaya yang dikeluarkan oleh jemaah haji Furoda. Karena sampai sekarang, biaya haji furoda tidak terdaftar di Kemenag. Jadi DPR meminta agar pemerintah berkoordinasi dengan Arab Saudi terkait informasi yang jelas mengenai biaya tersebut.

“Pemerintah harus terus berkoordinasi dengan Arab Saudi untuk mendapat informasi yang jelas tentang biaya haji furoda ini,” kata Wakil Ketua Komisi VIII Marwan Dasopang berkunjung ke Kantor Urusan Haji (KUH) Indonesia di Madinah, seperti dilansir Okezone dari laman Kemenag, Sabtu (11/8/2018).

Marwan, Komisi VIII mendengar kabar kalau haji furoda dipungut biaya untuk akomodasi di Arofah, Muzdalifah, dan Mina. Padahal, hingga kini kondisi di Mina masih begitu-begitu saja. Artinya bila kabar tersebut benar, Pemerintah Indonesia wajib minta Arab Saudi memberikan fasilitas khusus untuk jemaah haji furoda.

“Supaya mereka tidak menganggu fasilitas untuk jemaah haji regular kita,’’ ujarnya.

Selanjutnya Marwan mengatakan, masalah haji furoda menjadi pembahasan di Komisi VIII. Khususnya terkait dengan biaya. Kuota haji furoda bisa mempengaruhi biaya untuk haji regular. Semakin banyak yang mendaftar haji furoda, dikhawatirkan antrean haji regular akan berkurang.

’’Kalau antrean berkurang, biaya haji regular bisa membengkak karena nilai manfaatnya semakin kecil,’’ katanya.

Nilai manfaat yang dimaksud Marwan adalah akumulasi dana haji yang belum terpakai dan dikelola oleh Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH). ’’Karena itu, penting bagi pemerintah untuk membicarakan masalah ini dengan Arab Saudi,’’ katanya.

Untuk diketahui, selain kuota regular (haji regular dan khusus), Pemerintah Arab Saudi juga menerbitkan visa khusus haji furoda. Jemaah haji furoda bisa langsung berangkat tanpa perlu menunggu bertahun-tahun layaknya haji regular.

Namun, haji furoda tidak dikoordinir kemenag. Kuota haji ini diberikan langsung oleh Arab Saudi kepada biro-biro travel khusus melalui kedutaan besar mereka di Indonesia. Padahal, saat di Mina, jamaah haji furoda tinggal di tenda-tenda yang disediakan untuk jemaah haji regular. Akibatnya, kondisi tenda menjadi sesak dan tidak nyaman. []