Wajar Bila Santri Hidup Makmur Hari Ini

oleh

Wajar Bila Santri Hidup Makmur Hari IniSantriNow | Dari informasi Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan menyampaikan bahwa pertama sepanjang sejarah Indonesia, angka kemiskinan di bawah 10%. Ini menandakan perekonomian masyarakat Indonesia mengalami kemajuan yang sangat bagus.

Ungkapan itu menanggapi data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat angka kemiskinan per Maret 2018 yang sebesar 9,82%. Dikutip dari detikcom.

“Saya sambut dengan perasaan yang sangat istimewa karena selama saya jadi Menteri Keuangan dan bank dunia, hari ini BPS umumkan tingkat kemiskinan 9,82%, the first time in the history Indonesia tingkat kemiskinannya di bawah 10%,” ungkap Sri Mulyani di Perayaan 10 tahun PT Adaro Energy Tbk melepas saham ke publik, di Hotel Ritz Carlton, Pacific Place, Jakarta, Senin malam (16/7/2018).

Baca juga: Santri Baru Seperti Orang yang Baru Hidup di Perantauan

Siapakah yang dimaksud orang miskin?

Menurut Direktur Statistik Ketahanan Sosial BPS Harmawanti Marhaeni menyampaikan orang miskin itu adalah orang yang secara statistik berada di bawah garis kemiskinan. Berarti kalau ada di atas garis kemiskinan tidak tergolong orang miskin. Baca juga: Tantangan Santri Hidup di Kota Metropolitan

Jadi untuk mengetahui tingkat kemiskinan masyarakat Indoensia naik atau turun bisa dilihat dari garis kemiskinan itu. Bila angka garis kemiskinan itu naik berarti angka kemiskinan masyarakat itu menurun dan sebaliknya.

Masyarakat Indonesia mayoritas beragama Islam khususnya Islam Santri. Yaitu kelompok orang muslim yang mengamalkan ajaran agama sesuai dengan syariat islam. Maka dari sini bisa dilihat apabila angka kemiskian di Indoensia menurun berarti yang dimaksud masyarakat di sini adalah mayoritas masyarakat santri.

Maka wajar bila hari ini santri makmur karena memang secara statistik, kelompok ini mengalami peningkatan ekonomi. Buktinya mereka punya pendapatan di atas dari batas garis statistik kemiskinan yakni Rp 387.160 per kapita pada September 2017 menjadi Rp 401.220 per kapita per bulan di Maret 2018. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.