Tantangan Santri Hidup di Kota Metropolitan

oleh

Tantangan Santri Hidup di Kota MetropolitanSantriNow | Santri yang hidup di perkotaan tentu memiliki tantangan tersendiri dalam menjalani hidup. Hidup di perkotaan jelas tidak sama dengan hidup di perkampungan yang sepi dari hiruk pikuk kendaraan, dan kebisingan gemuruh pabrik.

Diketahui bahwa salah satu ciri kebiasaan masyarakat kota adalah individualis, kurang peka dengan tetangga sekitar. Sehingga terkadang rumah sebelah punya hajat tidak ada yang tahu, walaupun tidak semua masyarakat kota memiliki kebiasaan seperti itu.

Kehidupan yang cenderung individual semacam ini jelas tidak akan dijumpai di pendidikan pesantren mana pun. Karena salah satu ciri khas kehidupan masyarakat santri adalah guyup dan senang membantu sesama santri serta tetangga dekat.

Maka jelas kehidupan masyarakat kota menjadi tantangan tersendiri bagi santri ketika sudah pulang dan terjun ke masyarakat. Tentu tantangan semacam itu tidak mudah dihadapi, karena di samping masyarakat kota yang cenderung individual, mereka juga rata-rata bukan penduduk asli melainkan urban.

Santri yang sudah terbiasa hidup berdampingan dan saling membantu satu sama lain di pesantren akan menjadi corak yang asing bila diterapkan di kehidupan kota. Maka apakah santri yang sudah mondok bertahun-tahun akan hanyut juga dalam kebiasaan masyarakat kota?

Contoh kecil, di kota orang tidak sholat jumat dan memilih ngopi di depan masjid itu sudah biasa. Tentu saja itu bukan ciri khas kebiasaan seorang santri. Nah santri yang hidup di kota dihadapkan dengan kebiasaan masyarakat yang semacam itu apa yang mesti dilakukan?

Apakah santri juga akan membiarkan kebiasaan seperti itu berlalu begitu saja yang sudah jelas-jelas berada di depan matanya, atau memilih merubahnya? Itu tantangan sebagai seorang santri bila hidup di kota sebagai pewaris kiai yang ada di desa.