Siluet Senja yang Memudar>Part 6

oleh

SantriNow | Moodku memburuk, dan terbukti si Jakalah yang mengacaukan semuanya.
Tapi, tunggu! Mengapa nenek bisa mengucapkan kata-kata itu? Apakah kata-kata itu sebenarnya sudah lama ingin terucap? Tapi mengapa harus pada lelaki itu nenek mengungkapnya?

Seburuk itukah aku?

Terdengar suara ketukan pintu. Pasti nenek. Dan ketukan pintu itu semakin membuatku tenggelam di bawah balutan selimutku yang halus. Huh! baru kali ini ku rasakan AC kamarku tidak berfungsi dengan baik.

“Marissa…? Boleh nenek masuk?” Aku tak menyahut. Aku kesal. Tak lama kemudian, ku dengar langkah kaki mendekat. Mengalahkan suara jam beker di samping telingaku.

Dari jauh, samar-samar ku dengar adzan maghrib sudah bersahutan tepat setelah tangan nenek mengelus lenganku yang terbalut selimut. Terus membelaiku seperti biasanya. Sebetulnya, sikap nenek yang beginilah yang sangat ku sukai.

“Marissa…” Suara nenek yang halus membuka pembicaraan. Akupun menyimak, apa yang kan dikatakan nenek padaku, meski hatiku kurang bisa berkompromi.

“Apa nenek menyakiti hatimu sayang…?” Aku memang sakit hati … Tapi, mendengar nenek seperti ini justru lebih menyakitiku. Aku tak bisa mendengar suara nenek sesedih ini.

“Pada saatnya, Cucu kesayanganku ini akan tumbuh. Dewasa… Merekah pada waktunya. Dan harus selalu diingat sayang… Tak selamanya nenek bisa membelaimu seperti ini nak. Tak selamanya nenek di sampingmu selalu, menjagamu, mendongengimu seperti biasanya. Dan sekarang, Marissa cucu nenek sudah mulai tumbuh.

Mengingatkan nenek bahwa nenek harus segera memberitahumu… bahwa kau harus bisa bangkit dari semuanya. Tidak boleh selalu kalah sayang… kau bisa… Kau harus berubah. Betapa sedih nenek, jika pada suatu saatnya nanti, saat nenek sudah pergi…”

Suara nenek tertahan, dan wajahku sudah basah sejak kalimat pertama tadi, “Nenek belum pernah melihat senyum tulusmu sayang… Betapa sedihnya, jika nenek belum pernah sekalipun mendengar tawamu…” Nenek terisak.

Tanpa menunggu lama aku langsung bangkit. Memeluk erat tubuh kurus nenek. “Maaf kan nenek ya sayang…” Aku hanya mengangguk dalam diam, lantas makin mempererat pelukan itu.

Banyak sekali yang ingin ku bicarakan. Aku ingin meminta maaf, menjelaskan, atau apapun. Tapi aku tak bisa. Aku membenci diriku sendiri.

“Nek, aku berjanji. Akan memulihkan semua. Tepat pada saatnya.”

Batinku pedih. Setelah itu, aku mulai tenang. Ku buka mataku perlahan, dan kudapati si jangkung terburu-buru mengusap matanya. Lalu keluar kamarku dengan meninggalkan rasa aneh yang menelusup

memenuhiku.
***

To be continued…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.