Siluet Senja yang Memudar >Part 5

oleh

Siluet Senja yang Memudar >Part 5
SantriNow | Hari ke 30 di SMAN Harapan Surabaya.

Sekolahku bagus, keren, dan elite. Itu kata orang. Tapi, apa senangnya menikmati bangku sekolah saat tak ada satupun teman yang tertarik untuk berteman dengan gadis es yang murung dan tidak ramah?  Hahaha, setidaknya itu juga hanya kata orang. Dan sama sekali tidak ada di kamus seorang Marissa.

Menurutku tenang-tenang saja tidak punya teman. Karena memang inilah aku.

Tapi, anehnya, dengan semua kekuranganku, dari ribuan teman di sekolah elite ini, ada dua yang selalu mencoba untuk berteman denganku. Nanda dan Mufas. Nanda teman sekelasku, dan Mufas kakak kelas yang kata Nanda keren.  Di kelas, Nanda selalu bercerita tentang sepupunya itu meski aku hanya mendengarkan dan tidak menanggapi lebih.

Mereka berdua kini di depanku. Mengamatiku yang sedang asyik membaca buku di bangku favorit perpustakaan.

“Kamu memang tidak pernah bicara?” Kata Nanda yang terdengar putus asa karena ku abaikan sejak tadi. “Apa kamu takut suaramu bisa habis hanya dengan berkata ya atau tidak?”Aku hanya menatap mereka bergantian dengan ekspresi tidak suka. Aku memang tidak suka jika Mufas mengikutiku dengan Nanda. Mungkin aku bisa menerima jika hanya Nanda yang menggangguku.

Aku beranjak pergi. Sudah waktunya pulang. Jam 3 sore, pasti Pak Sopir sudah parkir di halaman depan. “Marissa…” Suara Mufas memanggilku. Rupanya ia mengikutiku. Akupun bersedia menoleh.

“Semoga bangau cantik bisa membuatmu lebih baik” Mufas tersenyum. Aku mengerutkan kening. Maksudmu?  Tak mau menanggapinya lebih, aku hanya mengangguk setelah itu berlalu.

***

“Sekolah baru sebulan sudah dapat surat?” Suara nenek yang tiba-tiba mengagetkanku membuatku mengurut dada. Aku pun menggeleng cepat-cepat.

“Lalu apa? Boleh Nenek lihat?” Aku menyodorkan kertas lipat itu  yang terselip di ranselku.
“Bangau?” Nenek bertanya heran “Sejak kapan suka buat seperti ini? Kok Nenek tidak tahu ya? Bagus!”

Aku menggeleng. “Dari teman”
“Oh ya? Siapa namanya?”
“Mufas…”

“Oh, kapan-kapan ajak main ya… Hmmm, oh ya, cepat siap-siap gih. Ustadz baru bentar lagi datang lo”
“Baru jam lima. Bukannya setelah maghrib?”
“Mulai sekarang, Ustadz Ariya juga ikut sholat jama’ah bareng kita”

“Jadi imam? Kenapa sama Nenek? sudah tidak mau jadi imam buat Marissa lagi?”
“Bukan seperti itu, Nenek juga merasa perlu memperbaiki sholat sayang… Ya sudah siap-siap gih..”

Tidak lama, suara bel menggema dan Bibi Salma pelayan rumah kami sudah membawa lelaki jangkung itu  masuk.

Assalamu’alaikum…” Suara berat lelaki jangkung yang khas terdengar. Nenek menjawab salamnya sumringah. Aku menjawab salam dengan lirih.
“Wa’alaikum salam… Mari masuk, duduk duduk… Bi, tolong siapkan minum buat Ustadz Ariya”

Kami pun duduk berhadap-hadapan. Belum bisa dipastikan lelaki di depanku ini tidak  berbahaya. Tapi, sikapnya yang sopan tapi tidak berlebihan itu  memperlihatkan bahwa ia pribadi yang santai dan santun.

“Oh ya Bu, bagaimana kalau Ibu tidak usah memanggil saya dengan  Ustadz…” Suara berat itu membuka percakapan sekaligus membuyarkan pikiranku.

“Memangnya kenapa lo… Nak Ariyakan guru cucu saya mulai sekarang…”
“Ah, tapi kan saya masih muda bu…”

Suasana mencair.

Nenek tertawa mendengar celetuk lelaki itu yang menurutku biasa saja. Mungkin memang benar. Si Jangkung ini terlalu muda untuk disebut Ustadz.

“Tapi, kalo untuk Marissa, harus manggil saya Ustadz. Hehehehe…” Aku menatapnya tak senang. Mengalihkan pandangan ke lain arah. Tapi, Nenek masih happy sendiri. Dan tertawa kembali.

“Saya baru ketemu kamu dua kali, meski kakakmu sering sekali bercerita tentang adiknya yang tampan ini. Tapi, dua kali ketemu, seakan saya sudah kenal kamu lama. Ah, saya berharap Nak Ariya berhasil”

“Berhasil untuk apa ya bu…?”
“Melunakkan cucu kesayanganku ”

Tak ku sangka nenek melontarkan kata-kata itu. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa tersinggung. Membuatku makin tidak suka dengan ketadangan lelaki jangkung ini. Tidak biasa nenek sebahagia ini. Ok,Aku akan memendam semua yang aku kesalkan. Dan lihat saja, aku bisa lebih keras dari perkiraan siapapun.

“Oh ya, maaf… kalau boleh tahu Ayah Marissa dimana ya?”
Kemarahanku di ubun-ubun. ‘Lelaki lancang! Aku membencimu!’ Batinku berteriak. Pelan tapi pasti aku beranjak meninggalkan ruang tamu.

“Marissa?” Nenek menegurku
“Maaf Nek, Ustazd Jaka, saya kurang enak badan. Sepertinya saya harus istirahat.”

“Lho, kok Ustadz Jaka?” Nenek bertanya heran.
“Sepertinya, panggilan Jaka lebih baik daripada Ariya”

Aku meninggalkan mereka yang sepertinya heran dengan sikapku yang tiba-tiba berubah.

To be continued