Siluet Senja yang Memudar >Part 4

oleh

Siluet Senja yang Memudar >Part 4SantriNow | Baru saja kemarin Ustadzah Zakiya mengajariku bagaimana membaca Kho, baru saja kemarin ia membicarakanku dengan nenek bahwa bacaanku sudah baik. Tak ku sangka hari ini ia sudah berbaring tak bernyawa di rumahnya yang sederhana.

Nenek mengajakku melayat. Menyampaikan bela sungkawa katanya. Aku hanya menurut tanpa banyak bicara seperti biasa. Saat memasuki rumahnya, ku dapati banyak orang menangisi kepergian Ustadzah cantik ini. Sejenak fikiranku melayang…  Teringat kejadian memilukan dulu.

Tak hanya ibu… Semua orang akan mati.

Ku edarka pandangan ke seluruh sudut rumah. Ada yang berbeda. Di sudut kanan rumah, ku dapati lelaki jangkung tidak menangis. Ah, entah kenapa kebencianku pada lelaki belum bisa terobati. Tiba-tiba saja, mata kami bertemu. Seketika itu ia langsung bangkit menghampiri kami.

“Assalamu’alaikum… Apa benar anda ibu Hanum?” Si jangkung bertanya lirih, suaranya hampir tak terdengar.

“Iya, iya… Benar. Kalau tidak salah, kamu ini adiknya Ustazdah Zakiya ya? Ariya kan?”

“Iya bu, saya Ariya. Silahkan masuk…”

“Terima kasih. Saya turut berduka atas kepergian kakakmu nak… Tidak terasa, cepat sekali” Nenek berucap tulus.

Di ruang tengah, saat kami baru saja duduk, Si Jangkung dengan mata yang tiba-tiba berair berkata pada Nenek dengan suara tertahan…

“Subuh tadi, saat kami bersama-sama Sholat Shubuh, Kakak berwasiat pada saya… Untuk menggantikannya mengajar di rumah Ibu. Apa ibu berkenan?”

“Oh… Iya ya… Tidak apa-apa, saya justru malah senang nak… Ada yang menggantikan beliau” Nenek mengangguk memahami.

“Ya sudah bu, saya permisi. Saya panggilkan ibu dulu…”

Si jangkung pergi terburu-buru. Nenek langsung menatapku. Aku balas menatap tak mengerti.

“Nak Ariya yang akan menggantikan mengajarimu ngaji mulai besok…”

“Iya kah?” Aku masih ragu. Mengapa harus laki-laki?

Seakan Nenek bisa mendengar suara hatiku, Nenek mengusap kepalaku lembut.

“Dia anak yang baik… Jangan khawatir…”

“Siapa namanya?”

“Muhammad Zakariya”

***

Muhammad Zakariya,

Nama yang simple. Sama halnya dengan namaku. Marissa Brilliant, dua kata cukup.

Mataku menatap bintang-bintang bercahaya di kamarku yang gelap. Hanya menatap sebelum benar-benar terlelap. Dan entah kenapa tidak seperti biasanya, bayangan lelaki jangkung tadi pagi itu muncul, mengingatkanku bahwa besok ia datang ke rumah ini untuk mengajariku mengaji menggantikan kakaknya. Ah, aku bergidik. Laki-laki, ketakutanku pada kaum adam belum hilang.

Teringat kata-kata terakhir Ustadzah Zakiya kemarin, ‘Tidak semua lelaki jahat Marissa…’ Dan hatiku menjawab ‘Yeah… aku tahu, aku sangat tahu bahwa tak semua lelaki di dunia ini jahat. Bahkan wanitapun banyak pula yang jahat. Tapi tetap saja, semua tidak mau berubah’

Aku menghela nafas. Hidupku benar-benar kelam. Tenggelam pada ketakutan yang aku sendiri menyadari semuanya tidak harus terjadi. Miris. Tapi semua memang tidak bisa berubah begitu saja. Semua terasa sulit. Oh Tuhan, hanya kau yang tau betapa dalam kekalutanku.

Bayangan wajah nenek muncul. Wanita ayu itu sudah berumur.  Tapi masih cantik dan belum terlihat tua. Hingga banyak orang mengira nenek adalah ibuku. Tak apa, setidaknya begitu lebih baik.

Hidupku menyusahkannya, aku menyadarinya akhir-akhir ini. Aku tahu setiap hari ia mencari cara bagaimana aku bisa sembuh dari semuanya. Hingga aku sering mendapatkan perawatan terapi untuk mengobati traumaku yang menyebalkan. Aku tahu ia menyimpan semua sendirian. Berpura-pura bahwa semua baik-baik saja.

“Huh….”

Air mataku jatuh sebulir, dan menghangatkan hatiku yang kedinginan.

Sejenak aku berdo’a sebelum terlelap.

Semoga esok yang berganti, semuanya juga berganti. Semoga besok langit cerah, dan hariku juga ikut cerah. Ah, sudahlah aku tidur saja!

Author : AliFah

To be continude…