Siluet Senja yang Memudar > Part 3

oleh

Siluet Senja yang Memudar > Part 3SantriNow | Angin sore menerbangkan rambut ku yang tergerai. Menggelitiki leher ku yang telanjang. Suasana inilah yang terbaik. Hari cerah tanpa mendung. Memuat diriku baik-baik saja tanpa ketakutan. Dan sekarang, kebun belakang yang tenang menemani jemari ku menari di atas tuts keyboard laptop yang menyala sejak tadi.

Akulah Marissa, gadis 14 tahun. Banyak orang memanggil ku gadis es. Pendiam dan tidak ramah. mungkin sebagian orang sudah faham ada apa denganku sebenarnya. Tapi, bagi sebagian yang lain…Mereka begitu tidak menyukai aku.

Di umur belasan tahun ini aku makin pintar menyusun kepingan-kepingan peristiwa kelam masa lalu, yang dulu tak aku fahami penuh. Peristiwa yang menjadikanku dijuluki gadis es karena trauma hebat. Trauma yang ku dapat setelah mengalami rentetan kekejaman seorang ayah.

Surga kami memang sudah berubah menjadi neraka.

Ayah orang yang jahat dan kejam.  Setidaknya itulah kesimpulan yang bisa ku ambil saat sudah menyusun puzzel-puzzel kehidupan ku yang berantakan. Sejak kecil, aku selalu mendengar ayah marah dan berteriak. Ayah sering menendang ibu. Ayah sering membawa perempuan yang jelas-jelas bukan saudara kami.

Ayah selalu pulang malam dan jarang menengok aku. Ayah sering meneriaki aku padahal aku tak melakukan kesalahan apapun. Dan yang paling membekas, saat ayah memukuli ibu, aku tidak boleh masuk dan terkunci di luar meski hari sedang mendung bahkan hujan.

Tapi, ibu selalu berkata kepada ku… Bahwa ayah orang yang baik.

Saat ayah tak pulang, ibu berbisik “Ayah orang yang baik… Bersedia bekerja untuk kehidupan kita semua”  Saat ayah marah pada ibu, ibu berbisik lagi ” Ayah orang yang baik… ibulah yang melakukan kesalahan” Saat ayah membawa wanita kedalam rumah, lagi-lagi ibu berbisik “Ayah orang yang baik, itu teman kerjanya. Jangan diganggu ya, kita tidur saja..”

Dan puncaknya, saat ibu sudah babak belur… ibu meninggalkan rumah saat aku masih tidur. Ibu mengadukan semua pada nenek dengan hampir sekarat. Ambulan membawanya pulang. Meski jantungnya sudah tak lagi berdetak.

Saat itu, di neraka kami… ayah untuk kesekian kalinya menyuruhku keluar tanpa sebab. mengunciku dari dalam. Semuanya membuatku takut karena langit begitu gelap. Petir menyambar dari segala arah. Tiba-tiba saja suara sirene ambulan dan mobil polisi yang hendak menangkap ayah datang, menambah sempurna ketakutanku.

Sejak hari itu, aku yang meyadari ibu hanya berbohong bahwa ayah orang yang baik, merasa ketakutan setiap mendung. Entah kenapa peristiwa itu menjelma setiap mendung datang. Berputar begitu jelas dan membuatku ketakutan…

“Lelaki itu kejam ibu…. Perempuan tak harus selalu kalah. Tapi ketakutanku sendiri belum bisa aku kalahkan”   Bisikku di atas pusara ibu tiga tahun yang lalu.

“Assalamu’alaikum Marissa…” Suara Ustadzah Zakiya membuat jemariku berhenti. Aku menoleh dan membalas salamnya dengan lirih.
“Rupanya sedang menulis ya?? Boleh ustadzah membacanya?” Tanyanya lembut dengan terus menyunggingkan senyum. Aku menjawabnya dengen menggeleng mantap.
“Oh, ya sudah. Tapi, nanti… Baca Al-Qur’annya harus keras ya??” Aku mengangguk meng-iya-kan.
“Sudah selesai atau masih mau menulis?”
“Sudah”

Ku matikan laptop dan segera menuju kamar untuk bersiap-siap belajar mengaji. Ya, sudah sebulan ini Ustadzah Zakiya menjadi guru private mengajiku.

Kedatangan guru privat yang dipilih oleh nenek bukan barang baru. Tapi, kini aku menemukan hal yang lain dari Ustadzah Zakiya. Ia sangat berbeda. Ia selalu mengajak ku berinteraksi, dan selalu mengerti apa yang aku sukai. Mulai dari kegiatan menulis, membaca novel, bernyanyi, sampai melihat awan di langit cerah. Ia selalu membicarakan semuanya di sela-sela kegiatan belajar. Dan yang paling membuatku berbeda, ia tak hanya mengajari ku mengaji,  tapi hal-hal lain seperti menyanyi, menulis, dan semua hal yang aku sukai.

Hal lain yang aku anggap berbeda dari ustadzah Zakiya adalah, jika aku mau menanggapi pertanyaannya, Ustadzah Zakiya sudah terlihat senang. Tampak dari senyum yang selalu menghiasi wajahnya. Aku tak tahu apa yang membuat Ustadzah Zakiya selalu tersenyum, padahal aku tak pernah membalas senyumannya.

“A’udzubillahiminasy syaithonorrojim….”   Suara itu lembut. Dan aku suka.
Mengajipun dimulai dengan syahdu.

To Be>>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.