Sikap Islam Rasulullah

oleh

Sikap Islam RasulullahSantriNow | Islam yang diajarkan Rasulullah itulah sebenar-benarnya Islam. Karena Rasulullah merupakan sumber terpercaya (al-amin) yang tidak ada duanya. Maka apa yang diucapkan, dilakukan, dan yang disetujui oleh-Nya merupakan kebenaran yang tidak bisa dibantah.

Bagaimana cara atau sikap Rasulullah berislam? Maka untuk menjawab pertanyaan ini, mari simak hadist Rasulullah berikut ini.

Rasulullah pernah ditanya oleh salah seorang sahabat tentang cara berislam yang benar

أَيُّ الْإِسْلَامِ خَيْرٌ؟ قَالَ : تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْت وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ

Artinya: “(Sikap) Islam mana yang terbaik? Rasulullah menjawab, “Engkau senantiasa memberi makan dan selalu mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal maupun yang tidak kamu kenal.” (HR Muslim)

Baca juga: 29 Fakta dalam Islam yang Wajib Diketahui

Jawaban Rasulullah atas pertanyaan sahabatnya ini memberi pesan yang tegas tentang keterkaitan kualitas berislam dengan kepedulian kepada sesama. Nabi tak menjawab Islam yang terbaik adalah Islam Arab, Islam China, Islam suku ini, Islam suku itu, dan seterusnya. Secara singkat beliau menjawab, Islam yang memberi makan dan menyebarkan salam.

Makan merupakan kebutuhan paling dasar dari manusia. Tanpa itu manusia akan mati. Memberi makanan karena itu sama dengan memberi kehidupan. Ini merupakan sinyal kuat bahwa Islam melarang pengabaian terhadap kebutuhan asasi manusia. Juga perlu dicatat, uluran tangan sebaiknya diprioritaskan kepada mereka yang lemah, dan tanpa membeda-bedakan dari identitas apa mereka berasal sebab manusia pada dasarnya satu keluarga, sebagaimana yang tercermin dari prinsip tauhid yang dijelaskan tadi.

Yang kedua, mengucapkan salam. Salam adalah ungkapan doa untuk keselamatan dan kedamaian. Salam dalam konteks pergaulan masyarakat juga bisa diartikan menyapa. Tentu, salam bukan semata basa-basi lisan. Ia mengandung makna mendalam tentang hubungan sosial yang baik, karena masing-masing saling mendoakan dan saling bertegur sapa. Salam kepada siapa? Alâ man ‘arafta wa ‘alâ man lam ta‘rif, kepada orang dikenal maupun yang tidak dikenal; lintas ras, bangsa, etnis, agama, warna kulit, dan seterusnya.

Sebagian ulama memiliki makna yang lebih luas tentang hadits ini, yakni memberi makan berarti mencegah datangnya bahaya, melalui tangan manusia; sementara mengucapkan salam adalah mencegah datangnya bahaya, melalui lisannya. Atau, hadits ini selaras dengan hadits lain riwayat Imam Muslim yang bernada imbauan bahwa muslim yang baik adalah muslim yang bisa menjamin orang lain selamat dari lidah maupun tangannya.

Yang menarik, redaksi Arab dalam hadits tersebut menggunakan fi’il mudhari‘: تُطْعِم dan تَقْرَأُ”. Fi’il mudhari‘ adalah kata yang menunjukkan pekerjaan sedang dilakukan atau akan terus-menerus dilakukan. Dengan bahasa lain, Rasulullah berharap “member makan” dan “mengucapkan salam” itu tidak terlaksana secara temporal, melainkan konsisten (istiqamah) alias terus menerus.

Semoga kita semua termasuk umat Islam yang dianugerahi kesadaran berislam secara maksimal, dengan berpegang teguh pada tali Allah dan punya rasa empati terhadap masyarakat secara luas. Wallahu a’lam. []

Disarikan dari nuonline

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.