Santri Zaman Now dan Pola Hidup Digital

oleh

Santri Zaman Now dan Pola Hidup Digital SantriNow | Memang bicara soal santri yang hidup di zaman sekarang tidak akan pernah lepas dari pengaruh digitalisasi. Dimana era digital hari ini sudah menjadi tren atau kebanggaan bagi sebagian besar kalangan termasuk santri di dalamnya. Bahkan model pembelajaran kitab kuning klasik yang seolah-olah jauh dari sentuhan digital, sekarang bisa dipelajari melalui android dan I phone.

Sehingga suka atau tidak dengan sistem digital, santri pasti bersinggungan. Karena itu lah maka kemungkinan yang akan ditimbulkan akibat digitalisasi ada dua. Yang pertama dipengaruhi sistem itu dan yang kedua mempengaruhi sistem itu. Kalau begitu maka santri tinggal pilih antara dua itu.

Tantangan Santri Zaman Now

Kehadiran gadget di tengah-tengah masyarakat santri berdampak besar baik secara positif sekaligus negatif. Ada dari sebagian santri yang seharusnya masih ngaji di pesantren tapi karena akibat pengaruh kuat hp di rumah tidak mau kembali. Tapi juga tidak bisa disepelekan akibat positif dari gadget contohnya; banyak yai sekarang ngaji lewat internet (jarak jauh) dan siapa pun bisa ikut ngaji.

Maka tantangan santri sekarang dalam mengikuti tren digital yaitu kemampuan dalam memilih antara dua tadi itu yakni dipengaruhi gadget atau mempengaruhi nya.

Bagaimana pun yang namanya alat digital itu hanya sebatas alat bantu untuk mempermudah atau menjangkau yang rumit jadi mudah yang jauh jadi dekat. Sehingga yang harus pintar-pintar memilih adalah penggunanya dalam konteks di sini yaitu santri.

Harapan Penulis  

Kami berharap santri mampu mempengaruhi kemajuan digital caranya yaitu dengan belajar dan belajar dasar-dasar IT atau bagian positif yang dikembangkan gadget.

Contoh bagaimana santri mampu membuat aplikasi untuk menentukan arah kiblat misalkan. Atau membuat video pendek yang bernilai positif di youtube. Bisa juga buat konten dakwah mengajak orang lain untuk berbuat kebaikan. Bahkan kalau bisa santri membuat aplikasi cara mudah baca kitab kuning.

Maka dengan begitu santri bisa terus mengikuti tren tanpa meninggalkan kebaikan serta nilai-nilai khas pesantren di dalamnya. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.