Santri Baru Seperti Orang yang Baru Hidup di Perantauan

oleh

SantriNow | Hidup di daerah perantauan itu butuh kesabaran dan hidup pasrah. Ia laksana menjadi santri baru di suatu pesantren yang cukup jauh dari rumahnya. Santri baru harus mampu beradaptasi dengan kehidupan di pesantren. Begitu juga orang yang baru merantau harus bisa menyesuaikan dengan daerah dimana ia tinggal.

Siapa pun yang pernah menjadi santri pasti awalnya tidak betah, in

gin cepat pulang dan tidak mau kembali lagi. Begitu juga hidup di perantauan, pada saat awal-awal ia merasa tidak betah dan ingin cepat kembali ketemu kedua orang tua atau keluarga di rumah.

Di sore hari biasanya santri baru hanya terdiam walau teman di sekelilingnya berusaha menghibur. Yang ada dalam pikirannya hanya kedua orang tua dan adik di rumah. Begitu juga orang yang baru hidup di perantauan, ia sesekali merenung karena melamar kerja tidak kunjung diterima. Ia mulai putus asa dan terbayang indahnya hidup bersama keluarga.

Hari demi hari ia lewati dengan penuh kesedihan dan rasa rindu yang mendalam di hati sanubari kepada keluarganya. Ia terkadang membayangkan “bagaimana caranya saya bisa cepat keluar dari sini”. Ia merasa hidup di pesantren seperti hidup di penjara karena tindak kejahatan. Ia merasa diperlakukan tidak adil oleh keluarganya.

Kesana kemari ia membawa lamaran kerja untuk disodorkan ke bos perusahaan.  Sesekali ia mampir minum kopi di warung sambil menunggu nasib mujur datang. Namun lamaran demi lamaran tidak ada yang dipanggil, ia pun mulai membayangkan tentang pekerjaan di daerahnya yang terasa indah di bola matanya.