Harga Dirimu Sama Dengan Sepotong Roti

oleh
Harga Dirimu Sama Dengan Sepotong Roti

SantriNow | Hanya dengan sepotong roti, hatimu luluh pada rayuan orang yang tidak kamu kenal. Begitu mudah merayumu, begitu murah harga dirimu, karena bisa dibeli hanya dengan sepotong roti saja. Apa sebenarnya yang salah dengan dirimu, atau kamu kelaparan, padahal kata orang, negeri kita adalah potongan sorga.

Jadi tidak mungkin kamu kelaparan. Tapi mengapa dirimu tega pada harga dirimu sendiri. Kamu tak ubahnya para koruptor di senayan yang rela menjual harga dirinya hanya karena uang dan uang kemudian pelacuran. Kamu tak ubahnya kambing yang bisa dirayu hanya dengan seutas rumput liar.

Padahal harga diri itu harganya mahal dan tidak bisa ditukar dengan apa pun. Apalagi hanya dengan sepotong roti. Seseorang jika sudah tidak punya harga diri, maka dia tak ubahnya hewan bahkan lebih rendah lagi.

Bagaimana mungkin kamu seorang yang rupawan, dan segalanya ada bisa luluh hanya dengan rayuan roti. Apa yang kamu khawatirkan jika tidak memakan roti hari itu. Apa kamu takut mati, jika tidak memakan roti.

Harga diri sejauh ini (sepertinya) adalah konsep yang dibangun oleh diri pribadi tentang nilai dirinya di mata lingkungan pergaulan atau lingkungan sosial. Harga diri juga adalah sesuatu yang diperjuangkan.

Semakin banyak melakukan hal baik, konon harga diri seseorang menjadi lebih tinggi. Benar atau tidaknya konsep ini tentu saja sangat terbuka untuk diperdebatkan. Tetapi yang menarik adalah, bahwa kemudian harga diri buat sebagian orang adalah hal yang -mengutip tutur Syahrini- sesuatu banget.

Karena harga diri itu sesuatu banget, banyak yang kemudian tersinggung seberat-beratnya karena merasa harga dirinya diinjak-injak. Term diinjak-injak saya ambil dari beberapa teman yang terlihat sangat marah karena merasa diperlakukan dengan tidak hormat.

“Kalau begini caranya, sama saja dengan menginjak harga diri saya, dan saya tidak terima!” tutur mereka berapi-api untuk masalah yang -menurut saya- terlihat sepele; seperti dia mendapat tempat duduk paling belakang di sebuah pesta padahal orang yang menurutnya ‘lebih kecil’ dari dia yang lain yang dipersilahkan duduk di barisan depan dan terhormat.

Benarkah harga dirinya diinjak? Hemat saya, harga diri bukan sesuatu yang diperjuangkan sendiri; diri kita tidak dihargai berdasarkan apa yang kita mau, tetapi berdasarkan harapan masyarakat tentang kita. Ini dunia konsensus, semuanya sepakat untuk sepakat atau tidak sepakat atas sesuatu.

Dalam penjelasan lain, nilai seseorang tidak ditentukan oleh dirinya sendiri tetapi oleh kesepakatan orang-orang di sekitarnya. Maka meski kita merasa harga kita tinggi tetapi masyarakat tidak sepakat, maka rendah lah nilai jual kita. Bagaimana cara masyarakat untuk menentukan harga kita? Namanya harapan.

Harga tinggi akan diberikan kepada seseorang jika mampu bertindak sesuai dengan harapan masyarakat. Saya tiba-tiba teringat pada sebuah kisah lama tentang seorang tokoh yang dipandang sebagai figur teladan oleh masyarakatnya atas sikap dan tutur bahasanya yang menghidupkan. Dia idola, dia panutan, bahkan sebagian merasa dia tujuan.

Hingga suatu saat, dia makan ketika yang lain sedang berpuasa. Dia serentak ditinggalkan. Apa yang dia lakukan, tidak sesuai dengan ekspektasi sosial. Saya juga tiba-tiba ingat pemimpin kami, beberapa orang di masa lalu sempat memujanya. Satria piningit, kata mereka setengah berbisik tentang dia.

Tetapi dia tak lagi sesuai harapan, maka seekor kerbau pun diarak, sebuah simbol bahwa harganya tidak lebih dari itu. Maka demikianlah, hari ini, kita tak punya hak menentukan harga atas diri kita. Yang tersisa hanya kewajiban berbuat agar harga yang kita inginkan atas diri kita disetujui mereka. Kebebasan individu menjadi terbatas dalam ruang sosial. Manusia kita, so sial!

Harga diri itu (meminjam bahasa Syahrini) adalah sesuatu banget, banyak yang kemudian tersinggung seberat-beratnya hanya karena merasa harga dirinya terinjak-injak.

Hanya karena merasa tidak dihormati oleh orang yang ada di sekitarnya. Seperti ungkapan, “Kalau begini caranya, sama saja dengan menginjak-injak harga diriku”.

Kamu malah sebaliknya, menjual harga dirimu hanya dengan sepotong roti, ya tidak sesuatu banget kalau begitu caramu. Orang lain tersinggung jika merasa kurang dihormati, kamu malah merasa terhormat jika harga dirimu dibeli dengan sepotong roti.

Hemat saya, harga dirimu jangan dijual murahan begitu. Harusnya kamu bersyukur dengan apa yang ada padamu sekarang, serta berjuang, melawan apa pun yang terjadi, yang sekiranya bertentangan dengan hati nuranimu. Sekalian berlatih melawan hawa nafsu, berupa syahwat.

Karena yang menentukan harga dirimu itu bukan orang lain melainkan kembali pada dirimu sendiri. Maka hargai dirimu dengan menahan godaan serta rayuan yang menipu. Peka !

Saya tiba-tiba teringat pada kisah lama seorang tokoh yang dianggap panutan, figur teladan oleh masyarakat, atas sikap dan tutur bahasanya yang lembut, dan khotbahnya yang berapi-api. Namun Ia kemudian jatuh harga dirinya hanya gara-gara sepotong roti yang ia makan.

Saya juga teringat pada atasan saya terdahulu, dan beberapa orang di masa lalu memujanya. Tapi sekarang dia sudah tidak sesuai harapan banyak orang lagi, maka seekor kerbau pun diarak, sebuah simbol bahwa harganya tidak lebih dari itu []

Silahkan nilai tulisan ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.