Siluet Senja yang Memudar

oleh

 

SantriNow | Prolog
Mengaguminya tak sekedar membuatku kadang larut akan perasaan aneh itu. Tapi turut membuatku larut pada kayanya makna hidup.

Seakan menuntutku untuk bersedia menyentuh dunia yang tak pernah sedikitpun aku hiraukan. Kekagumanku padanya mengantarkan pada rasa aneh yang terlalu tiba-tiba untuk terdeteksi. Bahkan saat aku belum sempurna mengeja, apalagi memahami hal aneh itu.

Tak pernah aku lupakan semuanya. Mengingat dulu aku terlalu naif untuk bisa membuka hati. Semua hanya ku pendam diam-diam. Hanya kerling bintang glow in the dark di langit-langit kamar yang menjadi saksi atas semua kekonyolanku yang terkadang membuatku terkejut atas perubahanku yang terlalu cepat- menurutku-tentang diriku sendiri.

Muhammad Zakaria.
Ustadz Jaka, akrabku memanggilnya.

Ia begitu menyilaukan di setiap maghribku. Entah apa yang membuatku begitu rindu-lebih jelasnya, rindu yang menyakitkan-saat sehari saja kakinya tak menginjak lantai rumahku, saat sehari saja ia tak menjadi imam sholat maghribku, saat sehari saja ia tak  menyapaku riang hanya karena sariawan.

Apa yang membuatku begitu rindu? Suara beratnya kah? Senyum manisnya kah? Atau yang lain? Hmmmm…Semua itu selalu membuatku tersenyum diam-diam.

Dialah Ustadz Jaka.
Tiga tahun terakhir ini ia mengisi hari-hariku. Menggoreskan sejuta warna di lembaran kelabu hidupku 17 tahun ini. Kehidupan suram yang kudapati setelah kejadian itu. Kejadian 17 tahun silam yang membuat ku menjadi gadis es murung yang pendiam. Kejadian 17 tahun yang lalu yang membuatku begitu membenci kaum adam.

Tapi, kerasnya hatiku selama itu, saat semua tak ada lagi yang sanggup melunakkannya, saat tak ada lagi yang sanggup untuk menyentuh kedalaman lukaku, Ustadz Jaka dengan seribu kelembutan yang terselip diantara bijak prilakunya mampu membuatku sedikit demi sedikit membuka hati. Bahkan mengukir senyum pertama setelah melalui masa kelam bertahun-tahun…

Baca juga: Siluet Senja yang Memudar > Part 2

Siluet Senja yang Memudar > Part 3

 

Penulis: Alifah (Santri Banu Hasyim Sidoarjo)

5 thoughts on “Siluet Senja yang Memudar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.