Siluet Senja yang Memudar > Part 2

oleh

 

SantriNow | Mendung kelabu masih menggantung. Angin yang biasa mengabarkan bahwa hujan akan segera turun belum memberikan kepastiannya. Suasana makin mencekam saat sirene ambulan yang memekakkan telinga tiba-tiba datang memecah keheningan.

Aku yang sedang mematung di depan pintu hanya menoleh tanpa ekspresi. Aku terkunci di luar. Laki-laki yang masih ku panggil ayahlah yang mengunciku dari dalam. Sementara aku kedinginan, ia malah merokok santai di sofa yang berantakan sambil siaga mengawasiku.

“Tetap berdiri di situ!” Teriaknya saat melihatku menoleh, seakan takut aku akan pergi. Mendengar suara kasar itu kepalaku kembali lurus. Mataku mendapatinya mengangguk.

Dan waktu seakan berjalan terlalu cepat. Entah karena apa ayah tiba-tiba berdiri dan berlari panik ke dalam rumah. Dari belakang, seseorang menggendongku dan terlanjur membuatku kaget lalu menangis.

“Lelaki biadab! Berhenti kau!!!” Teriakan demi teriakan kembali aku dengar. Tetapi dengan suara yang lain. Semuanya membuatku makin ketakutan. “Cup cup sayang, ini nenek nak…”Ya, aku sadar itu bisikan nenek. Suara yang tak asing dan mengingatkanku pada suara ibu. Nenek membawaku menjauh dari kericuhan itu.

“Ibu… Ibu…” Aku memekik serak berulang kali. Aku menatap tepat di matanya mencari jawaban ibu dimana. Dan tepat saat langit menumpahkan airnya, air mata nenek ikut tumpah. Membuatku makin bingung, karena umurku saat itu masih 3 tahun. Dimana aku masih terbata-bata mengeja luka.

Di mataku, inilah peristiwa paling mengerikan diantara sekian banyak peristiwa mengerikan lain yang aku alami. Karena begitu, tak ada peristiwa yang lebih mengerikan dibanding ruangan sirine ambulan yang membawa jasad penuh luka ibu, disertai mendung kelabu yang mengaburkan warna senja sesungguhnya.

Tiba-tiba saja, suara knop pintu melemparkanku ke dunia nyata dari bayangan panjang masa lalu. Malam masih pagi, dan suara gemuruh langit tak pernah mau berkompromi lagi sejak dadaku naik turun ketakutan.

“Jika sudah begini, ia selalu sembunyi..” Suara lemah nenek terdengar mendekat. Aku yang ketakutan masih bergeming.

Perlahan selimut yang menggantung dari ranjang tersibak. Memperlihatkan wajah nenek dengan perempuan asing ayu berkerudung. Senyuman ramah merekah menyapaku. Tapi aku tetap ketakutan.

“Arrrgghhh……”

“Sudah, sudah… Tenang, tenang… Tidak apa-apa… Tidak ada apa-apa… Nenek disini”

Aku memeluknya lama. Saat keadaanku mulai tenang, samar-samar kudengar nenek berbisik dengan lawan bicaranya “Saat seperti ini, saya sangat sedih dan bahagia. Sedihnya, ia selalu merasa ketakutan. Padahal ia sudah 14 tahun. Bahagianya, karena kita terasa dekat. Kalau tak ada mendung, ia hanya diam sepanjang hari, seperti tak menganggap keberadaan siapa pun. Saya ikut tersiksa melihatnya.”

Setelah mendengar itu, mataku berat dan semua menjadi gelap. Kembali membuka mata saat semua orang mengelilingi ranjangku.

“Sudah bangun rupanya anak manis… Oh ya Marissa… Oh ya Marissa, saya Zakia. Mulai sekarang.. Kita akan belajar bersama. Ok?!” Aku hanya mematung. Senyumannya sangat cantik. Kerudung pink-nya sangat pas dengan kulitnya yang putih bersih. Melihat kerudung itu, membuatku tertarik dan mau menerima uluran tangannya. Hanya bersalaman dan tidak menanggapinya lebih dari itu.

To Be >>

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.