Santri Memilih Pemimpin Jatim 2018 dengan Filosofis Jawa

oleh

Santri Memilih Pemimpin Jatim 2018 dengan Filosofis JawaSantriNow | Ditengah persaingan sengit dalam memilih calon pemimpin gubernur dan wakil gubernur Jawa Timur 2018.  Saat ini, masyarakat merindukan sosok pemimpin yang berintegritas dan bisa mengayomi rakyatnya.

Santri harus peka dalam memilih pemimpin 5 tahun ke depan di Jawa Timur. Pasalnya, jika salah pilih maka Andalah yang bakal jadi korban pemimpin terpilih nantinya.

Secara filosifi jawa, terdapat beberapa tipikal pemimpin ideal yaitu,

“Urip Iku Urup (Hidup itu Nyala), maknanya yaitu hidup harus memberi manfaat bagi orang lain disekitar, semakin besar manfaat yang bisa diberikan tentu akan lebih baik, akan tetapi sekecil apapun manfaat yang dapat diberikan, jangan sampai menjadi orang yang meresahkan masyarakat.

Maka santri harus benar-benar paham, siapa calon yang dapat dipercaya bisa memberi manfaat bagi rakyat Jawa Timur. Apakah nomor urut satu atau nomor urut dua. Silahkan santri tentukan sendiri.

“Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara”, filosofi ini menegaskan jika manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan, serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak.

Artinya santri harus memilih calon pemimpin Jatim yang bersih, yang bisa menciptakan keselamatan rakyatnya, serta kesejahteraannya. Baca: Pilgub Jatim: 4 Catatan dan Prediksi Menarik Duel Gus Ipul vs Khafifah di 2008 dan 2018

Carilah pemimpin yang bisa berantaas koruptor, bukan yang kerjasama dengan para koruptor. Karena koruptor sudah cukup akut di negeri ini.

“Suro Diro Joyoningrat, Lebur Dening Pangastuti”, artinya segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar.

Pilihlah pemimpin yang bijaksana, tegas dalam bersikap dan punya visi dan misi yang jelas. Santri zaman now tentunya sudah tahu mana pemimpin yang kometmennya dalam membangun Jawa Timur ke depan bisa dipertanggung jawabkan, tidak hanya janji-janji masnis pada saat kampanye saja.

“Ngluruk Tanpo Bolo, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpo Aji-Aji, Sugih Tanpa Bondho”, maknanya berjuang tanpa perlu membawa massa, menang tanpa merendahkan atau mempermalukan. Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan, kekayaan atau keturunan, kaya tanpa didasari kebendaan.

Carilah pemimpin yang tidak terlalu norak dalam berkampanye, calon yang mampu membawa perdamaian. Bukan calon yang hanya pintar dalam membangun opini publik demi kepentingan kemenangan dirinya.

“Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan”, filosofi ini memiliki makna agar tidak mudah sakit hati manakala musibah menimpa diri dan jangan sedih manakala kehilangan sesuatu.

“Ojo Gumunan, Ojo Getunan, Ojo Kagetan, Ojo Aleman”, artinya jangan mudah terheran-heran, jangan mudah menyesal, jangan mudah terkejut- kejut, jangan mudah kolokan atau manja.

“Ojo Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman”, filosofi ini bermakna agar tidak terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi.

“Ojo Kuminter Mundak Keblinger, Ojo Cidra Mundak Cilaka”, filosofi ini menegaskan agar kita tidak merasa paling pandai agar tidak salah arah dan tidak berbuat curang agar terhindar dari celaka.

“Ojo Milik Barang Kang Melok, Ojo Mangro Mundak Kendo”, artinya jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah dan Jangan berfikir mendua agar tidak lemah niat serta semangat.

“Ojo Adigang, Adigung, Adiguno”, filosofi ini mengajarkan kita untuk menjaga kelakuan atau tatakrama, tidak sombong dengan kekuatan, kedudukan, ataupun latarbelakang.

Itulah filosofi kepemimpinan yang dinilai tepat dalam memilih calon pemimpin. Istilah “Manunggaling Kawulo Gusti” yang bararti bersatunya pemimpin dengan rakyatnya. Artinya hubungan pemimpin dengan rakyat adalah hubungan yang sama atau seimbang. Pemimpin membutuhkan rakyatnya, demikian pula dengan rakyat yang membutuhkan pemimpin sebagai tempat pengayoman.

Pasangan nomor urut berapa saja yang santri yakini memiliki beberapa sifat di atas, Apakah Khofifah Indar Parawansa dan Emil Dardak sebagai cagub nomor urut satu. Baca juga: Bila Khofifah Menang Kiai Jatim Tidak Boleh Marah

Apakah Syaifullah Yusuf dan Mbak Puti yang dianggap memiliki  keriteria yang sesuai dan tepat untuk menjadi calon pemimpin di Jawa Timur mendatang.

Namun demikian, masyarakat santri kembali diingatkan agar memilih berdasarkan hati nurani masing-masing dan tidak terprovokasi oleh isu-isu yang berkembang di media elektronik, cetak ataupun media sosial. []