Refleksi History Islam (Bibit Aswaja Sebagai Manhajul Fikr)

oleh -

Cara berpikir demikianlah yang disebut dengan Aswaja sebagai manhajul fikr. Kata Aswaja sendiri memang belum ada pada masa Nabi atau pun masa awal kekhalifahan yang empat. Namun orang-orang yang memiliki cara berpikir ala Aswaja telah ada pada masa itu.

Bagi kelompok Aswaja, situasi yang terjadi setelah wafat Nabi di Tsaqifah antara Abu Bakar, Umar dan beberapa tokoh sahabat yang lain adalah salah satu bentuk dari upaya ijtihad politik. Dengan demikian kelompok yang berpikir dengan prinsip Aswaja ini melihat perdebatan panjang yang terjadi mengenai siapa yang paling berhak atas kepemimpinan setelah Nabi lebih bersifat terbuka, dinamis dan toleran.

Cara berpikir di atas juga diterapkan dalam kasus arbitrase antara Ali dan Muawiyah, dan hal ini tentu berbeda dengan cara pandang kelompok Khawarij yang sangat ekstremis, kelompok Ali yang sangat sektarian dan begitu juga dengan kelompok Muawiyah.

Aswaja sebagai manhajul fikr adalah respon para sahabat atas situasi umat yang kacau pada saat itu. Tidak dapat dipungkiri bahwa kemunculan firqah-firqah (kelompok mazhab Islam) banyak dilatar belakangi oleh situasi politik umat Islam saat itu.

Konsep Aswaja oleh NU kemudian dirumuskan menjadi beberapa nilai, selain nilai kuliyah al-khamsah yang sudah diyakini sebelumnya dalam Islam secara kesuluruhan, nilai-nilai itu antara lain:
  1. Tawasuth (moderat) seorang Muslim haruslah dapat bersikap moderat tidak timpang dalam menyikapi persoalan.
  2. Tasamuh (toleran) seorang Muslim haruslah bersikap toleran dengan cara menghargai orang atau kelompok lain di luar dirinya sebagaimana ia menghargai diri dan kelompoknya sendiri
  3. Tawazun (imbang) seorang Muslim harus berimbang dan mampu menakar setiap persoalan sesuai timbangannya tidak curang dan zalim.
  4. Taaddul (adil) seorang Muslim harus mengedepankan keadilan, keadilan harus diperjuangkan dan ditegakkan dalam segala hal dan kondisi dalam melihat persoalan apapun.

Baca juga: 29 Fakta dalam Islam yang Wajib Diketahui

Penulis: Zainullah Maftuhin (Rayon Fakultas Dakwah UINSA)