Refleksi History Islam (Bibit Aswaja Sebagai Manhajul Fikr)

oleh

Refleksi History Islam (Bibit Aswaja Sebagai Manhajul Fikr)SantriNow | Belajar dari sejarah peraaban Islam mulai era Rasulullah sampai hari ini. Agama yang mayoritas pengikutnya di muka bumi ini sangat menjadi perhatian penting keberadaanya. selain banyaknya pengikut, Agama Islam juga banyak melahirkan tenaga ahli dan profesional dalam bidang tertentu.

Besarnya Agama Islam tentu tidak terjadi dengan instan, butuh perjuangan dan pengorbanan dari waktu ke waktu. Dinamika yang terjadi dalam peradaban Islam memberi warna sendiri dalam perjalanan peradaban. Termasuk perbedaan pandangan, pendapat dan pilihan di internal muslimin.

Dinamika yang hari ini terjadi perhatian khusus adalah adanya perbedaan pandangan dan pendapat sesama umat islam, hingga sampai berujung pada ancaman perpecahan dalam Islam. Namun saya rasa kejadian seperti itu adalah hal yang biasa, tinggal kita bagaimana menyikapi fenomena seperti itu.

Perbedaan itu hal yang wajar, bahkan sudah terjadi saat generasi Islam terdahulu. Seperti contohnya setelah wafatnya Nabi, para pemimpin Muslim harus menentukan bentuk umat seperti apa yang harus mereka pilih.

Sebagian mungkin tidak percaya jika harus ada “negara” dengan demikian tidak perlu satu pimpinan untuk memimpin keseluruhan suku dan kelompok pada saat itu. Sementara sebagian yang lain seperti Abu Bakar dan Umar berpendapat bahwa umat harus memiliki satu pemimpin sebagaimana pada saat Nabi. Sementara sebagian yang lainnya lagi percaya bahwa Ali bin Abi Thalib yang paling berhak atas tampuk kepemimpinan setelah Nabi.

Di Arab yang menganggap bahwa ikatan darah sangat sakral, kualitas pemimpin dipercaya akan diwariskan kepada keturunannya dan sebagian warga Muslim percaya bahwa Ali telah mewarisi sebagian kharisma khusus Muhammad.

Pada akhirnya, walaupun kesalehan Ali tidak diragukan lagi, tetapi dia masih sangat muda dan belum berpengalaman. Dengan demikian, Abu Bakar dipilih menjadi khalifah pertama Nabi melalui suara mayoritas. Meski singkat, suasana politik dan kepemimpinan terbilang cukup stabil, hingga sampai pada masa Umar dan Utsman di mana situasi politik tidak stabil, yang membuat keduanya mati dibunuh.

Hingga tiba pada masa kepemimpinan Ali sebagai Puncak dari situasi politik yang tidak stabil pada era sebelumnya.
Ali menghadapi situasi yang sulit, ia harus menghadapi kelompoknya sendiri, serta kelompok pemberontak lainnya yang tak suka dan puas dengan kepemimpinannya. Ali harus menghadapi Aisyah dalam perang Jamal. Lalu menghadapi Muawiyah dalam perang Shiffin.

Baca: Saya Punya Islam Aman dan Nyaman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.