Pilgub Jatim, Santri Memilih Ikut Kiai atau Pilihan Hati Nurani?

oleh

Pilgub Jatim, Santri Memilih Ikut Kiai atau Pilihan Hati NuraniSantriNow | Semakin hari semakin dekat pilihan Gubernur dan Wakilnya di Jawa Timur. Dua kandidat sudah sama-sama berkampanye ke sana ke mari membawa visi-misi masing-masing. Mereka sama-sama kader NU yang baik tanpa cacat. Meskipun ada, tapi tidak seberapa.

Dua kandidat itu sama-sama dari keluarga besar Nahdlatul Ulama, keduanya merupakan orang penting di Ormas Islam terbesar di Indonesia itu. Keduanya sama-sama dapat dukungan tokoh agama, mulai dari para alim ulama, para kiai di pondok pesantren, tokoh masyarakat serta aparatur pemerintah.

Mereka saling umbar janji manis, layaknya santriwan saat merayu santriwati. Mereka sama-sama membawa nama besar para kiai pendukungnya, dimana para kiai umumnya memiliki santri baik yang masih berada di pesantren maupun yang sudah jadi alumni.

Baca: Kantor Gus Ipul Bila Menang Pilgub Jatim Bukan Hanya di Surabaya

Kiai yang terlibat dalam dukung mendukung paslon (pasangan calon) tentu juga akan menyeret santri baik secara langsung atau pun tidak langsung supaya juga ikut mendukung calon yang dijagokan. Sehingga dalam hal ini santri wajib hati-hati dalam merespon apa kata kiainya.

Mari para santri sejenak membuka kitab klasik yang sudah tidak asing di pensatren yaitu  “taklim mutaallim” di sana ada penjelasan bahwa “Menghormati Lebih Baik dari pada Mengikuti” sekali lagi “Menghormati Lebih Baik dari pada Mengikuti”.

Maksud dari pesan kitab itu adalah meskipun santri tidak sependapat atau tidak mau mengikuti apa yang diperintah kiainya untuk supaya mencoblos salah satu calon yang didukung sang kiai, sebaiknya sikap santri tetap hormat, tidak boleh berontak atau membalas dengan kata atau sikap yang mencerminkan ketidak sukaan pada kiai.

Jangan sampai hanya gara-gara pasangan calon, santri dan kiainya tidak akur atau bahasa lainnya santri tidak enak hati pada kiai. Tidak boleh santri membuat hati kiai merasa tidak ridho pada sang santri. Maka dari itu santri tetap hormat meski beda dukungan.

Lain halnya kalau santri memang sudah sepakat dengan kiainya untuk mencoblos calon yang didukung sang kiai. Bahasa pesantrennya “sam’an wa thoatan” (ikut kiai).

Baca juga: Bila Khofifah Menang di Pilgub Jatim Pertanda Prabowo Bakal Menang Pilpres 2019?

Sebab itulah, mana yang harus didahulukan seorang santri, ikut kiai apa hati nurani. Maka dalam hal ini yang tahu jawabannya adalah santri sendiri, antara ikut kiai atau hati nurani. Karena yang jelas calon yang didukung kiai bukan calon sembarangan melainkan sudah melalui pertimbangan.

Namun sebaiknya santri wajib tahu siapa calon Gubernur Jatim yang layak jadi gubernur nomer satu atau dua. Lihat visi-misi mereka. Kalau perlu lihat track record-nya mana yang pantas memimpin Jawa Timur. Kalau sebelumnya dia pernah duduk di pemerintahan, semisal sebagai wakil gubernur, bagaimana kinerjanya semenjak menjabat. Atau dia pernah jadi mentri, bagaimana kinerjanya. Dari situ santri bisa tahu kapasitas mereka sebagai seorang pemimpin nantinya.

Hal itu penting karena menyangkut hajat hidup orang banyak lima tahun ke depan di Jawa Timur. Kalau sampai salah pilih maka santri juga ikut merasakan penderitaannya lima tahun ke depan dan sebaliknya. Mari pilih calon Gubernurnya sesuai hati nurani kita. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.