di , ,

Mahfud MD dan Salam Dari Madura

Mahfudh MD dan Salam Dari MaduraSantriNow | Kemarin saya dapat pesan via whatshaap dari seorang sahabat yang tinggal di Jakarta, dia sekarang sedang menempuh pendidikan Teknik Informasi di salah satu perguruan tinggi swasta. Dia mendapatkan pesan juga dari seorang teman di group whatshaap.

Dia pun mengirim pesan itu ke saya, pesan itu berisi tentang Salam Dari Madura Teruntuk Prof. Mahfudh MD yang ditulis dengan penuh ketulusan oleh M. Siryi Zamil. Curahatan hati dari seorang pemuda Sampang terangkai dalam secarik kertas di Jember pada tanggal 31 Mei 2018, tepat malam ke-15 Ramadlan 1439 H.

Seorang pemuda yang mungkin mendengar tanggapan Prof. Mahfud MD ketika memberikan komentar terhadap orang-orang yang mempersoalkan besarnya gaji di Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Dia salah satu Dewan Penasihat BPIP menerima gaji sekitar 100 jt-an.

Sehingga mungkin wajar jika banyak masyarakat yang mempertanyakan tugas dan fungsi dari BPIP dari saking besarnya gaji yang diterima. Baca juga: Ini Dia Dua Penulis NU yang Dikagumi Mahfud MD

Namun saya tidak akan memberikan penjelasan tugas dan fungsi BPIP. Tulisan ini akan lebih membahas tentang isi surat yang diberi judul Salam Dari Madura Teruntuk Prof. Mahfud MD.

Saya tidak mau jauh-jauh melihat M. Siryi Zamil dan Prof. Mahfud MD. Saya hanya ingin melihatnya dari perspektif aksi dan reaksi. Ketika ada seorang menunjukkan aksi berupa kalimat verbal, sikap, tindakan, atau pun perilaku yang cukup menyinggung maka orang yang tidak terima akan memberikan reaksi terhadap aksi orang tersebut.

Ada orang yang mengatakan, “Saya Pancasila, Saya Seratus Juta”. Empat kata yang sangat sederhana, namun ketajamannya mampu menusuk relung hati seorang Prof. Mahfudh MD. Lantas Prof. Mahfudh memberikan tanggapan terhadap pernyataan orang tersebut, “Seratus juta itu terlalu kecil . . . .”.

Reaksi yang ditunjukkan Prof. Mahfud MD juga mengakibatkan seorang pemuda Sampang memberikan reaksi dengan cara menulis surat terbuka untuknya. Dia sangat mengagumi Prof. Mahfudh, namun dia telah kecewa dan seakan-akan tidak percaya dengan apa yang telah disampaikan Prof. Mahfud MD.

Kita tidak bisa menyalahkan siapa pun dalam hal ini, karena masing-masing mempunyai alasan logis dan rasional. Prof. Mahfudh MD mengatakan gaji 100 juta terlalu kecil, mungkin karena dia membandingkannya dengan gaji dan tunjangan pejabat yang di atas dirinya.

Dia pun juga mengarahkan pistol kepada orang-orang yang gajinya di atas dirinya, dan mereka menyalahgunakan wewenang yang diamanahkan. Mungkin semua orang akan mengatakan hal yang sama, ketika sampai pada puncak emosi yang tidak bisa dibendung lagi.

Surat yang ditulis M. Siryi Zamil pun tidak bisa disalahkan, walau tak sepenuhnya benar. Saya sendiri meyakini bahwa surat itu ditulis karena dia sedikit jengkel terhadap pernyataan Prof. Mahfud MD. Dia melihat pernyataan Prof. Mahfud MD dari posisi dirinya dan lingkungan disekitarnya yang berada jauh di bawah Prof. Mahfudh MD secara jabatan dan harta.

Sehingga tidak heran jika dia berkata, “Selamat buat Prof. Mahfud MD yang telah menerima jabatan megah, sebagai bagian dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), dengan gaji sekecil Rp. 100 juta. Gaji kecil menurut Prof. Mahfud MD, tapi tidak bagi kami, rakyatmu, yang sedang bingung mencari pekerjaan, bahkan harus mengungsi ke negeri seberang”.

Diantara rentetan kalimat yang dia tulis, saya tertarik dengan pragraf ke enam. Di sana dia menyampaikan, “Jika kau menjadi anggota Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, untuk membina rakyat menjadi pancasilais, dengan gaji sedemikian tinggi, kami juga bisa mengajarkan anak-anak kami untuk mencintai Indonesia dan berpancasila tanpa mau menerima gaji sepeser pun”.

Penggalan kalimat tersebut bagi saya bukan hanya ditujukan kepada Prof. Mahfudh MD, namun juga kepada pejabat negara.

Keluarga sebagai ruang lingkup terkecil dari lingkungan sosial mengajarkan dan mendidik anggota keluarga untuk mencintai dan berpegang teguh pada empat pilar kebangsaan, seharusnya juga diberikan tanda jasa oleh negara.

Penulis: Afifi (Mahasiswa UINSA Surabaya Semester 8)

BAGAIMANA MENURUT KAMU?