Kiai Kholil Bangkalan dan Nasabnya kepada Wali Songo

oleh -

. Tarekat dan Fiqh

Kiai Kholil adalah salah satu Kiai yang belajar lebih dari satu madzhab saja. Akan tetapi, di antara madzhab-madzhab yang ada, ia lebih mendalami madzhab Syafi’i di dalam ilmu fiqh.

Pada masa kehidupan Kiai Kholil, yaitu akhir abad-19 dan awal abad-20, di daerah Jawa, khususnya Madura, sedang terjadi perdebatan antara dua gol pada saat itu. Pada awal abad ke-20, seperti telah bekerja sebelumnya, di daerah Jawa sedang terjadi penyelesaian ajaran Tarekat Naqsyabandiyah, Qadiriyah wa-Naqsyabandiyah, Naqsyabandiyah Muzhariyah dan lain-lain.

Akan tetapi, dapat dipungkiri oleh sindrom Kiai Kholil dalam tarekat, terbukti bahwa Kiai Kholil dikenal pertama kali karena kelebihannya dalam hal tarekat, dan juga memberikan dan mengisi ilmu-ilmu kanuragan kepada para pejuang.

Di sisi lain, Kiai Kholil pun Dipercaya sebagai salah satu Kiai yang dapat mengukur tarekat dan fiqh, yang kebanyakan ulama pada saat itu melihat dua hal seperti Satiikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, salah satu ulama yang notabene seangkatan dengan Kiai Kholil.

Memang, Kiai Kholil hidup di masa penyebaran tarekat jadi gencar-gencarnya, Alhasil ulama pada saat itu, memiliki dan memilki ilmu-ilmu kanuragan, dan tidak terkecuali Kiai Kholil. Namun demikian, perbedaan antara Kiai Kholil dengan banyak Kiai yang lain, bahwa Kiai Kholil tidak sampai mengharamkan atau punify sebagai syirik dan bid’ah bagi penganut tarekat. Kiai Kholil membedakan dan ganti antara keduanya (tarekat dan fiqh).

Dalam penggabungan dua hal ini, Kiai Kholil mendudukkan tarekat di bawah fiqh, ajaran-ajaran tarekat memiliki batasan-batasan diri yaitu fiqh. Selain itu, ajaran tarekat juga tidak menjadi ajaran yang tanpa ada batasannya.

Namun, yang cukup disayangkan adalah, tidak ada yang menjelaskan tentang cara atau pola-pola dalam penggabungan tarekat dan fiqh oleh Kiai Kholil tersebut.