Ibu, Aku Mencintaimu Karena Allah > Part 2

oleh

 

SantriNow | Dinginnya malam, tak mematahkan ke istiqamahannya untuk bertahajjud, bermunajad kapada-Nya. Perempuan paruh baya itu segera bergegas untuk membangunkan buah hatinya, mengajaknya di dalam ibadah yang penuh hikmat itu.

“Nak, bangun nak, yuk tahajjud”.
“Ehm… sebentar bu, Lihah masih ngantuk” (rengeknya).

“Sayang, gak baik kamu terus-terusan bermalas-malasan begini. Ayo nak, semangat yuk, ayo nak shalat… kita patut bersyukur kepada Allah nak.” Iya bu” (dengan agak malas dia pun bangun) Shalihah pun bergegas mengikuti ibunya untuk segera berwudhu. Sepintas Lihah memperhatikan ibunya.

“Ibu, apakah tidak capek ?”
“Mengapa harus capek putriku, namanya usaha harus diiringi do’a. Jadi tidak ada kata capek sayang, untuk terus beribadah, bersyukur, dan mendekatkan diri kepada Allah.”

“Baiklah bu. Semoga saja sepatut-patutnya Tuhan yang disembah, Dia selalu di dekat kita, dan kedekatannya dengan hambaNya yakin berada di hati.”

“Amin, Alhamdulillah putriku sekarang sudah pintar sekali rupanya.”
“Ah..Ibu membuat Lihah melayang saja, sudah bu, yuk dimulai saja”

Keduanya pun dengan penuh hikmat beribadah kepadaNya.