Wis, Sudah?

oleh

Sepertinya wisuda tampaknya memang menyenangkan bagi siapa pun termasuk penulis. Saat itu, seseorang merasa berada di satu ujung.

Ibarat mereka melakukan perjalanan  jauh, ia telah sampai pada tujuan mereka. Dan namanya sudah sampai tujuan, mereka merasa puas. Sepertinya wisuda memang berasal dari kata “Wis” dan “Sudah”. Yang berarti “End, Selesai! Titik”. Hmm.
 
Benarkah wisuda itu adalah sebuah tujuan perjalanan seorang pelajar? Menurut penuls, tidak! Siapapun, bisa diwisuda. Pelajar-pelajar yang gemar mencari syafaat saat ujian  pun bisa diwisuda.
Pelajar yang selama tiga tahun tidak ikut sekolah dan hanya kejar paket C, juga bisa diwisuda tanpa perlu usaha setiap hari ke sekolah. Bagi penulis, wisuda adalah simbol. Jembatan selanjutnya. Entah itu jembatan yang ke berapa. Yang terakhirkah? Entah.
Mengapa sebuah symbol? Ya, memang! Wisuda adalah symbol atas keberhasilan , bahwa kita sudah menyelesaikan apa yang kita usahakan.
Wisuda adalah sebuah pengumuman bahwa kita telah berhasil selesai dari sebuah babak pertandingan. Lantas, setelah diwisuda? Bahagiakah kita? Apakah kita bisa bersenang-senang setelah semua selesai? Nampaknya kita tidak bisa berkata dengan lantang. “Ya, Saya bisa!” 
 
Setelah wisuda, kita bahkan penulis…  Masih akan melintasi jalan selanjutnya. Yaitu untuk menentukan, bisakah kita istiqamah mengamalkan ilmu yang sudah kita wisudakan. Di situ kita memasuki babak baru. Dimana kita akan menentukan. Jalan manakah yang kita pilih. Dan jalan inilah yang menentukan. Sukseskah kita menyandang gelar telah diwisuda. Rumit amat ya?
 
Sebenarnya pentingnya wisuda adalah di sini. Yatiu syukuran atas keberhasilan kita srta guna  memotivasi yang lain agar semakin giat belajar dan segera menyelesaikan babak yang tengah ia jalani. Karena sesungguhnya, saat ia lengah sedikit saja. Waktu akan dengan cepat menggulingkan apa saja di depannya. Tanpa pernah tahu susah payah kita telah membangunnya.
 
Waktu dengan mudah membuat semua berantakan karena cepatnya berlari seperti angin. Jika kita tidak mengejarnya, ia akan lebih mengerikan. Bukan lebih mengerikan dari angin. Ia bisa menjadi lebih mengerikan dari sebilah pisau sekalipun.
 
Kesimpulannya, wisuda adalah masalah waktu. Seberapa bijakkah kita memanfaatkan waktu. Karena dengan sudahnya kita diwisuda tepat waktu, berarti kita telah meminimalisir waktu untuk menjejakkan kaki ke
jembatan selanjutnya.[] 
 
Sialahkan nilai tulisan ini