Waktu Kurang Lima Menit Sejumlah Santri Khatam Nulis Quran dengan Tangan

oleh

Waktu Kurang Lima Menit Sejumlah Santri Khatam Nulis Quran dengan TanganSantriNow | Dalam waktu kurang dari lima menit sejumlah santri mampu menghasilkan karya tulis Quran dengan tangan.

Rahmat yang merupakan salah satu peserta penulis Quran itu menyampaikan mudahnya menulis Quran dengan metode dasar (naskhi), sehingga ia mampu melakukannya kurang dari lima menit.

“Tidak begitu sulit untuk menulis Quran dengan metode naskhi. Metode ini yang paling mudah untuk menulis huruf arab,” kata Rahmat.

Agenda yang diikuti seribu kurang satu santri itu merupakan bagian kecil dari penyusunan mushaf Quran yang dilakukan di kompleks Masjid al-Aqsha atau Masjid Menara Kudus, Selasa (8/5).

Ratusan santri dari 13 pondok pesantren di Kudus. Dari jumlah sebanyak itu, 666 di antaranya merupakan santri laki-laki. Sedangkan sisanya, 333 merupakan santri perempuan. Setiap santri mendapat jatah untuk menulis Quran sekitar 11 baris. Jatah waktu setengah jam dimanfaatkan oleh santri untuk menulis Quran. Hingga akhirnya tersusunlah satu mushaf utuh Quran tulisan tangan para santri.

“Hasil tulisan para santri nanti akan dikumpulkan, setelah itu akan kami ajukan ke lembaga pentashih mushaf Quran Kemenag untuk mendapatkan pengesahan,” ujar Ketua Panitia, Muhammad Ihsan.

Tidak hanya itu, hasil duplikat Quran tulisan tangan oleh para santri nantinya juga akan dipamerkan dalam pameran di Masjid Istiqlal Jakarta pada akhir Mei mendatang.

“Jadi ini merupakan bagian dari mencatat sejarah, sekaligus mengajak santri dan masyarakat umum untuk menguduskan, memuliakan Quran,” katanya.

Ketua Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus, KH Em Najdib Hasan mengatakan, Quran sebagai kitab suci umat Islam sudah sepatutnya menjadi panduan dalam menjalani kehidupan.

Di pesantren, Quran sudah menjadi menu wajib. Hampir setiap tahun, pesantren juga menggelar khataman Quran baik menghatamkan dengan melihat maupun hafalan. Kali ini, katanya, ada yang berbeda, mengkhatamkan Quran dengan cara menuliskannya.

“Kalau menulis, kan sudah pasti membaca. Makanya dalam waktu yang bersamaan ratusan santri menulis sekalian membaca Quran dari awal sampai akhir,” katanya. []