Rene Descartes, Kejora, dan Keindahan-Nya

oleh

Rene Descartes, Kejora, dan Keindahan-NyaSantriNow | Di langit bertaburan bintang yang menyala indah. Biasanya orang yang sedang bergemuruh hatinya akan terhibur melihat cahaya bintang menghias malam, dan deraian air mata akan berganti senyuman ketika kepala didongakkan melihat secercah harapan yang datang dari langit.

Sayang, bintang hanya dapat kita saksikan keindahannya ketika siang diselimuti gelap. Keindahannya akan sirna ketika sinar matahari mengalahkan cahaya rembulan dan bintang. Banyak orang mengeluh dan menggugat Tuhan, kenapa jiwa-jiwa yang kosong hanya terhibur ketika malam hari sudah tiba?

Setiap malam pun tidak dapat dipastikan keindahan bintang bisa menyapu air mata insan yang sedang lara. Terkadang ada awan yang menghalangi cahaya bintang. Percikan cahayanya pun juga tidak tampak dari celah awan yang menggumpal.

Rene Descartes mengatakan bahwa jiwa merupakan substansi non-fisik. Kejora dalam pandangan Rene Descartes adalah bentuk fisik dari apa yang dirasakan seseorang, keindahan. Kita sering kali lupa belajar bahwa ada sesuatu yang lebih penting dari bentuk fisik.

Di sanalah Tuhan menempatkan manusia di atas makhluk-Nya yang lain. Bentuk fisik hanya dijadikan alat untuk belajar lebih memahami sesuatu yang lebih substantif. Kesubstantifan yang bisa kita tangkap dari bentuk fisik diletakkan 5 cm di depan kening, dan menjiwai setiap tindakan dalam interaksi sosial maupun ketika sedang menyendiri.

Keindahan kejora bisa dianggap sebagai sesuatu yang substansif, maka sebenarnya bukan kejoralah yang dapat membantu kita tersenyum, tapi keindahan yang berada dalam diri kejora. Sesuatu yang indah itulah yang kita genggam dan kita jadikan alat untuk membakar semangat untuk berkarya. Baca juga: Negeri Dongeng di Atas Gajah dan Kedunguan Berfikir

Kejora sendiri pun juga sangat special, diantara bintang yang menghias malam dengan cahaya keindahannya, hanya kejora yang bersinar sesaat sebelum mentari terbit menjadi pilihan terbaik menghapus luka.

Kejora pun memilih seseorang untuk menikmati keindahannya, karena keindahan yang ia miliki untuk satu atau beberapa orang yang sangat beruntung. Orang-orang beruntung adalah ia yang menyisakan sepertiga malamnya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, berfikir tentang ciptaan-Nya, dan menjiwai keindahan kejora. []

Penulis: Afifi (Mahasiswa UINSA Surabaya Semester 8)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.