Pernahkan Sewaktu Kecil Anda Disuruh Mencabuti Uban Ayah? Ini Hukumnya

oleh -

Melihat fenomena ini maka Nabi Muhammad melarang praktik mencabut rambut uban ini.( al-Mudzhiri,2012:51-52). Kemakruhan mencabut uban dapat dikategorikan sebagai kemakruhan yang bersifat ta’abbudi dalam artian kita sebagai pihak yang dikenakan taklif tidak dapat menemukan logika hikmah di baliknya.

Dengan demikian maka pemahaman hadis ini pun tidak dapat berubah mengikuti konteks zaman. Pernyataan ini semakin dikuatkan oleh keberadaan illat di dalam hadis ini yang secara tersurat telah dikatakan sendiri oleh Nabi Muhammad yakni bahwa uban akan menjadi cahaya bagi pemiliknya yang seorang muslim pada harikiamat.

Sedangkan illat hasil ijtihad ulama menyatakan bahwa mencabut uban merupakan bentuk perubahan kodrat penciptaan. (Ali bin Sulthan,2002:2830)

Pernahkan Sewaktu Kecil Anda Disuruh Mencabuti Uban Ayah? Ini HukumnyaAdapun jika muncul pertanyaan kenapa mencabutnya dianggap merubah kodrat penciptaan sedangkan mewarnai nya justru dijelaskan kebolehan nya oleh Nabi Muhammad?.

Hal ini dapat dijawab dengan pernyataan bahwa mewarnai rambut bukanlah sebagai bentuk perubahan kodrat bentuk penciptaan karena perubahan yang ada hanyalah yang Nampak dari luar, sedangkan rambut uban-nya sendiri masih ada. Berbeda halnya dengan mencabutnya yang menghilangkan secara mutlak. ( al-Lawali,2003:52)

Berkaitan dengan mewarnai rambut uban, ulama juga menemukan alasan-alasan disyariatkannya hal ini yakni antara lain untuk membedakan diri dengan umat Yahudi dan Nashrani sekaligus sebagai identitas, yang kedua adalah sebagai langkah sisasat untuk memberikan kesan tidak lemah di hadapan musuh, karena jika dibiarkan terlihat warna asli rambut uban maka musuh akan menganggap mereka telah menua dan berkurang kebugaran jasmaninya. (Ali bin Sulthan,2002:2830)

Jadi dapat disinpulkan bahwa hadis mengenai kemakruhan mencabut uban mempunyai pemahaman yang stagnan dan konsisten sama seperti original meaningnya. Sehingga pemahamannya pun akan sama pada setiap zaman yakni dilarang secara makruh saja untuk mencabut uban namun dibolehkan mewarnai nya.

Daftar Pustaka

al-Mudzhiri, Al-Husain bin Mahmud. 2012. al-Mafatih fi Syarh al-Mashabih. Kuwait: Dar al-Nawadir, 2012.
al-‘Asqalani, Abu al-Fadl. 1379 H.Fath al-Bari SyarhShahih al-Bukhari. Beirut: Dar al-Ma’rifah.
Muhammad, Ali bin, Sulthan. 2002. Mirqah al-MafatihSyarhMisykah al-Mashabih. Beirut: Dar al-Fikr.
Sulaiman bin al-Asy’ats, Abu Dawud. Tanpa tahun. Sunan Abi Dawud. Beirut: al-Maktabah al-‘Ashriyah.

Penulis: Mohamad Abdul Hanif (Mahasiswa UINSUKA Yogja)