Peran Pesantren dalam Mencegah Penyebaran Ekstremisme Islam

oleh -

Di luar fungsinya sebagai tempat pendidikan, pesantren memiliki hubungan dengan komunitas sebagai sebuah institusi. Sebagian karena layanan pendidikan yang diberikannya, pesantren dipandang sebagai institusi permanen yang akan selalu melindungi anak-anak di masyarakat.

Selain perannya sebagai pendidik, pesantren juga merupakan tempat di mana ide-ide diproduksi dan disebarluaskan. Melalui peran ini, pesantren memainkan peran integral dalam perkembangan masyarakat sipil Islam Indonesia.

Mahasiswa dan pemimpin pesantren sering diharapkan untuk memberikan pengajaran agama dan melakukan pelayanan keagamaan untuk komunitas mereka.

“Pada hari-hari Hindu-Buddha di Jawa,” tulis VS Naipul, “pesantren adalah biara, didukung oleh komunitas sebagai imbalan atas bimbingan spiritual dan perlindungan spiritual yang diberikannya.” Dalam banyak hal peran ini bertahan hari ini.

Peran Pesantren dalam Mencegah Penyebaran Ekstremisme IslamSebagai contoh, pemimpin Pesantren Ibnul Amin Pamangkin di Kalimantan Selatan mengadakan diskusi agama ( majlis taklim ) untuk masyarakat setempat setiap hari pada pukul 06:00 kecuali Jumat dan wakil ketua mengadakan diskusi lain pada waktu makan siang. Sejak 2007, pesantren juga menyiarkan diskusi-diskusi ini di radio lokal.

Melalui ceramah agama untuk umum, pesantren dan lulusannya mampu mentransmisikan sistem kepercayaan mereka dan interpretasi Al-Qur’an kepada masyarakat luas. Pesantren di tingkat lokal juga menelurkan organisasi yang mempromosikan interpretasi mereka terhadap doktrin agama dan menyediakan pekerjaan amal.

Sekali lagi, sebuah contoh dari Kalimantan Selatan adalah ilustratif. Ibnul Amin Pamangkih Pesantren memiliki Organisasi Ibnul Amin Santri (OSIP) yang menyelenggarakan perayaan hari raya Islam dan Darul Hijrah Cindai Alus Pesantren memiliki Organisasi Darul Hijraj Santri (OSDA) yang melakukan pemakaman bagi masyarakat.

Pesantren menerima dukungan keuangan dari pemerintah daerah untuk melakukan ritual keagamaan, memberikan pendidikan agama untuk masyarakat umum, dan merayakan hari libur Islam. Dalam banyak kasus, pemerintah daerah meminta pesantren untuk menjalankan fungsi keagamaan ini.

Akan sangat beralasan bahwa pemerintah daerah tidak akan menginginkan pesantren yang mereka sumbangkan untuk menyebarkan ekstremisme kekerasan di masyarakat. Bagaimanapun, pemerintah daerahlah yang harus menghadapi akibat dari kekerasan bila mana hal itu terjadi.

Ikatan Pesantren dengan Pemerintah

Peran Pesantren dalam Mencegah Penyebaran Ekstremisme IslamSecara umum, sistem pesantren secara keseluruhan, serta banyak pesantren secara individu, memelihara hubungan yang erat dengan pemerintah. Hubungan dengan pemerintah itu tanpa syarat. Artinya, apakah suatu pesantren tertentu menerima dana pemerintah sebagai ganti pengajaran kurikulum pemerintah atau tidak.

Pesantren individual adalah bagian dari infrastruktur keagamaan yang dalam banyak hal dirancang untuk menjaga status quo. Salah satu manifestasi dari infrastruktur ini adalah hubungan antara pemimpin pesantren dan Nahdlatul Ulama (NU), organisasi sukarela swasta terbesar di dunia, dan pemerintah.

Para pemimpin pesantren merupakan salah satu konstituen inti NU. Tidak akan berlebihan untuk mengatakan bahwa NU lahir di pesantren. Saat ini, NU dapat dianggap sebagai asosiasi para pemimpin pesantren yang fleksibel.

Dalam arti itu, NU dalam banyak hal berfungsi sebagai kelompok advokasi untuk asosiasi para pemimpin pesantren yang diwakilinya. Misalnya, NU bekerja sama dengan pemerintah untuk mengembangkan prospek pekerjaan bagi lulusan pesantren.

Setidaknya sejak akhir dasawarsa 1950-an, NU telah menerima ideologi negara yang multi-konfensional, yang dikenal dengan asas tunggal PANCASILA, sebagai bentuk dukungan untuk program pendidikan dan sosial NU.