Masalah Dalam Perspektif Positif

oleh

berpikir positif, santrinow.comSantriNow | Manusia bukan hanya makhluk individualis, tapi ia juga makhluk sosial. Keberadaannya di muka bumi tidak bisa dilepaskan dari pengaruh orang-orang yang ada di sekitarnya. Adanya hubungan antar manusia dengan manusia lainnya menandakan kebutuhan satu sama lainnya. Saling membutuhkan, memaksa mereka untuk membantu meringankan beban.

Tiada satu pun diantara mereka yang dalam hidupnya terbebas dari masalah. Kita bisa melihat orang-orang di sekitar, diantara mereka pasti ada yang menunjukkan masalah yang sedang dihadapi.

Misalkan, ada dua anak muda yang sedang berantem hanya karena melihat kekasihnya jalan dengan laki-laki lain, ada orang yang marah-marah kepada orang yang membuang sampah sembarangan dan masih banyak lagi masalah sosial lainnya. Baca: Cara Megajarkan Prilaku Anak Positif Gunakan HP Pintar

Setiap orang yang bernyawa tidak bisa dilepaskan dari masalah, karena ia bagian dari hidup. Pengetahuan, sikap, dan perilaku seseorang ketika dihadapkan kepada masalah berbeda-beda. Hal itu dipengaruhi oleh kedewasaan dalam melihat masalah yang sedang dihadapi.

Ada orang yang memberikan respon keras terhadap masalah, dan ada pula yang memberikan respon lembut ketika masalah datang dalam hidupnya. Perbedaan cara menyikapi masalah adalah sesuatu yang wajar dan sebuah keniscayaan dalam hidup. Baca juga: Kiat Membentuk Pikiran Positif Dalam 1 detik

Jika semua orang menghadapinya dengan memberikan respon keras maka mungkin tidak akan ada orang yang hidup. Begitu pula sebaliknya, jika semua orang bersikap lemah-lembut terhadap masalah, maka mungkin tidak berlebihan jika kita anggap bahwa masalah pun tiada.

Terlepas dari bagaimana cara orang menyikapi berbagai masalah dalam hidupnya. Kita harus memulai dasar membangun kedewasaan berpikir dan bersikap dalam menghadapi masalah. Kita bisa memulainya dengan mendefinikan masalah terlebih dahulu. Pemahaman kita nanti akan membentuk gagasan dan cara bersikap dalam menghadapi persoalan.

Kita kan bisa saja menganggap bahwa masalah adalah suatu rangsangan yang mengantarkan pada kualitas diri. Misalkan, kita tidak mau dicaci, maka lihatlah diri kita sendiri apa yang salah dan perbaikilah itu. Ucapkan terimakasih kepada orang yang mencaci kita atas perhatiannya, karena kita bisa memperbaiki diri menjadi pribadi lebih baik.

Penulis: Afifi (Mahasiswa UINSA Surabaya Semester 8)