Mas Ahong, Izinkan Aku Menitipkan Doa Kepadamu

oleh
Mas Ahong, Izinkan Aku Menitipkan Doa Kepadamu
Gambar: editing

SantriNow | Saya kemarin malam (05/05) ngopi sampai pagi di Warung Kopi Sederhana daerah Trenggilis bersama seorang teman yang biasa dipanggil Mas Ahong. Dia seorang mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya yang berasal dari Padang Sumatera. Mata sipitnya yang membuat dia dipanggil dengan sebutan Mas Ahong, mirip ras china.

Jam 19.00 WIB kami sampai di sana dengan mengendarai Motor Satria 150 CC. Ketika motor berada di samping Warung Kopi Sederhana, Mas Ahong langsung turun walau suara mesin motor masih terdengar. Dia langsung memesan Nasi Krengsengan yang berada tepat di depan warung kopi. Cacing di perutnya sudah tidak bisa diajak kompromi untuk menunggu pesanan datang menghampirinya.

Dia langsung duduk di samping saya, dan langsung memesan joshoa dengan kode GPL, artinya dia mau Gak Pakek Lama. Dia langsung menanyakan password wifi yang ada di sana, dan langsung membuka media sosial, mulai dari whatshaap sampai ke instagram. Baca juga: Intan, Gadis yang Introvert

Minuman yang ia pesan kurang dari satu menit sudah ada di hadapannya, dan makannya datang enam menit kemudia. Dia menawarkan saya untuk makan bersamanya, dan dia pun meminta kepada saya memesan Mie Goreng, Nasi Goreng, atau Nasi Krengsengan seperti yang ia pesan.

Saya yang masih kenyang hanya membalas permintaannya dengan senyuman, bukan berarti saya tidak mengindahkan permintaannya. Setelah satu jam berlalu, saya merasa kayaknya Nasi Krengseng cukup menggoda untuk memanjakan lidah saya pada malam itu. Namun apa mau dikata orang yang jualan bilang, “maaf Mas, Nasi Krengsengannya sudah habis”.

Saya kembali dengan wajah lesu, Mas Ahong tanpa basa-basi bertanya, “gimana udah pesan ta?” Saya hanya menjawab, “nasinya sudah habis habis katanya Mas”. Dengan senyum kerahamannya dia langsung bilang pesan Nasi Goreng atau Mie Goreng aja. Tapi hal itu saya tangapi dengan anggukan saja, karena kedua makanan itu tidak sedang saya inginkan.

Dari itu, saya berfikir apakah memang keadaanlah yang mendukung untuk saya menolak kebaikan dari seorang teman yang baik hatinya, atau memang karena keegoisan saya yang tidak mengindahkan permintaan dari Mas Ahong?

Dia seorang teman yang baik dan rendah hati, 2 x 24 jam saya numpang tidur dan numpang mandi di kosannya. Jika saya diizinkan saya hanya ingin meminta doa darinya untuk kebaikan semua orang yang ada di samping saya, kenapa?

Karena saya rasa kelembutan hatinya dan tatapan ikhlasnyalah yang membuat saya harus meminta itu. []

Penulis: Afifi (Mahasiswa UINSA Surabaya Semester 8)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.