Gubuk & Buku Tuhan Tidak Perlu Dibela

oleh

Gubuk & Buku Tuhan Tidak Perlu DibelaSantriNow | Sebuah gubuk kecil berukuran kira-kira 12 x 5 m2 di sudut kota terlihat sangat sederhana. Biliknya terbuat dari anyaman bambu yang dibentuk sedemikian rupa, sehingga cukup memanjang pandangan. Lantainya beralaskan anyaman daun kelapa, siapapun yang singgah akan merasakan kehangatannya.

Di setiap sudut ruang tamunya terdapat ventilasi udara. Angin keluar masuk dengan bebas, ruangan terasa lebih segar dan nyaman dengan berbagai hiasan yang menempel di dinding, mulai dari lukisan tokoh nasional sampai petani yang sedang memegang cangkul.

Gubuk itu dihuni orang-orang perantauan, mulai dari Madura sampai Banyuangi. Mereka menjalani kehidupan di kota dengan penuh kebersamaan, susah-senang dan lapar-kenyang dilalui dengan penuh senyum. Bukan hanya itu, ternyata dalam gubuk itu ada lemari yang menyimpan buku-buku, ada pendidikan, sastra, novel sampai teori sosial dan filsafat semuanya tertata rapi.

Pada Suatu malam pemuda dari Madura pernah singgah di gubuk itu. Pemuda itu disambut dua orang laki-laki yang berasal dari koa berbeda, Banyuangi dan Lamongan. Pemuda dipersilahkan duduk dan dibuatkan segelas kopi. Sungguh cara menghargai tamu yang ramah dan penuh kehangatan, sehangat kopi yang akan segara diseruput.

Kedua laki-laki itu melanjutkan kegiatannya yang sempat terhenti karena pemuda yang datang bertandang. Mereka rupanya sedang mendiskusikan buku yang sedang dibaca. Buku itu berjudul Tuhan Tidak Perlu Dibela yang ditulis KH. Abdurrahman Wahid. Salah satu diantara mereka sedang menyampaikan bagian ke-16 dari buku itu yang ternyata tepat pada pembahasan Tuhan Tak Perlu Dibela.

Seorang X belajar beberapa tahun di luar negeri tanpa ada orang muslim, pulang ke tanah airnya yang mayoritas beragama islam. Ia pun menemukan fenomena yang berbeda. Ia selalu menemukan ekspresi kemarahan orang islam, mulai dari mimbar masjid sampai ke jalan-jalan banyak orang-orang yang meneriakkan jihad dengan cara mengangkat senjata. Baca: 29 Fakta dalam Islam yang Wajib Diketahui

Gelar doctor yang dibawanya dari luar negeri tidak mampu menjawab fenomena yang ditemuinya. Dirinya mampu menjelaskan secara ilmiah, namun belum puas terhadap jawaban-jawabannya. Akhirnya, dia pergi ke kiai-kiai, mulai dari kiai yang ahli dalam bidang fiqh sampai kiai yang dianggap paling moderat ternyata belum membuatnya puas akan rasa penasarannya.

Akhirnya dia menemui seorang mursyid thariqah. Tak disangka, jawabannya ternyata sangat sederhana, di luar dugaan X. “Allah itu Maha Besar, karena Ia ada. Apapun yang diperbuat atas diri-Nya, sama sekali tidak ada pengaruhnya atas wujud-Nya dan atas kekuasaan-Nya.

Al-Hujwiri berkata, bila engkau menganggap Allah ada hanya karena engkau merumuskannya, hakikatnya engkau sudah menjadi kafir. Allah tidak perlu disesali kalau “Ia menyulitkan” kita. Juga tidak perlu dibela kalau orang menyerang hakikatnya. Yang ditakuti berubah adalah persepsi manusia atas hakikat Allah, dengan kemungkinan kesulitan yang diakibatkannya. Baca juga: Islam Toleran Sebagai Corak Muslim Arab Masa Depan

Allah tetap ada dengan atau tanpa pengakuan manusia. Perbuatan baik maupun buruk manusia tidak akan mempengaruhi dzat Allah. Gagasan tentang-Nya yang masuk ke dalam pikiran kita tiada lain suatu cara demi mengenal-Nya, bukan berarti Dia sama seperti apa yang ditulis, apa yang dibaca, dan apa yang pikirkan. []

Penulis: Afifi (Mahasiswa UINSA Surabaya Semester 8)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.